Kita masih ingat saat era Kampanye Pilpres yang lalu, bukan? Bagaimana Capres Jokowi, membangun citra diri; memperlihatkan menjadi imam sholahlah, walau bacaan fatihahnya pun balepotan. Berpakaian ala ulamalah, dengan sorban ikat kepalanya, dll. Bandingkan dengan Prabowo waktu itu. Pikiran publik pada umumnya, Prabowo itu, kejawen, sekuler, bahkan tidak mengerti soal agamanya sendiri. Sebagian malah menduga, dia itu mualaf.
Tapi apa pilihan ulama saat itu?
Di mulai dari Ijtima para ulama, dengan tidak memperdulikan siapa Prabowo, setelah sholat istiharah, mufakat mendukung Prabowo sebagai Capers 2019. Padahal ibunya Kristen. Padahal Bapaknya kejawen sekuler. Padahal dituding tdk pernah sholat jum’at. Padahal diakuinya, tidak bisa jadi Imam sholat.
Menyimak apa yg pernah disampaikan UAS, ia mengemukakakn keheranannya, ketika dimana saja dia bertemu dg ribuan jamaahnya, selalu disambut dg acungan dua jari2nya. Bahkan “ulama-ulama Khos” yg ditemuinya, telah membisikan suara bathinnya, ketelinga UAS, ” ….p r a b o w o…” yg membuat air mata kita semua, juga basah berlinang, ungkapnya.
Apa arti semua ini?
Tudingan, sebagian antek-antek pemecah bangsa, bahwa dukungan umat Islam itu, terutama kepada calon presiden yang diketahui kental keislamannya, diberi label sebagai politik identitas. Cara politis jahat yang tidak siap berdemokrasi, cara licik mengelebui opini umat, disemburkanlah berbagai macam isu fallacy dengan niat yang sama, yaitu pembusukan (decay).
Pilihan umat Islam dan ulama saat itu; Abai thd yg suka riya menjadi Imam sholat. Padahal baca fatihahpun, mahrajnya buruk. Bahkan salah. Abai terhadap keputusan memilih ulama sebagai wakilnya, karena nawaetunya bukan untuk mengangkat Al islam, tapi ingin memanfatkan suara umat Islam. Vote Getter.
Fanatisme umat Islam, tidak seperti apa yang dituduhkan mereka yang ingin terus bercokol mempertahankaan ideologi komunisme selama ini. Demi kelangsungan berbangsa dan bernegara, sosok Prabowo-pun menjadi pilihannya saat itu. Seperti kata pepatah “Tiada batang, akar-pun apa boleh buat”.
Politik identitas itu, mengemuka setelah Anies Baswedan mulai tercium sebagai Capres 24 yang selalu unggul dari berbagai polling independent. Mereka membaca, bagaimana masyarakat Jakarta memilih sosok Anies Baswedan saat itu, yang di framing telah memainkan Issue agama. Lupa bahwa Jokowi seperti yang diuraikan diatas, adalah cara lain memperoleh dukungan dai umat Islam, dengan memaikan keyakinan beragama.
Ijtima ulama saat itu yang dikecam dari berbagai elemen karena menentukan pilihan seorang sekuler, dan gerakan 411, adalah expresi dari “aamul huzn”. Tahun-tahun penuh penistaan kepada ulama dan al islam selama regime ini?.
























