Jakarta –Fusilatnews.— Tokoh ekonomi dan pemikir kebangsaan, Prof. Dr. Ikhsanudin Noorsy, mendapat giliran memberikan pencerahan kepada komunitas Emak-Emak Aspirasi Indonesia (AI) dalam kegiatan pengajian dan konsolidasi bulanan yang digelar di Markas Aspirasi Indonesia, Jalan Pati, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (6/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung melalui wadah Keluarga Sejahtera Aspirasi (KSA) di bawah pimpinan Hj. Jati Ningsih tersebut tidak hanya diisi arisan dan pengajian, tetapi juga forum pencerahan kebangsaan dan keagamaan yang rutin menghadirkan berbagai tokoh nasional. Sebelumnya, forum ini pernah menghadirkan Prof. Dr. Eggi Sudjana dan Prof. Apendi Arsyad.
Emak-Emak Aspirasi Indonesia yang dipimpin Hj. Wati Imhar dikenal aktif menyuarakan berbagai aspirasi publik melalui aksi-aksi damai di sejumlah lokasi strategis seperti Patung Kuda Monas, Gedung DPR RI, KPK, hingga berbagai instansi pemerintah lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ikhsanudin Noorsy hadir didampingi Weyla Safitri yang dikenal sebagai pimpinan organisasi perempuan di lingkungan ICMI. Meski tanpa tema khusus, materi yang disampaikan banyak menyoroti pentingnya penguatan akidah dan peran perempuan dalam membangun peradaban.
Menurut Ikhsanudin, komunitas Aspirasi Indonesia perlu terus memperkuat idealisme sebagai wadah silaturahmi dan kontribusi sosial dengan memulai perubahan dari diri sendiri.
“Perbaikan masyarakat harus dimulai dari individu dan keluarga. Aspirasi Indonesia dapat menjadi wadah yang memperkuat akidah sekaligus menggerakkan kepedulian sosial,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perang peradaban sesungguhnya dimulai dari lingkungan keluarga, terutama peran ibu rumah tangga dalam menjaga pola hidup sehat, makanan halal, dan pendidikan anak sejak dini.
Dalam paparannya, Ikhsanudin juga mengingatkan pentingnya perhatian orang tua terhadap perkembangan psikologis anak, termasuk dampak lingkungan, pola konsumsi, dan penggunaan teknologi digital yang tidak terkontrol.
Selain itu, ia mengajak peserta untuk mempersiapkan kehidupan akhirat dengan memperkuat ibadah, menyelesaikan kewajiban terhadap sesama manusia, serta memperbanyak amal saleh yang akan menjadi bekal setelah kematian.
Ikhsanudin menjelaskan bahwa berbagai persoalan kehidupan harus dihadapi melalui proses konfirmasi, klarifikasi, verifikasi, dan validasi agar tidak terjebak dalam fitnah yang dapat merusak hubungan sosial.
Pada bagian akhir ceramahnya, ia menyampaikan bahwa jihad memiliki spektrum yang luas, mulai dari perjuangan individu, keluarga, komunitas, regional, nasional hingga internasional.
“Aspirasi Indonesia memiliki potensi menjadi asosiasi penggerak perempuan dan Islam Indonesia yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Prof. Apendi Arsyad yang turut hadir dalam kegiatan tersebut berbagi pengalaman pribadi terkait perjuangan yang dihadapinya selama berkiprah di dunia akademik dan organisasi.
Menurut Apendi, tantangan dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran sering kali menghadirkan berbagai konsekuensi. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjadikan shalat dan kesabaran sebagai penolong dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Kegiatan pengajian dan konsolidasi bulanan tersebut dihadiri sejumlah anggota dan pengurus Aspirasi Indonesia, di antaranya Lina, Ida Wardah, Purwo, Maysaroh, Royaningrum, Benjol, Edi, Pril, Siswati, Saidah, Madi, Erlina, Ain, Amira, Indrawati, serta peserta lainnya.
Forum ini diharapkan terus menjadi ruang silaturahmi, penguatan akidah, serta pengembangan wawasan keislaman dan kebangsaan bagi para anggota Aspirasi Indonesia.




















