Jakarta – Bermula dari menjadi dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, lalu menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, gerakan Reformasi 1998 melambungkan namanya dan menyulap Amien Rais menjadi seorang raksasa yang perkasa. Ia bermetamorfosis.
Sedemikian perkasanya, sampai-sampai ia berhasil memimpin mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya menduduki Gedung DPR/MPR dan kemudian menggulingkan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 atau sehari setelah peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Hari itu menjadi Hari Kebangkrutan Nasional. Terutama bagi Soeharto.
Amien Rais kemudian mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) dan ikut Pemilu 1999, lalu terpilih menjadi Ketua MPR meskipun PAN bukan pemenang. Pemenangnya adalah PDI Perjuangan.
Tidak itu saja. Amien Rais berhasil membentuk Poros Tengah dan merekayasa Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang partainya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bukan pemenang pemilu, menjadi Presiden RI. Megawati Soekarnoputri yang partainya, PDIP menjadi pemenang pemilu cukuplah menjadi wakil presiden saja.
Dua tahun kemudian, tepatnya 21 Juli 2001, Amien Rais melalui MPR yang dipimpinnya berhasil menjatuhkan Gus Dur dan menaikkan Megawati ke kursi Presiden RI. Demikian perkasanya Amien Rais.
Waktu berlalu. Lambat laun pengaruh Amien Rais di dunia politik kian memudar. Apalagi setelah Joko Widodo terpilih menjadi Presiden RI pada Pemilu 2014 dan terpilih lagi di Pemilu 2019. Kharisma pakar politik Timur Tengah itu terus memudar.
Puncaknya adalah perseteruannya dengan sang besan saat itu, Zulkifli Hasan dalam Kongres PAN tahun 2020. Zulhas terpilih menjadi Ketua Umum PAN. Amien Rais pun terpental.
Pada 2021, Amien mendirikan Partai Ummat dan menobatkan menantunya, Ridho Rahmadi sebagai ketua umum.
Namun, dalam Pemilu 2024, Partai Ummat hanya berhasil mengais suara sekitar 1 persen saja. Jauh dari parliamentary threshold 4 persen, sehingga gagal manggung di Senayan.
Akhir 2024 lalu, Amien mengubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Ummat secara sepihak. Forum musyawarah nasional, musyawarah wilayah dan musyawarah daerah ditiadakan. Kekuasaan terpusat pada Majelis Syura yang diketuai dirinya.
Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, itu juga mengangkat kembali menantunya, Ridho Rahmadi sebagai Ketua Umum Partai Ummat meskipun sudah terbukti gagal memimpin.
Akhirnya, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Ummat Daerah Istimewa Yogyakarta membubarkan diri. Sebanyak 34 DPW Partai Ummat lainnya melapor ke Mahkamah Partai Ummat. Mereka juga menyurati Kementerian Hukum agar tidak mengesahkan perubahan AD/ART Partai Ummat yang diajukan Amien Rais. Mereka juga siap menggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Musababnya sama: sikap diktator Amien Rais.
Amien Rais yang sebelumnya merupakan pentolan demokrasi, kini justru menjadi tidak demokratis ketika menguasai Partai Ummat. Dari demokrat menjadi diktator.
Akibatnya, ia ditinggalkan para pendukungnya. Implikasinya, Amien Rais seperti bermetamorfosis dari raksasa menjadi kurcaci.
Kurcaci adalah humanoid atau makhluk yang menyerupai manusia, baik secara fisik maupun perilaku, namun ukurannya lebih kecil dan lebih pendek dibandingkan dengan manusia.
Bukan Kekuasaan yang Merusak Watak
Pertanyaannya, mengapa Amien Rais yang suka “khutbah” tentang demokrasi justru bersikap tidak demokratis ketika memegang kuasa?
Mengapa ada semacam paradoks dalam diri Amien Rais, di mana tindakannya bertentangan dengan ucapannya?
Itulah kekuasaan. Dan kekuasaan punya logikanya sendiri.
Karakter Amien Rais pun sepertinya sudah rusak. Tapi bukan disebabkan oleh kekuasaan, melainkan oleh ketakutan. Amien Rais dilanda ketakutan, sehingga karakternya menjadi rusak. Takut kehilangan kekuasaan.
Masih terngiang dalam benak kita ketika Aung San Suu Kyi, kini mantan pemimpin Myanmar, menyampaikan pidato saat menerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1991. Katanya, “Bukan kekuasaan yang merusak watak (karakter) manusia, melainkan ketakutan. Takut kehilangan kekuasaan merusak watak mereka yang berkuasa, takut dilanda kekuasaan merusak watak mereka yang dikuasai.”
Amien Rais saat ini adalah pengendali dan pemegang kuasa tertinggi atas Partai Ummat. Sayangnya, ia hanya seorang kurcaci.
























