Fusilatnews – Saya masih ingat dengan jelas sebuah perjalanan resmi yang membuka banyak mata. Waktu itu saya turut serta dalam rombongan Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, dalam sebuah kunjungan antarprovinsi ke Penang, Malaysia. Rombongan itu terdiri dari sejumlah pejabat penting, termasuk Panglima Kodam III/Siliwangi, serta beberapa perwakilan Kadin Jawa Barat—saya di antaranya. Tujuan utamanya diplomatik: mempererat hubungan antarwilayah, membahas potensi kerja sama, dan mempromosikan investasi. Tapi ada yang menarik, bahkan mengejutkan.
Di luar jadwal resmi, sebagian dari rombongan menyempatkan diri untuk melakukan medical check-up di rumah sakit swasta Penang. Bahkan ada yang membawa anggota keluarga sekalian. Alasannya simpel, tapi sarat makna: hasil diagnosa di Penang dianggap lebih akurat, pelayanannya lebih baik, dan teknologinya lebih canggih. Saya bertanya dalam hati: mengapa harus ke Penang hanya untuk periksa kesehatan? Bukankah di Bandung dan Jakarta tersedia rumah sakit besar dan dokter ahli?
Bertahun-tahun kemudian, saya membaca kesaksian yang membangkitkan kembali memori itu. Tantowi Yahya, mantan Duta Besar RI, berbagi pengalaman serupa. Ia melakukan general check-up di Penang dan terkejut ketika dokter di sana berkata bahwa 80 persen pasien mereka berasal dari Indonesia. Angka itu tak hanya mencengangkan, tapi juga menyedihkan.
Fenomena ini tidak terjadi di kalangan elite saja. Warga dari Aceh dan Sumatera Barat, misalnya, telah lama memilih berobat ke rumah sakit Malaysia daripada ke Jakarta. Penang dan Melaka terasa lebih dekat secara geografis, dan—yang lebih penting—lebih terpercaya secara psikologis. Bagi mereka, rumah sakit di Malaysia memberikan pelayanan yang cepat, transparan, dan lebih manusiawi. Sedangkan di Indonesia, citra rumah sakit justru sebaliknya: mahal, rumit, dan sering kali membuat pasien merasa seperti barang antrean, bukan manusia yang sedang sakit.
Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan: mengapa warga Indonesia lebih percaya rumah sakit di luar negeri ketimbang rumah sakit di negerinya sendiri?
Jawabannya ada di banyak tempat. Pertama, kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan nasional begitu rendah. Banyak orang merasa tidak aman dan tidak yakin pada diagnosis dokter lokal. Trauma akibat salah diagnosa, prosedur yang bertele-tele, hingga biaya yang tak masuk akal—semuanya memperkuat persepsi negatif.
Kedua, soal pelayanan. Di rumah sakit Penang, dokter dikenal sabar, komunikatif, dan mampu menjelaskan detail kondisi pasien dengan tenang. Pasien merasa dihargai. Bandingkan dengan layanan medis di rumah sendiri, di mana tak jarang dokter terburu-buru, enggan berdialog, bahkan terkesan mengintimidasi.
Ketiga, justru lebih ironis: biaya pengobatan di luar negeri sering kali lebih murah dan transparan. Bayangkan, untuk check-up lengkap di Penang, banyak warga Indonesia hanya perlu merogoh kocek lebih sedikit dibanding rumah sakit swasta ternama di Jakarta, bahkan setelah dihitung dengan biaya tiket dan penginapan.
Dan ini bukan fenomena kecil. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata, warga Indonesia menghabiskan sekitar Rp100 triliun setiap tahun untuk berobat ke luar negeri, terutama ke Malaysia, Singapura, dan Thailand. Seratus triliun rupiah—angka yang fantastis, dan sekaligus menyedihkan. Itu artinya, negara ini tidak hanya kehilangan kepercayaan, tetapi juga kehilangan devisa dalam jumlah besar hanya karena gagal menghadirkan layanan kesehatan yang bisa dipercaya.
Penang, bagi banyak warga Indonesia, bukan lagi destinasi wisata, melainkan rumah sakit kedua. Dan rumah sakit dalam negeri, dengan segala gembar-gembor “kelas dunia”-nya, seolah hanya jadi pelengkap penderitaan. Kita membangun fasilitas mewah, tapi gagal membangun kepercayaan.
Saya tidak sedang mengajak semua orang berhenti berobat ke luar negeri. Tapi pertanyaannya harus kita jawab bersama: sampai kapan kita rela membiarkan ratusan triliun rupiah keluar negeri setiap tahun, hanya untuk sesuatu yang seharusnya bisa kita sediakan sendiri—pelayanan kesehatan yang bermutu dan penuh empati?
Karena sehat, di negeri ini, ternyata belum tentu bisa didapat di rumah sendiri. Ironi yang menyesakkan. Sebuah potret negeri yang sakit—secara harfiah dan simbolik.


























