Saya membaca kabar itu sambil tertawa kecil. Bloomberg, media besar dari New York, menetapkan Joko Widodo sebagai penasihat ekonomi. Tertawa bukan karena bangga; tertawa karena getir. Kami di Indonesia tahu lebih banyak tentang tokoh yang mereka pilih, daripada mereka yang menilainya dari jauh.
Bloomberg tampaknya percaya pada sebuah cerita: presiden yang lahir dari rakyat jelata, membangun jalan tol dan pelabuhan, lalu tampil sebagai simbol negara berkembang yang sedang naik panggung dunia. Cerita itu indah. Tapi ia berhenti sebagai cerita.
Untuk urusan ekonomi, kita punya nama-nama yang lebih sahih. Boediono, teknokrat sejati, ekonom dengan reputasi akademik yang cemerlang. Jusuf Kalla, pengusaha tangguh, praktisi yang tahu seluk-beluk pasar. Susilo Bambang Yudhoyono, bukan ekonom, tapi mampu menjelaskan ekonomi dengan runut dan sistematis. Mereka mungkin tidak memesona di mata Bloomberg, tapi kapasitas mereka jelas.
Dan Jokowi? Ia memang rajin meresmikan infrastruktur. Tapi ekonomi tidak berdiri di atas gunting pita. Ia berdiri di atas strategi industri, fiskal yang sehat, dan keberanian menolak utang yang membelenggu. Semua itu justru goyah di masa kepemimpinannya. Infrastruktur membentang, tapi fondasi rapuh.
Lebih jauh, Bloomberg seolah lupa pada satu hal: nama Jokowi kini menempel pada sebuah label. OCCRP, jaringan jurnalisme investigasi internasional, menempatkannya dalam daftar pemimpin yang menaungi korupsi terbesar di dunia—nomor dua. Ini bukan sekadar catatan kecil. Ini stigma.
Dan stigma itu bukan satu-satunya. Sepanjang pemerintahannya, nepotisme tumbuh menjadi pohon rindang. Anak-anaknya menduduki kursi kekuasaan dengan jalan pintas yang kontroversial. Demokrasi diperlakukan sebagai milik keluarga, bukan sebagai warisan republik. Integritas pun makin dipertanyakan ketika ijazah akademiknya sendiri terseret polemik yang tak pernah ia jawab tuntas.
Inilah ironi itu. Bloomberg, dengan segala kewibawaannya, memilih simbol yang retak. Mereka mencari inspirasi dari negara berkembang, tapi yang mereka temukan hanyalah bayangan.
Saya kira, Bloomberg boleh saja meminati cerita. Tapi bila tujuan mereka adalah kebijaksanaan, mereka seharusnya belajar membedakan antara narasi dan kenyataan. Dan kenyataan di sini, di negeri ini, jauh lebih rumit daripada apa yang terlihat dari Manhattan.






















