Suatu negara tidak menjadi besar hanya karena memiliki wilayah luas, kekayaan alam melimpah, atau jumlah penduduk yang besar. Negara menjadi besar ketika pertumbuhan ekonominya mampu mengubah angka statistik menjadi kehidupan nyata: pabrik yang beroperasi, toko yang ramai, UMKM yang berkembang, dan masyarakat yang bekerja.
Indonesia hari ini sedang menghadapi sebuah pertanyaan mendasar: untuk apa pertumbuhan ekonomi dikejar? Apakah sekadar agar angka Produk Domestik Bruto (PDB) naik dan terlihat indah dalam laporan tahunan, atau agar masyarakat benar-benar memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik?
Di tengah bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia, persoalannya bukan lagi sekadar pertumbuhan, melainkan apakah pertumbuhan itu cukup besar untuk menampung jutaan orang yang setiap tahun memasuki pasar kerja.
Jika ekonomi tumbuh hanya sekitar 5 persen, negara mungkin masih terlihat stabil. Angka statistik tampak baik, inflasi terkendali, investasi bergerak, dan konsumsi rumah tangga tetap berjalan. Namun stabilitas tidak selalu berarti kemajuan. Stabilitas bisa saja hanya berarti mesin ekonomi berputar, tetapi tidak cukup cepat untuk mengangkut seluruh penumpangnya.
India pernah memahami persoalan ini. Dengan populasi yang sangat besar dan jumlah tenaga kerja baru yang terus bertambah setiap tahun, India menyadari bahwa pertumbuhan biasa-biasa saja tidak cukup. Mereka pernah menargetkan pertumbuhan hingga sekitar 9 persen karena menyadari satu kenyataan sederhana: rakyat membutuhkan pekerjaan.
Cara berpikir India cukup jelas. Ketika jumlah penduduk besar, pertumbuhan ekonomi tidak boleh sekadar mengejar pendapatan negara. Pertumbuhan harus menjadi mesin pencipta lapangan kerja.
Karena itu India mendorong pengembangan industri manufaktur, teknologi, sektor jasa, pembangunan infrastruktur, serta memperluas investasi. Mereka memahami bahwa tanpa ekspansi ekonomi yang besar, bonus demografi dapat berubah menjadi beban demografi.
Filipina juga memberikan pelajaran yang menarik. Selama bertahun-tahun negara tersebut mengandalkan konsumsi domestik dan kiriman uang tenaga kerja di luar negeri sebagai penggerak ekonomi. Pertumbuhan tetap terjadi, namun kapasitas penyerapan pekerjaan dalam negeri tidak selalu mengikuti.
Akibatnya, banyak tenaga produktif Filipina justru mencari kesempatan di luar negeri.
Pelajarannya sangat jelas: pertumbuhan ekonomi tanpa penciptaan lapangan kerja yang memadai hanya akan menghasilkan perpindahan masalah. Rakyat tetap harus mencari jalan keluar sendiri.
Indonesia tampaknya sedang berada di persimpangan yang sama.
Negara ini memiliki jumlah penduduk yang sangat besar, pasar yang luas, sumber daya alam yang melimpah, dan puluhan juta pelaku UMKM yang tersebar dari kota hingga desa. Persoalannya bukan terletak pada potensi. Persoalannya berada pada bagaimana potensi itu diubah menjadi pekerjaan.
Karena sesungguhnya UMKM bukan sekadar angka statistik. UMKM adalah denyut ekonomi rakyat.
Ketika warung bertambah ramai, ketika pengusaha kecil memperoleh modal dan akses pasar, ketika industri rumah tangga naik kelas menjadi usaha menengah, pekerjaan akan tercipta dengan sendirinya.
Begitu juga dengan industri.
Negara-negara besar tidak tumbuh hanya karena perdagangan. Mereka tumbuh karena memiliki mesin produksi yang kuat. Mereka memproduksi barang, mengolah bahan mentah, memperluas manufaktur, dan menciptakan rantai ekonomi yang panjang.
Indonesia selama ini terlalu sering menjual bahan mentah dan terlalu sedikit menjual hasil pengolahan. Akibatnya, nilai tambah banyak berpindah ke negara lain.
Padahal satu pabrik yang berdiri tidak hanya mempekerjakan pekerja di dalamnya. Ia menghidupkan transportasi, perdagangan, jasa, rumah makan, kontrakan, dan puluhan aktivitas ekonomi lain di sekitarnya.
Ekonomi pada dasarnya adalah efek berantai.
Mungkin karena itu, Indonesia perlu mulai berpikir lebih berani. Jika negara ingin menyediakan lapangan kerja yang cukup, sekadar mempertahankan pertumbuhan 5 persen mungkin tidak lagi memadai. Indonesia mungkin membutuhkan pertumbuhan 7 hingga 9 persen dengan fondasi yang jauh lebih kuat.
Tetapi angka besar saja tidak cukup.
Karena pertumbuhan 9 persen tanpa pekerjaan hanya akan menjadi kemewahan statistik.
Yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar pertumbuhan tinggi.
Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang bekerja.
Sebab bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan rakyat.
Bangsa ini hanya terlalu lama kekurangan pekerjaan.
























