
Oleh M. Yamin Nasution, S.H. – Pemerhati Hukum
“Ilmu sejati adalah yang lahir dari perpaduan antara akal yang jernih, intuisi ruhani yang tajam, dan cahaya wahyu ilahi. Tanpa salah satu darinya, pengetahuan menjadi cacat.”
—Mulla Sadra (Ṣadr al-Dīn al-Shīrāzī)
Di satu sisi dunia, berdirilah seorang lelaki tua bersorban hitam. Tenang. Tak banyak bicara. Tapi setiap katanya mengguncang gendang telinga para penindas. Ia bukan selebritas. Bukan pengamat dadakan. Ia adalah Sayyid-turunan Rasulullah.
Namun warisannya bukan sorban atau status. Ia warisi keberanian menegakkan kebenaran, bahkan saat dunia Islam memilih diam terhadap Gaza. Ia penuhi perintah Allah: menegakkan keadilan.
“Dan langit telah Dia tinggikan, dan Dia letakkan timbangan (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas dalam menimbang. Tegakkanlah timbangan itu dengan adil.” QS. Ar-Rahman: 7–9
Sayyid dari Persia, menunjukkan: wanita islam memiliki ilmu pengetahuan dan tekhnologi diatas wanita liberal. Menunjukkan bangsa Islam mampu menjadi harapan ditengah ketidakadilan dunia barat.
Sementara itu, di sisi lain negeri ini, Indonesia, negeri seribu pesantren, mikrofon bersuara. Tapi bukan untuk membela Palestina. Bukan untuk membongkar ketidakadilan. Melainkan untuk mencaci para Habib.
Untuk membelah siapa yang “layak” dan “tidak layak” disebut keturunan Nabi. Di mana suara para ulama? Para kiai?
Mereka sibuk, bukan dengan menimbang keadilan, tapi mencaci, merendahkan sesama islam dengan cemooh tentang habib. Ustadz, kyai lain memperdebatkan hukum fiqih yang telah ratusan tahun jadi perbedaan. Sibuk dengan khilafiah. Tapi lupa bahwa Al-Qur’an tak pernah memerintahkan untuk mempermasalahkan khilafiah.
Yang diperintahkan adalah berbicara tentang keadilan.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri…” —QS. An-Nisa: 135
Lalu mengapa mereka diam? Bukan kah surat ini perintah Allah? Apakah perintah Allah dapat ditawar?
Snouck Hurgronje, dalam riset kolonialnya yang dikutip oleh Edward W. Said dalam Orientalism, mencatat bahwa umat Islam, jika mereka taat kepada Allah dengan sadar, akan berani berbicara, bahkan menjatuhkan kekuasaan yang zalim.
Karena itu, penjajah Belanda memanipulasi perbedaan mazhab, menebalkan perdebatan hukum syariat, agar umat sibuk dengan detail ritual, dan lupa akan perintah ilahi: menegakkan keadilan.
Warisan itu tetap hidup hingga kini. Mereka bicara tentang kemurnian turunan Nabi. Melupakan kemurnian ajaran Nabi. Mereka bicara perbedaan qunut. Tapi tidak bicara kekejaman Israel. Mereka bicara detail najis.Tapi diam saat umat dijajah. Mereka bicara siapa Habib asli. Tapi tak pernah bicara tentang darah anak-anak di Rafah.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain…” —QS. Al-Hujurat: 11
“Dan janganlah menggunjing satu sama lain. Sukakah kamu memakan daging saudaramu yang telah mati?” —QS. Al-Hujurat: 12
Maka pertanyaannya:
Siapa pewaris Nabi yang sesungguhnya? Yang mewarisi darah dan keberanian?
Atau yang mewarisi sorban dan rating podcast?
Sayyid di Iran sana berbicara demi Gaza. Di sini, para pemuka agama saling memotong khutbah di televisi. Sayyid memikul amanat nubuwah. Kita? Sibuk dengan debat yang tak akan pernah selesai, dan memang tidak perlu.
“Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” —QS. Al-Ahzab: 33
Maka siapa yang berdiri di sisi Rasul? Yang berbicara tentang keadilan dan ketertindasan? Atau yang menjual tafsir untuk panggung dan pengaruh?
Kesimpulan
Umat Islam pernah menjadi pembebas, bukan karena fikih, tetapi karena ketaatan kepada nilai ilahi: menegakkan keadilan. Kini, banyak ulama dan cendekia lupa:
Allah tidak bertanya soal mazhabmu, tapi bertanya: apakah kerjakan perintah ku? Apakah kau tegakkan keadilan?
Dan keturunan langit bukan yang disambut di panggung. Mereka berdiri di bawah langit, berteriak untuk Gaza, dan berdiri diatas ketidakadilan yang dialami warga Indonesia, yang diusir, disiksa bahkan tertembak mempertahankantanahnya, yang melacurkan diri karena kemiskinannya. Keturunan langit itu diam-diam Allah tulis namanya di sisi para syuhada.
Discalimer :
Tulisan ini adalah kritik moral terhadap seluruh tokoh ummat : diam atas ketidakadilan yang terjadi, mengabaikan perintah untuk bicara atas ketidakadilan, dan orang-orang mencari kemurnian turunan Nabi SAW dan saat bersamaan melupakan kemurnian ajaran Nabi.
























