Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024
Jakarta – Gaya perlente, mental kere. Demikianlah pasangan suami-istri selebritas Harvey Moeis-Sandra Dewi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perlente atau parlente berarti tampak gagah, bagus, apik, rapi, atau necis.
Ya, Harvey Moeis-Sandra Dewi memang selalu bergaya hidup glamour, mewah dan perlente. Misalnya, mereka menggelar pesta pernikahan di Tokyo Disneyland, Jepang, 8 November 2016, seperti di negeri dongeng.
Saat Sandra Dewi berulang tahun ke-40 pada 8 Agustus 2023, Harvey menghadiahi istrinya itu dengan mobil mewah Rolls-Royce seharga Rp25 miliar.
Setahun sebelumnya, saat Sandra Dewi berulang tahun ke-39, Harvey Moeis menghadiahi perempuan cantik itu dengan mobil Mini Cooper seharga Rp980 juta.
Puncaknya adalah saat Raphael Moeis berulang tahun ke-2, buah hati mereka ini dihadiahi pesawat jet pribadi tipe Bombardier Challenger seharga Rp428,5 miliar.
Sampai kemudian prahara itu datang. Rabu (27/3/2024), Harvey Moeis ditetapkan Kejaksaan Agung sebagai tersangka korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) perkara korupsi pengelolaan tata niaga komoditas timah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk tahun 2015-2022 di Bangka Belitung.
Dalam sidang pembacaan vonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin (23/12/2024), Harvey Moeis divonis 6,5 tahun penjara.
Selain pidana penjara, Harvey juga dikenakan pidana denda sebesar Rp1 miliar dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, maka diganti (subsider) dengan pidana kurungan selama enam bulan.
Majelis Hakim juga menjatuhkan pidana tambahan kepada Harvey berupa pembayaran uang pengganti sebesar Rp210 miliar subsider dua tahun penjara.
Suami Sandra Dewi itu sebelumnya diduga menerima uang Rp420 miliar bersama Manajer PT Quantum Skyline Exchange (QSE) Helena Lim dan melakukan pencucian uang untuk membeli berbagai barang mewah, sehingga menyebabkan kerugian negara sebesar Rp300 triliun.
Semua harta benda milik Harvey Moeis dan Sandra Dewi pun disita untuk negara, termasuk 88 tas bermerek mewah.
Sandra Dewi disebut menerima aliran dana hasil korupsi di PT Timah Tbk Rp3,5 miliar. Ia juga disebut menerima 88 tas mewah dari Harvey Moeis yang diduga bersumber dari perkara ini.
Namun, Sandra Dewi menolak harta miliknya disita. Melalui pengacaranya, ia berdalih sudah membuat perjanjian pemisahan harta dengan Harvey sebelum keduanya menikah.
Dalam persidangan, Sandra juga mengaku selama menikah ia menolak dinafkahi Harvey karena dirinya merupakan seorang perempuan mandiri. Termasuk 88 tas mewah itu yang ia sebut hasil dari endorse (iklan) berbagai produk selama menjadi artis.
Puluhan tas itu antara lain bermerek Hermes dan Louis Vuitton seharga puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Usai mendapatkan vonis yang sangat ringan itu, data pribadi Harvey-Sandra kemudian dikulik Netizen. Akhirnya diketahui, keduanya terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam program BPJS Kesehatan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Harvey-Moeis tak perlu membayar iuran BPJS Kesehatan karena sudah ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.
Bagaimana bisa Harvey-Sandra yang kaya-raya itu menjadi penerima PBI APBD BPJS Kesehatan?
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati, Selasa (24/12/2024), menyatakan pihaknya terus mendorong kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tanpa memandang status sosial ekonomi warga.
Penduduk yang memenuhi kriteria administratif seperti memiliki KTP DKI Jakarta dan bersedia dirawat di Kelas 3, katanya, dapat didaftarkan oleh perangkat daerah setempat (lurah/camat) sebagai peserta PBI APBD.
Sebab itu, nama Harvey-Sandra pun masuk. Keduanya terdaftar sejak 1 Maret 2018.
Mental Kere
Masuknya nama Harvey-Sandra sebagai peserta PBI APBD BPJS Kesehatan tentu saja bukan tanpa sepengetahuan keduanya. Artinya, jika jatuh sakit, mereka siap dirawat di rumah sakit rujukan dengan fasilitas Kelas 3.
Bagaimana bisa seorang kaya-raya yang bergaya hidup glamour, hedonis dan perlente mau dirawat di Kelas 3 kalau tidak bermental kere atau miskin?
Kere berasal dari bahasa Jawa yang berarti sangat miskin atau gembel.
Dalam konteks Harvey-Sandra, secara fisik keduanya memang terlihat kaya-raya. Tapi mental mereka, mohon maaf, ternyata kere.
Orang kaya yang bermental kere biasanya memiliki watak, karakter atau mental serakah atau tamak.
Dengan menjadi peserta PBI APBD BPJS Kesehatan, artinya Harvey-Sandra merampas hak orang miskin yang lebih berhak.
Demikianlah jika “wong sugih” (orang kaya) bergaya perlente, tapi bermental kere.





















