• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Petani: Produsen yang Dipaksa Jadi Konsumen

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
July 12, 2025
in Economy, Feature
0
Wamentan Larang Harga Gabah Kering Panen Dibeli Dibawah HPP
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastaatmadja

“Net consumers” atau “konsumen bersih” dalam konteks ekonomi dan perdagangan internasional mengacu pada negara atau entitas yang mengonsumsi lebih banyak barang dan jasa dibandingkan yang mereka produksi. Istilah ini sering dikaitkan dengan neraca perdagangan, di mana nilai impor lebih tinggi daripada ekspor.

Dalam dimensi lain, “net consumers” bisa merujuk pada individu atau kelompok yang mengonsumsi sumber daya tanpa memberikan kontribusi setara dalam bentuk produksi atau penciptaan nilai. Maknanya bisa meluas ke ranah sosial, lingkungan, dan bahkan politik.

Namun, menjadi penting untuk mengajukan pertanyaan kritis: apakah petani—khususnya petani padi—layak disebut sebagai “net consumers”? Jawabannya: tidak sepenuhnya benar. Petani padi sejatinya adalah produsen utama pangan, bukan konsumen pasif. Mereka menanam, merawat, dan memanen padi untuk dijual atau dikonsumsi sendiri.

Akan tetapi, dalam praktiknya, petani juga harus membeli input seperti pupuk, pestisida, dan alat pertanian. Di titik ini, mereka memang menjadi bagian dari rantai konsumen. Tapi dalam konteks produksi padi, mereka tetap produsen. Meskipun begitu, ironinya, banyak petani padi justru membeli beras di pasar, terutama saat musim paceklik atau ketika stok tidak mencukupi. Di sinilah muncul paradoks: produsen pangan yang justru menjadi pembeli pangan.

Fenomena ini makin nyata setelah budaya lumbung padi mengalami kemunduran drastis. Lumbung padi, yang dulunya menjadi simbol ketahanan pangan keluarga dan komunitas petani, kini nyaris hilang dari peradaban pedesaan. Setidaknya ada lima faktor utama yang menyebabkan kepunahan fungsi lumbung padi ini:

  1. Perubahan sistem pertanian – Modernisasi membuat pertanian berorientasi pasar dan skala besar, bukan ketahanan pangan keluarga.
  2. Komodifikasi pangan – Petani memilih menjual semua hasil panennya untuk mendapatkan uang tunai segera.
  3. Kurangnya infrastruktur penyimpanan – Fasilitas penyimpanan gabah atau padi tidak memadai atau tidak tersedia.
  4. Perubahan gaya hidup – Lebih mudah membeli beras daripada menyimpan atau menggiling sendiri.
  5. Keterlibatan dalam rantai pasok global – Fokus petani kini lebih pada ekspor atau suplai pasar besar, bukan konsumsi lokal.

Maka tak heran, kita melihat petani menjual gabah murah ke tengkulak atau penggilingan, lalu membeli beras mahal di pasar. Mereka kehilangan kendali atas proses pascapanen, termasuk harga dan distribusi. Situasi ini menciptakan ketergantungan struktural, yang pada akhirnya menjerumuskan petani menjadi “net consumers” —ironis dan tragis sekaligus.

Padahal, ada jalan keluar agar petani tidak terus berada dalam posisi lemah ini. Setidaknya lima strategi dapat ditempuh:

  1. Mengolah gabah sendiri – Petani bisa menggiling gabah menjadi beras secara mandiri untuk kebutuhan rumah tangga.
  2. Mendirikan koperasi – Koperasi bisa mengelola pengolahan dan pemasaran hasil panen dengan lebih adil dan efisien.
  3. Mengembangkan usaha pengolahan – Meningkatkan nilai tambah produk dengan mengelola sendiri proses pascapanen.
  4. Meningkatkan kapasitas penyimpanan – Memiliki tempat penyimpanan gabah agar bisa menjual saat harga membaik.
  5. Diversifikasi usaha – Menambah jenis usaha pertanian atau non-pertanian agar pendapatan tidak tergantung dari satu sumber saja.

Dengan strategi-strategi tersebut, petani bisa kembali berdaulat atas pangan yang mereka hasilkan. Mereka tidak akan terjebak menjadi konsumen dalam sistem yang seharusnya menempatkan mereka sebagai produsen utama. Terlebih lagi, jika Indonesia benar-benar serius ingin menjadi lumbung pangan dunia pada 2045, maka revitalisasi lumbung padi dan kedaulatan petani harus menjadi prioritas nasional.

Jika tidak, yang akan terjadi justru sebaliknya: negeri agraris yang lapar, dan petani yang miskin dalam limpahan panen. Maka mari kita hentikan absurditas ini—dan mulai menempatkan petani bukan sebagai pengikut pasar, tetapi sebagai pilar ketahanan pangan bangsa.

(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bangunan Runtuh Tim IDF di Gaza, Banyak Korban Dilaporkan

Next Post

Indonesia: Republik yang Dirampok DiSiang Hari

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik
Feature

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak
Economy

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Next Post
Indonesia: Republik yang Dirampok DiSiang Hari

Indonesia: Republik yang Dirampok DiSiang Hari

Dalam Bayang Pemakzulan: Gibran Sedang Mencari Perlindungan

Dalam Bayang Pemakzulan: Gibran Sedang Mencari Perlindungan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...