Ada masa-masa ketika saya berhenti di tengah jalan, bukan untuk istirahat, melainkan untuk bertanya: apa sebenarnya makna beragama? Pertanyaan yang sederhana, tapi di kepala saya bergema dengan bunyi panjang dan mengguncang. Karena semakin saya berjalan di tengah kehidupan umat, semakin terasa bahwa Islam—yang saya kenal sebagai ajaran rahman~rahim—telah menyusut menjadi kumpulan hukum, dan kehilangan denyut kasih di baliknya.
Umat terbelah oleh furū‘iyah—hal-hal kecil yang mestinya hanya cabang—namun tumbuh menjadi batang yang keras dan tajam. Dari sanalah muncul klaim-klaim: “keislamanku lebih benar daripada Islammu.” Maka lahirlah sekat-sekat bernama NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Wasliyah, dan seterusnya. Tiap sekat merasa paling dekat dengan kebenaran, walau pada akhirnya justru menjauhkan manusia dari satu sama lain.
Lebih ironis lagi, sebagian dai menukar dzikir menjadi komoditas spiritual. Ada yang menjual keajaiban, menjanjikan kekayaan lewat sedekah berjuta, bahkan mematok tarif untuk sebuah doa. Ketika dzikir menjadi transaksi, dan pahala dihitung dengan kalkulator, maka langit pun mungkin menunduk malu. Sebab rahmat yang mestinya turun dari ketulusan, kini terhalang oleh tagihan. 
Namun dalam kegalauan itu, saya menemukan sepasang manusia—yang tanpa slogan, tanpa spanduk, mendakwahkan Islam yang sesungguhnya: bukan dengan kata, melainkan dengan memberi ruang bagi hidup orang lain. Bapak dan Ibu Sukrawardi. Rumah mereka berdiri lima tingkat, tapi yang meninggi bukan bangunannya, melainkan makna yang mereka bangun di dalamnya. Ruang tamu yang cukup untuk dua ratus orang, kamar-kamar yang sejuk dan terbuka bagi siapa saja, ruang-ruang makan seperti banquet hotel, namun tanpa daftar harga.
Di sana, siapa pun—tanpa memandang suku, bangsa, atau agama—boleh datang dan tinggal. Mereka menyebut setiap tamu “anak”, dan diperlakukan sebagaimana anak kandung sendiri. Tak heran bila julukan “Mama dan Papa Seribu Anak” melekat di pundak mereka. Tapi lebih dari sekadar julukan, itu semacam penegasan bahwa ajaran Islam tak berhenti di sajadah, tak berputar di bibir, melainkan hidup di tangan yang memberi dan hati yang merangkul.
Saya kira, di rumah itu Islam sedang bertumbuh kembali: bukan dalam bentuk hukum, melainkan dalam wujud kemanusiaan. Sebuah Islam yang tak menyoal bentuk jilbab seseorang, tapi memastikan kepala siapa pun dapat bernaung dari hujan. Sebuah Islam yang tidak menimbang kadar iman dari panjang jenggot, tapi dari seberapa luas kita mau berbagi tempat di meja makan.
Barangkali, itulah dakwah yang sejati: bukan seruan dari mimbar, melainkan tindakan yang menyapa diam-diam. Dan mungkin, hanya di rumah seperti milik Bapak dan Ibu Sukrawardi, saya melihat Islam tersenyum lagi—tanpa bicara, tapi memberi makna yang jauh lebih dalam dari semua khutbah di dunia.
























