Fusilatnews – Di tengah derasnya arus digitalisasi, manusia modern menikmati kemudahan berkenalan tanpa tatap muka. Cukup dengan sentuhan jempol, seseorang bisa menjalin relasi lintas negara, lintas waktu, bahkan lintas logika. Sayangnya, di balik kemudahan itu, terbentang jebakan yang samar namun mematikan: love scamming.
Kasus Kani Dwi Haryani—staf media sosial Presiden Joko Widodo—adalah pelajaran telak bahwa siapa pun bisa terjerat. Bukan semata karena lemah, naif, atau bodoh. Tapi karena penipuan asmara bekerja secara sistematis: memanipulasi emosi, membelokkan logika, dan mengebiri naluri waspada.
Kani, sebagaimana banyak korban lainnya, tidak sedang digoda uang. Ia tidak membeli barang mewah, tidak bermain judi, tidak investasi bodong. Ia hanya jatuh cinta—atau setidaknya merasa dicintai. Dan dari sanalah segalanya bermula.
Modusnya nyaris selalu sama. Seorang pria mapan muncul entah dari mana. Profesi klise tapi menjanjikan: dokter misi kemanusiaan, insinyur lepas pantai, atau tentara PBB di wilayah konflik. Mereka hadir membawa perhatian, mengirim pesan rutin, mengumbar kata cinta, menyusun mimpi masa depan bersama. Korban merasa dilihat, dihargai, diinginkan.
Itulah inti dari love scamming. Bukan uang yang mereka kejar di awal, melainkan lubuk terdalam dari jiwa manusia: kebutuhan untuk merasa berarti. Pelaku membangun investasi emosi secara bertahap. Seiring waktu, ikatan semu itu terasa nyata. Maka, ketika muncul permintaan uang—alasan darurat, biaya pengiriman hadiah, atau dokumen imigrasi—korban tak lagi bertanya terlalu banyak. Mereka sudah telanjur percaya, telanjur berharap.
Bagi pelaku, ini bukan sekadar kejahatan digital. Ini seni manipulasi. Mereka membaca psikologi korban, mengatur tempo, memainkan narasi, dan tahu kapan harus menjadi lembut atau keras. Mereka bisa berpura-pura terluka saat dicurigai. Bisa menangis ketika diminta bukti. Bisa menghilang sementara, lalu kembali dengan lebih dalam—seperti candu yang menuntut dosis lebih besar.
Maka jangan buru-buru mencibir para korban. Dalam banyak kasus, mereka bukan orang-orang lugu. Mereka berpendidikan, kritis, bahkan punya jabatan tinggi. Tapi love scam tidak menyerang intelektualitas; ia menyusup lewat lorong keheningan yang tak dijaga: kesepian, kesendirian, dan keinginan dicintai.
Apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, sadari bahwa dunia maya tidak selalu mencerminkan kenyataan. Profil menawan bisa dicuri. Cerita mengharukan bisa didesain. Jika seseorang terlalu sempurna, terlalu cepat jatuh cinta, terlalu rajin memberi janji, kita berhak curiga. Cinta sejati—seperti halnya kejujuran—tidak terburu-buru.
Kedua, penting untuk tidak mengasingkan korban. Rasa malu kerap membuat mereka bungkam, menyembunyikan luka, bahkan menyalahkan diri sendiri. Padahal mereka butuh ruang aman untuk bicara, bukan ruang penghakiman. Sebab jika love scam bermain dengan emosi, maka penyembuhannya pun harus melibatkan empati.
Cinta memang misterius. Tapi jika cinta membuat kita kehilangan akal, kehilangan uang, dan akhirnya kehilangan harga diri, mungkin itu bukan cinta—melainkan ilusi yang dirancang untuk mencuri.
Di zaman ketika manusia bisa bertemu lewat layar tapi tetap kesepian di dunia nyata, love scammer seperti predator di padang luas: sabar menunggu mangsa yang terluka, lalu menyamar sebagai penyelamat. Dan seperti Kani, kita semua bisa saja jadi target berikutnya.
Jadi sebelum jatuh hati, pastikan dulu: siapa yang sebenarnya kita cintai—dan siapa yang sedang mengincar kita.
























