• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Jelaga Demokrasi Kampus dalam Kecerdasan Rapuh

fusilat by fusilat
December 14, 2022
in Feature
0
Seni Mengoreksi Berita Bohong

Iwan Yahya/Detik

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Iwan Yahya

Jakarta – Universitas selalu berkonotasi dengan kecerdasan, ilmu pengetahuan, kekuatan inovasi dan visi tentang masa depan. Maka wajar jika metrik yang berkait dengan hal itu selalu menjadi warna dalam logika kontestasi demokrasi kampus.

Sebut saja dalam urusan pemilihan rektor. Setiap kandidat, dalam beragam gaya, menggunakan ke empat hal tersebut sebagai ramuan bercampur penanda kapasitas kepemimpinan, kearifan serta jejak kecendekiaan dalam sajian visi dan misi mereka. Tujuannya satu, impresi sosok terbaik yang tepat memimpin dan mendekatkan masa depan.

Sayangnya, perguruan tinggi kita umumnya tidak membangun mekanisme terancang cerdas yang secara kokoh menjadi jalur pertumbuhan karir manajerial seorang dosen.

Sistem yang kini ada berfokus pada definisi kecemerlangan pencapaian yang murni diwarnai indeks dalam metrik berkarya secara keilmuan. Jumlah publikasi, buku, patent, sajian inovasi dan lain-lain. Wawasan bisnis dan manajemen nyaris tak pernah terposisikan sebagai bagian penting strategi jangka panjang kaderisasi pimpinan universitas.

Keadaan itu menghadirkan ruang bagi praktek politik demokrasi kampus yang terbuka namun ditopang oleh kecerdasan relatif rapuh. Ketiadaan metrik penanda kecukupan kemampuan managerial mengakibatkan ajang kontestasi rentan terhadap susupan perspektif subyektif, nuansa kepentingan kelompok, dan bahkan dalam kasus tertentu ternilai sangat otoritarian karena menafikan moral akademik dan nilai demokrasi.

Penonjolan metrik kehebatan diri dipilih sebagai strategi yang jitu. Sangat penting karena kontestasi nir penanda kehebatan bagaikan menyibak borok sendiri. Lebih dari itu bukan tidak mungkin memunculkan spekulasi sebagai boneka dari kekuatan besar yang tak kasat mata.

Hal yang sering diabaikan adalah bahwa logika kontestasi semacam itu memiliki labirin tersebunyi. Menyimpan anak panah yang akan dilesatkan busur kebenaran dalam kongsi waktu yang telah ditakdirkan. Kelak menghujam akal budi kandidat sembari membisikkan tanya. Apakah akan setia teguh dengan moral akademik jika impian berkuasa pupus tak tergapai?

Jelaga Api Otoritarian

Professor Bambang Hidayat, anggota AIPI dan pensiunan guru besar astronomi ITB, mengutip Aristoteles dalam opininya yang diterbitkan Kompas 7 Desember 2022. Bahwa seorang yang baik tidak hanya memiliki satu kebajikan; tetapi sikap dan tindak-tanduknya adalah panduan moralitas dalam segala hal.

Tulisan itu menyiratkan asa akan wujud perguruan tinggi yang didambakan. Bahwa universitas seharusnya menegaskan serta memperkaya kemampuan berpikir kritis dan logis. Etos yang menjadi legasi dan kemudian dihormati.

Profesor Bambang Hidayat tidak sendiri dalam kegelisahan semacam itu. Ancaman akan redupnya kemilau pencerahan yang menuntun kepada matinya etos universitas juga dipersoalkan oleh Peter Fleming dalam bukunya Dark Academia: How Universities Die (Pluto Press, 2021).

Fleming berdiri pada kajian yang mengupas persoalan hasrat obsesif universitas masa kini atas metrik pengakuan yang cenderung kepada sifat dan penciri yang dipandangnya sebagai ekspresi pengaruh neoliberalisme dunia pendidikan tinggi.

Seperti ditulis The Guardian, Fleming menyiratkan keniscayaan universitas sebagai komunitas khas yang memiliki otonomi dan dipenuhi kepakaran berintegritas kuat itu kini sulit terpatri menjadi ciri keyakinan diri. Selaras dengan pandangan Professor Bambang Hidayat yang pada intinya menguji kesejatian universitas sebagai tempat berlindungnya kebebasan berekspresi dalam kebaikan menurut perspektif Aristoteles yang dikutipnya.

Lantas bagaimana fakta sesungguhnya? Operasi tangkap tangan KPK atas rektor Universitas Lampung menampar kita semua seolah membenarkan tesis Fleming. Sebuah cacat makna penanda runtuhnya etos di universitas (Yahya, detikNews 22 Agustus 2022).

Alih-alih menggambarkan karakter baik dengan moral akademik kuat, itu justru mengesankan prilaku otoritarian dalam bungkus perasaan berkuasa.

Di awal tahun lalu, 16 Januari 2021 Kompas memberitakan tentang seorang calon rektor terpilih universitas terkemuka di Sumatera Utara dijatuhi sanksi plagiat karena mengutip karyanya sendiri. Academic misconduct, apa pun ragamnya, memang tidak dapat ditolerir. Namun peristiwa itu menghembuskan aroma sikap otoritarian dalam rivalitas pemilihan rektor. Kelam dan menjadi jelaga yang merusak citra institusi.

Seperti diberitakan Kompas, diduga bahwa sanksi dari rektor yang berkuasa saat itu berkait dengan ketidakpuasan akibat kandidat yang didukungnya kalah dalam pemilihan.

