• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Indonesia Negara yang “Kurang Baik”

fusilat by fusilat
July 8, 2022
in Feature
0
Indonesia Negara yang “Kurang Baik”

Karena pandemi Covid-19, ekonomi 60 negara terancam ambruk.(Unsplash/Kyle Glenn)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Herry Darwanto | Pemerhati Sosial

INDONESIA ternyata negara yang “kurang baik”. Good Country Index 2022 menempatkan Indonesia pada urutan ke-83 dari 169 negara yang disurvei. Good Country Index/GCI (https://www.goodcountry.org/) atau Indeks Kebaikan Negara mengukur seberapa besar kontribusi suatu negara terhadap hal-hal pokok yang memengaruhi kemanusiaan dan lingkungannya. Semakin besar kontribusi suatu negara terhadap dunia, semakin “baik” negara itu.

“Baik” di sini bukan lawan dari “buruk”, melainkan lawan dari “selfish” atau egois. Dengan kata lain, semakin “baik” peringkat GCI suatu negara, semakin “berjiwa sosial” negara itu terhadap kemanusiaan dan terhadap lingkungan (alam). Menurut penggagas GCI Simon Anholt (diplomaticourier.com, 29/03/2022), penyusunan indeks ini tidak untuk mempermalukan suatu negara, melainkan untuk menunjukkan seberapa besar peran negara itu terhadap kemanusiaan dan lingkungan dibandingkan dengan negara-negara lain.

Data

Ada 35 indikator yang digunakan untuk menyusun GCI, yang dikelompokkan dalam tujuh kategori kontribusi global, yaitu:

  1. Ilmu pengetahuan dan teknologi/iptek (science & technology)
  2. Kebudayaan (culture)
  3. Perdamaian dunia (international peace and security)
  4. Ketertiban dunia (world order)
  5. Lingkungan hidup (planet and climate)
  6. Kekayaan dan kemerataan (prosperity & equality)
  7. Kesehatan dan kesejahteraan (health & wellbeing).

Untuk setiap kategori ditentukan lima indikator untuk mengukur nilai kategori. Setiap indikator memiliki bobot yang sama dalam menentukan skor kategori, dan bobot setiap kategori dalam skor akhir (GCI) juga sama. Kategori iptek diukur dari jumlah mahasiswa asing yang ada di negara itu, ekspor majalah, jurnal ilmiah dan surat kabar; jumlah artikel ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional, jumlah penerima hadiah Nobel, dan jumlah paten internasional.

Kategori kebudayaan diukur dari jumlah acara internasional yang diselenggarakan, ekspor barang dan jasa budaya, tunggakan iuran untuk UNESCO, jumlah negara yang dapat dimasuki warga negara tanpa visa, dan tingkat kebebasan pers. Kategori perdamaian dunia diukur dari jumlah pasukan penjaga perdamaian PBB, tunggakan iuran untuk misi penjaga perdamaian PBB, jumlah korban akibat kekerasan terorganisir internasional, ekspor senjata dan amunisi, dan skor indeks keamanan siber. Kategori ketertiban dunia diukur dari persentase penduduk yang memberikan amal menurut Charities Aid Foundation, jumlah pengungsi asing, jumlah pengungsi di negara lain, angka kelahiran penduduk, jumlah perjanjian PBB yang ditandatangani. Kategori lingkungan diukur dari banyaknya jejak ekologis (emisi CO2), persentase kepatuhan terhadap perjanjian lingkungan, ekspor pestisida berbahaya, porsi energi terbarukan dalam bauran energi, dan konsumsi bahan perusak ozon.

Kategori kekayaan dan kemerataan diukur dari nilai perdagangan luar negeri, jumlah relawan PBB ke luar negeri, nilai pencucian uang dan pendanaan teroris, aliran keluar penanaman modal asing (PMA), kontribusi kerjasama pembangunan. Kategori kesehatan dan kesejahteraan diukur dari dana bantuan pangan PBB, ekspor obat-obatan, sumbangan untuk organisasi kesehatan dunia (WHO), bantuan untuk pengungsi, kepatuhan terhadap peraturan kesehatan internasional. Data dihimpun dari lembaga-lembaga di bawah PBB, Bank Dunia dan organisasi non-pemerintah. Karena suatu negara berbeda dengan negara lain dalam hal kemajuan ekonominya, sedangkan kemajuan ekonomi memungkinkan suatu negara berbuat “lebih baik” daripada negara lain yang ekonominya kurang maju, maka besar ekonomi suatu negara (diukur dengan produk domestik bruto/PDB) ikut diperhitungkan. Nilai dari beberapa indikator dibagi dengan PDB terlebih dahulu untuk menghilangkan faktor kemajuan negara. GCI 2022 adalah publikasi kelima (versi 1.5), sejak edisi 2014 (versi 1.1).

