Fusilatnews – Negeri ini tak sedang berdiri. Ia pincang, batuk-batuk oleh polusi kebohongan, menggigil dalam demam kekuasaan yang korup. Jika ini tubuh, maka ia tak lagi demam biasa. Ini kanker stadium akhir—dan kita adalah sel-sel yang sedang saling bertanya: masihkah ada harapan untuk sembuh?
Delapan dekade merdeka, tapi kemerdekaan rakyat masih digadai. Yang menjajah bukan datang dari seberang, melainkan dari dalam: dari kantor-kantor pemerintahan yang disulap menjadi ladang konspirasi. Dari senyum palsu para elite yang tangannya sibuk mencuri masa depan rakyat. Dari pejabat yang bukan lagi pelayan, tapi pemangsa.
Korupsi, judi online, narkoba, kekerasan, LGBT yang dijadikan komoditas politik, proyek-proyek raksasa yang menggusur rakyat kecil, dan hukum yang hanya tajam ke bawah—semuanya menciptakan lanskap suram sebuah bangsa yang kehilangan arah dan malu untuk mengakuinya.
Negeri ini telah merdeka 80 tahun, namun kita sering merasa seperti sedang dijajah oleh bangsa sendiri. Penjajahnya bukan datang dari pelabuhan, bukan dengan senapan atau armada kapal perang, tapi dari ruang rapat elite, dari meja-meja kekuasaan yang memproduksi kebijakan sewenang-wenang, dari para pejabat yang dengan wajah senyum di TV menyembunyikan rakus di balik jas mahalnya.
Korupsi bukan lagi kejadian, ia sudah jadi atmosfer. Judi online, narkotika, kekerasan, proyek serakah, dan penggusuran rakyat kecil atas nama “pembangunan nasional”—semuanya adalah noda yang terus dibiarkan menodai wajah bangsa. Goenawan Mohamad pernah menulis, “Dalam kekuasaan yang membusuk, hukum hanya berlaku sebagai rias wajah. Ia tak mencerminkan keadilan, ia cuma topeng.” Dan kini, topeng itu sudah lusuh, terbuka. Kita tahu di baliknya hanya ada kerakusan dan ketakutan.
Apa yang salah?
Jika negara adalah alat, maka siapa pemegangnya? Jika kekuasaan adalah amanat, maka kepada siapa ia dipertanggungjawabkan? Jean-Jacques Rousseau mengatakan dalam The Social Contract, “Manusia dilahirkan merdeka, tetapi di mana-mana ia dibelenggu.” Hari ini, belenggu itu bukan dari bangsa asing, tetapi dari sesama anak bangsa yang tak lagi malu merampas.
Kita tak sedang kekurangan hukum, tetapi kekurangan nurani. Kita tak sedang kehilangan Pancasila, tetapi kehilangan keberanian untuk menjadikannya hidup dalam praktik. Negara, menurut konstitusi, wajib “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,” tapi kini rakyat kerap merasa seperti penyintas di negerinya sendiri—terusir oleh proyek, dihukum karena miskin, dibungkam karena bersuara.
Apa yang bisa dilakukan?
Barangkali, seperti dalam tubuh yang sakit, satu-satunya harapan adalah regenerasi. Tapi bukan regenerasi alami, melainkan regenerasi melalui bedah besar. Sebuah revolusi. Tapi bukan revolusi berdarah, melainkan revolusi kesadaran. Revolusi nilai.
“Pemerintah yang baik adalah yang takut kepada rakyat, bukan yang ditakuti rakyat.” Kalimat lama itu kini terasa seperti dongeng. Tapi kita tak boleh berhenti berharap. Harapan, seperti kata Goenawan lagi, bukan sekadar menunggu mukjizat, tapi tindakan untuk menjaga agar hidup masih bisa diperbaiki.
Mungkin kita tak butuh 100 pejabat bersih. Mungkin cukup 1 yang sungguh takut kepada Tuhan dan setia kepada nurani. Tapi sungguh-sungguh. Sebab, kegelapan tak perlu diusir oleh matahari. Satu lilin pun cukup untuk mulai menggerus pekat.
Penutup
Mari kita akui: negara ini sedang sakit. Tapi mari juga kita imani: tak ada penyakit yang terlalu berat bagi Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan keadaan. Kita berdoa—bukan dalam keputusasaan, tapi dalam tekad. Doa yang hidup dalam tindakan. Doa yang tumbuh menjadi perlawanan. Perlawanan yang lahir dari cinta kepada bangsa, dan marah karena keadilan yang dikhianati.
Mungkin masih lama jalan menuju sembuh. Tapi mari kita mulai dari sekarang, dari kesadaran, dari hati yang gelisah namun tak menyerah. Sebab seperti kata seorang filsuf, “Di negeri yang rusak, orang yang jujur dianggap radikal. Tapi justru dari merekalah sejarah baru dimulai.”


























