PLAIN, Georgia – Jimmy Carter, seorang petani kacang dari Georgia yang kemudian menjadi presiden Amerika Serikat ke-39, meninggal dunia di rumahnya di Plains, Georgia, pada Minggu (29/12) waktu setempat. Carter yang dikenal atas upayanya memperjuangkan perdamaian dan hak asasi manusia, tutup usia di umur 100 tahun, menurut pernyataan dari Carter Center.
Chip Carter, putra mendiang, menyampaikan bahwa ayahnya adalah sosok yang luar biasa. “Ayah saya adalah pahlawan, bukan hanya bagi saya tetapi bagi semua orang yang percaya pada perdamaian, hak asasi manusia, dan cinta tanpa pamrih. Kami berterima kasih karena Anda semua menghormati warisannya dengan terus menjalankan nilai-nilai yang ia perjuangkan,” ucapnya.
Sebagai seorang Demokrat, Carter menjabat dari Januari 1977 hingga Januari 1981 setelah mengalahkan Presiden Gerald Ford dalam Pemilu 1976. Namun, ia gagal terpilih kembali empat tahun kemudian, kalah dari Ronald Reagan dalam pemilu yang didominasi oleh masalah ekonomi dan krisis sandera Iran.
Peninggalan dan Kontroversi Kepresidenan
Kepemimpinan Carter dikenang melalui Perjanjian Camp David pada 1978 yang mendamaikan Israel dan Mesir, meski diwarnai tantangan berat seperti resesi ekonomi dan krisis sandera Iran yang berlangsung selama 444 hari di penghujung masa jabatannya.
Setelah masa jabatannya berakhir, Carter mengabdikan hidupnya untuk kegiatan kemanusiaan, menjadikannya lebih dihormati sebagai mantan presiden dibandingkan saat menjabat. Pada 2002, ia dianugerahi Nobel Perdamaian atas usahanya mempromosikan solusi damai dalam konflik internasional, demokrasi, dan pembangunan sosial.
Kesehatan dan Kehidupan Pribadi
Pada Februari 2023, Carter memutuskan menerima perawatan hospice setelah didiagnosis melanoma yang telah menyebar ke hati dan otaknya. Rosalynn Carter, istrinya selama 77 tahun, meninggal lebih dahulu pada November 2023 di usia 96 tahun.
Carter lahir pada 1 Oktober 1924 di Plains, Georgia. Setelah lulus dari Akademi Angkatan Laut AS, ia sempat bertugas dalam program kapal selam nuklir sebelum kembali mengelola usaha pertanian keluarganya. Perjalanan politiknya dimulai sebagai gubernur Georgia sebelum terpilih sebagai presiden.
Warisan Abadi
Jimmy Carter meninggalkan warisan berupa perjuangannya dalam memperjuangkan hak asasi manusia, pengentasan kemiskinan, dan upaya diplomasi internasional. Melalui Carter Center, ia memantau pemilu di berbagai negara, mempromosikan demokrasi, dan bekerja untuk mengurangi penyakit global.
Sebagai seorang presiden dan tokoh internasional, Carter terus dikenang atas dedikasinya terhadap perdamaian dan hak asasi manusia yang melampaui batasan politik dan waktu.





