Peringkat Indonesia

Indonesia ternyata bukan negara yang “cukup baik” dalam penilaian GCI. Peringkat Indonesia dalam GCI 2022 adalah ke-83 dari 169 negara, atau berada di urutan tengah. Peringkat Indonesia ini mengalami penurunan dari posisi tahun 2014 saat GCI pertama kali dipublikasikan, yaitu ke-82 dari 163 negara. Indonesia menempati peringkat sangat rendah dalam kategori iptek (ke-161) dan kategori lingkungan (ke-112). Sedangkan peringkat tertinggi Indonesia adalah dalam kategori perdamaian dunia (ke-45). Di antara negara-negara ASEAN, Singapura adalah negara “paling baik” (ke-25), disusul Malaysia (ke-48) dan Thailand (ke-56). Sedangkan Filipina (ke-87) dan Vietnam (ke-120) “kurang baik” dibandingkan Indonesia.

Dengan negara-negara berpenduduk banyak, tingkat “kebaikan” Indonesia juga lebih rendah: India (ke-52), China (ke-69) dan Brasil (ke-62). Dapat diduga bahwa negara-negara “paling baik” di dunia adalah negara-negara Eropa/Barat, dengan tiga negara “terbaik” adalah Swedia, Denmark, dan Jerman. Negara super power Amerika Serikat berada di posisi ke-46, jauh dari kelompok negara “terbaik” karena kategori perdamaian dunia mendapat nilai yang rendah (ke-127). Adapun Rusia, yang sedang gencar memerangi negara tetangganya, berada pada urutan ke-54, masih lebih “baik” dari 100-an negara lain. Sedangkan Ukraina berada pada urutan ke-57. Ukraina adalah negara “terbaik” dunia dalam hal kontribusi untuk iptek pada FCI 2022.

Menjadi lebih baik

Kita tentu ingin Indonesia menjadi negara “yang baik”, yang peduli dan terlibat aktif dalam meringankan masalah global yang dihadapi umat manusia dan lingkungan hidupnya. Peringkat Indonesia dalam GCI 2022 yang sedang-sedang saja itu tentu bukan keinginan kita. Kita tidak perlu mempertanyakan ketepatan indikator dan metoda perhitungan GCI. Kita tidak perlu gusar mengapa Indonesia dengan jumlah penduduk 275 juta orang dibandingkan dengan Singapura yang berpenduduk 6 juta orang. Kita juga tidak perlu risau, mengapa Indonesia yang anggota G-20 “kalah baik” dari Siprus (ke-16), padahal kita sudah cukup berbuat banyak dalam hampir semua kategori, termasuk kebudayaan kita yang diterima baik dunia, atau kemampuan kita sejauh ini dalam mengendalikan pandemi Covid-19.

Kita juga perlu memaklumi bahwa beberapa dari ke-35 indikator pembentuk GCI, Indonesia mendapat angka rendah, bukan karena secara absolut nilainya kecil, namun karena harus dibagi dengan angka PDB Indonesia yang besar, sehingga skornya menjadi kecil. Bagaimanapun, GCI dapat bermanfaat bagi kita untuk mendorong kita bekerja lebih keras lagi untuk mencapai hasil yang lebih baik dari apa yang sudah kita capai saat ini. Jangan sampai kita bekerja keras dan mengeluarkan dana banyak, namun hasilnya tidak signifikan. Jangan sampai kita mengutamakan suatu hal yang penting bagi kita, tetapi mengabaikan hal lain yang penting bagi dunia. Kita perlu bekerja lebih keras, lebih cerdas dan lebih terukur. Dunia mengamati hasil karya kita. Bukan hanya wacana dan rencana, namun juga bukti yang konkret bahwa kita ikut membuat dunia menjadi lebih baik.

Herry Darwanto | Pemerhati Sosial | Pemerhati masalah sosial. Bekerja sebagai pegawai negeri sipil sejak 1986 hingga 2016.

Dikutip dari Kompas.com, Jumat 08 Juli 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengenal Shinzo Abe, Jabat PM Paling Lama

Next Post

Memenas! Menlu Rusia Walk Out di Forum G20

fusilat

fusilat

Related Posts

Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika
Economy

Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

April 27, 2026
Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus
Feature

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS
Feature

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026
Next Post
Memenas! Menlu Rusia Walk Out di Forum G20

Memenas! Menlu Rusia Walk Out di Forum G20

Risiko Glorifikasi Misi Perdamaian Jokowi

Risiko Glorifikasi Misi Perdamaian Jokowi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan
Crime

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

by fusilat
April 27, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Suharyono alias Dobrak (42), yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas, kini menyandang status tersangka berdasarkan Surat Ketetapan Tersangka...

Read more
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

April 27, 2026
Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

Merawat Akar di Tanah Rantau: Halal Bihalal IKM Pare yang Tak Pernah Putus

April 27, 2026
PBNU: SKANDAL POLITIK – DARI INFILTRASI ZIONIS HINGGA ALIRAN DANA HARAM, MARWAH NU TERGERUS

Jaga NU dari Para Penghamba Kekuasaan

April 27, 2026
Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

Ketika Tembakan Membungkam Retorika: Ironi Trump dan Pers

April 27, 2026
Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

Syarat Dosen Lebih Tinggi dari Presiden/Wapres: Paradoks yang Dibiarkan

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist