Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Dibuang sayang. Tapi memang harus dibuang. Demikianlah PDI Perjuangan terkait Presiden ke-7 Joko Widodo dan keluarganya yang telah dipecat dari keanggotaan partai berlambang kepala banteng dalam lingkaran itu.
Namun berbeda dengan Budiman Sudjatmiko, Maruarar Sirait dan Effendi Simbolon yang dipecat dengan sepucuk surat, pemecatan terhadap Jokowi dan anaknya, Gibran Rakabuming Raka, serta menantunya, Bobby Nasution hanya disampaikan secara lisan oleh Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto. Itu pun dengan majas atau gaya bahasa eufimisme dengan menyebut Jokowi dan keluarganya bukan bagian dari PDIP lagi.
Adapun pemecatan resmi Jokowi, Gibran dan Bobby, kata Hasto, baru akan diumumkan secara resmi pada 17 Desember mendatang bersamaan dengan 24 kader lainnya yang juga dipecat. Total ada 27 kader PDIP yang dipecat.
Jokowi, Gibran dan Bobby dipecat karena tidak mendukung calon presiden-wakil presiden yang diusung PDIP dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, yakni Ganjar Pranowo-Mahfud Md, bahkan justru Gibran menjadi wakil presidennya Prabowo Subianto.
Begitu pun Budiman dan Maruarar yang dipecat karena tidak mendukung Ganjar-Mahfud, justru mendukung Prabowo-Gibran.
Sedangkan Effendi dipecat karena tidak mendukung calon gubernur-wakil gubernur yang diusung PDIP di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024, yakni Pramono Anung-Rano Karno, bahkan justru mendukung rivalnya, yakni Ridwan Kamil-Suswono.
Sebagai ganjarannya, Budiman diangkat Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, dan Maruarar diangkat sebagai Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman di Kabinet Merah Putih. Entah nanti Effendi akan diangkat sebagai apa, karena di Pilpres 2024, bekas anggota DPR RI dari PDIP itu juga mendukung Prabowo-Gibran.
Pemecatan Jokowi dan keluarganya yang dilakukan secara tidak tegas, bahkan terkesan tarik-ulur itu membuktikan bahwa PDIP merasa sayang untuk membuang Jokowi dan keluarganya. Maklum, sebelum proses pendaftaran calon di Pilpres 2024, ketiganya adalah kader-kader utama PDIP.
Jokowi menjadi Presiden RI, bahkan hingga dua periode, Gibran menjadi Walikota Surakarta, Jawa Tengah, dan Bobby menjadi Walikota Medan, Sumatera Utara. Ketiganya merupakan aset dan sumber daya partai yang bisa diandalkan.
Namun, Jokowi dan keluarganya, serta Budiman, Maruarar dan Effendi memang harus dibuang karena mereka telah melakukan pelanggaran berat etika serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PDIP, terutama terkait loyalitas. Mereka telah “mangro tingal” (mendua) alias tidak setia (loyal).
Justru jika tidak dipecat akan merusak partai, karena akan menimbulkan kecemburuan bagi kader-kader lainnya. PDIP akan dicap diskriminatif dan menerapkan standar ganda. Marwah dan wibawa PDIP akan runtuh.
Nah, begitu dinyatakan Jokowi dan keluarganya telah dipecat PDIP, partai-partai lain berebut menampung mereka. Partai-partai lain membuat semacam jaring pengaman untuk menangkap bola muntah dari PDIP. Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Golkar, misalnya.
Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi dan Sekjen PAN Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio kompak menyatakan partainya siap menampung Jokowi dan keluarganya.
Begitu pun Derek Loupatty. Sekretaris Bidang Organisasi DPP Partai Golkar itu mengatakan partainya siap menampung Jokowi dan keluarganya. Apalagi Jokowi dekat dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.
Jokowi, kata Derek, sudah dianggap anggota kehormatan Golkar meskipun belum memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA).
Alasan Jokowi dianggap anggota kehormatan Golkar karena sosoknya sebagai negarawan yang telah berjasa bagi bangsa dan negara. Selain itu, katanya seperti dikutip sejumlah media, Golkar sudah mendukung Jokowi sejak 2014 saat pertama kali menjadi presiden.
Adapun Jokowi mengaku masih memegang KTA PDIP. Terkait pemecatannya dari PDIP, Jokowi hanya berkomentar pendek: PDIP partai keluarga!
Mengapa partai-partai berebut menampung Jokowi dan keluarganya?
Sebab ketiganya bisa menjadi aset dan sumber daya potensial. Jokowi, misalnya, meski sudah pensiun dari jabatan presiden, tapi pengaruhnya masih cukup kuat. Dalam Pilkada 2024, misalnya, calon-calon kepala daerah, total ada 84 calon, yang di-“endorse” atau didukung Jokowi, banyak yang menang.
Ahmad Luthfi-Taj Yasin, misalnya, terpilih dalam Pilkada Jawa Tengah 2024. Begitu pun Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak di Pilkada Jawa Timur 2024.
Namun, calon yang didukung Jokowi, yakni Ridwan Kamil-Suswono kalah dalam Pilkada Jakarta 2024 melawan calon dari PDIP, Pramono Anung-Rano Karno.
Gibran juga merupakan aset dan sumber daya potensial, apalagi sekarang menjabat Wakil Presiden RI.
Begitu pun Bobby Nasution yang baru saja terpilih dalam Pilkada Sumatera Utara 2024.
Lalu bagaimana dengan Jokowi, apakah wong Solo ini mau menerima pinangan PAN dan Golkar atau mungkin partai lainnya?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, Jokowi sudah menyatakan ingin istirahat sambil momong cucu selepas tidak menjabat presiden lagi. Tapi siapa yang masih percaya dengan omongan Jokowi?
“Esuk dhele sore tempe” (pagi kedelai sore tempe). Mencla-mencle. Plin-plan. Suka berbohong. Begitulah tabiat Jokowi.
Selayaknya semua mantan presiden “lengser keprabon madeg pandhito” (menjadi guru bangsa setelah turun takhta). Sayangnya, hanya Soekarno, Soeharto dan BJ Habibie yang lengser keprabon madeg pandhito. Yang lain tidak.
Megawati, misalnya, tetap menjadi Ketua Umum PDIP bahkan hingga kini dan selalu cawe-cawe dalam percaturan politik nasional dan regional. Megawati bahkan memecahkan rekor sebagai ketua umum partai dengan durasi jabatan terlama (sejak 1993 hingga kini) sepanjang sejarah Indonesia.
Begitu pun Susilo Bambang Yudhoyono yang sempat menjadi Ketua Umum Partai Demokrat dan kemudian mewariskan singgasananya itu kepada putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono, dan kini menjadi Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat. SBY juga selalu cawe-cawe dalam kontestasi elektoral di Indonesia.
Lantas bagaimana dengan Jokowi? Kita tunggu saja tanggal mainnya. Mungkin kali ini dia sudah jera dan tidak mencla-mencle lagi. Semoga!