Peristiwa di Unhas (2014), Unpad (2019), dan Universitas Negeri Gorontalo (2020) adalah cuplikan banyak peristiwa sejenis yang menyertakan dampak serupa. Bahwa sengkarut sengketa pemilihan rektor tak menghasilkan apa pun terkecuali menjadi penanda jejak derita tergoresnya marwah universitas itu sendiri. Sisi citra demokrasi kampus yang bertopang pada kecerdasan politik rapuh. Isyarat semacam itu terbaca pula dalam salah satu ulasan di Kolom Detik tanggal 8 Desember 2022. Inidikasi bahwa persoalan semacam itu selalu membayangi kehidupan universitas kita.

Tentu saja hal itu menghadirkan tanya. Budaya progresif apa yang hendak kita bangun di universitas kita? Jika memang visi dan misi para kandidat rektor itu adalah jabaran dharma atas nama cinta, lantas mengapa di ujung cerita harus terbelah?

Bukankah atmosfir dan kesadaran berpikir semua pihak dipenuhi suka cita dan hasrat akan dharma kala seorang kandidat menyajikan visi dan misinya? Mematut diri dalam impresi sosok penghela pencerahan dan perubahan maju berketulusan. Laksana mercu suar yang senantiasa menyala meski sehebat apa pun badai menerjang. Maka jika kemudian tiba-tiba padam karena impian kekuasaan pupus tak terpegang, publik pasti menilai bahwa panah kebenaran telah dilesatkan. Menyibak kesejatian maya yang sebelumnya tersembunyi.

Universitas tidak patut menerima derita semacam itu. Dharma sejati tercirikan oleh ketulusan dalam balutan energi yang mengawal kemurnian persembahan. Pamrih yang dibungkus pencitraan semu adalah daki yang hanya dapat dibasuh dengan beningnya akal budi. Mengalir dalam keselarasan baiknya diksi dan jalinan kinerja tertelusur. Membuncahkan keberkahan. Seperti pelangi yang mustahil ada jika spektrum cahaya hanya diisi oleh satu nilai panjang gelombang.

Pribadi bijaksana senantiasa mengerti bahwa resonansi adalah ayat semesta yang menegaskan kemajemukan. Keluhuran budaya mengajarkan definisi rasa hormat dan sikap perwira. Sebut saja makna filosofis di sebalik motif Kawung. Tuntunan pemaknaan manunggaling kawula gusti menegaskan betapa pentingnya dinamika dan keadilan yang bersifat simetris dalam tautan moral. Selarasnya sosok yang dipilih sebagai pemimpin dengan mereka yang berhidmat dan menghormati kepemimpinan terpilih. Itulah resonansi. Kebenaran dari etos kearifan akal budi itu telah teruji sahih (Yahya, detikNews 21 Maret 2022).

Dalam batas tertentu bisa saja perspektif Fleming tentang isyarat punahnya etos, moral dan legasi pencerahan universitas itu mulai terindera nyata. Nun mari percaya bahwa masih selalu ada jalan pulang terberkati bagi jiwa merdeka. Dosen, baik professor maupun bukan, akan selalu berada dalam peran seorang guru. Sahabat masa depan yang selalu harus menjawab keterpanggilan. Pun demikian universitas dapat memilin akal budi menjadi budaya terdamba seperti untai tiga kalimat bijak Ki Hajar Dewantara.

Universitas elok selalu disuburkan sebagai suar keteladanan. Komunitas yang dituju karena mengedepankan keselarasan. Dirindu karena setia mengawal ajaran moral dan kebenaran. Subur dengan kemerdekaan berpikir disertai pandangan maju yang mendekatkan masa depan. Itulah tempat terhebat di muka bumi. Rumah bagi para Pendito. Sosok berkecerdasan yang khusyuk dalam kongsi waktu. Merajut dharma menjadi etos penanda kesejatian.

Mari bersepakat bahwa kekisruhan akibat kecerdasan politik yang rapuh hanya akan melukai marwah universitas. Sepandai-pandai orang bermain api, jika pun tidak terbakar maka jelaganya pasti akan menempel di pakaian dan atau muka sendiri.

Sepanjang-panjang dharma seorang dosen kepada institusi, ada masanya ia harus dan pasti pergi. Energi setiap orang pasti terbatas tapi kejayaan universitas elok bertahan hingga masa tanpa batas.

Saya meyakini bahwa tidak ada buruknya untuk menerima peran kerlip kunang-kunang di tengah belantara. Karena sungguh tak berguna kemilau berlian segenggam di antara bintang-bintang! Semoga terpelihara dharma karena cinta. Jayalah semua universitas untuk kejayaan negeri ini. Wallahualam.

Iwan Yahya, dosen dan peneliti The Iwany Acoustics Research Group (iARG) Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Dikutip dari detik.com, Selasa 13 Desember 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

FIFPRO ‘Muak’ Dengan Laporan Hukuman Mati Pesepakbola Iran

Next Post

Sindrom Kekuasaan, dari Balai Kota ke Istana Merdeka

fusilat

fusilat

Related Posts

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Feature

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026
Economy

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
Next Post
Dendam Jokowi ke Anies, Rizal Ramli Ungkap Ini

Sindrom Kekuasaan, dari Balai Kota ke Istana Merdeka

India Melaporkan Cedera di kedua pihak Pada Bentrokan Kecil Perbatasan dengan China

India Melaporkan Cedera di kedua pihak Pada Bentrokan Kecil Perbatasan dengan China

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

by Karyudi Sutajah Putra
April 29, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Mungkin merasa terdesak oleh lawan-lawan politiknya. Setelah...

Read more
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

April 29, 2026
Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist