Fusilatnews – Pak Joko Widodo, mantan presiden yang sempat dielu-elukan sebagai bapak infrastruktur,
Kini saatnya Anda melepas semua asesoris kekuasaan dan berjalan kaki—tanpa pengawal, tanpa mikrofon, tanpa narasi karangan buzzer—menemui tiga nama yang telah lama menanti Anda: Roy Suryo, Rismon, dan Dokter Tifa.
Bukan untuk debat, bukan untuk adu tafsir, melainkan cukup untuk membisikkan kalimat paling sederhana dalam perbendaharaan bahasa Indonesia:
“Mohon maaf… memang ijazahnya tidak ada.”
Kalimat yang tak memerlukan gelar doktor untuk diucapkan. Tak perlu konsultan politik. Tak perlu rapat terbatas. Hanya perlu keberanian untuk jujur setelah semua lembar sejarah ditulisi dengan tinta semu. Sebab hari ini, denial sudah mati gaya. Istilah Sundanya: “beak dengkak.”
Mulut sudah terlalu sering menyembur dusta, hingga tak mampu lagi menyusun kalimat yang bisa meyakinkan.
Pak Jokowi, Anda sudah selesai dengan panggung sejarah.
Tapi sejarah belum selesai dengan Anda.
Dulu, Anda membangun jalan tol dari Sabang sampai Merauke. Tapi sayangnya, satu jalan paling penting tak pernah Anda bangun: jalan menuju kejujuran administratif.
Ijazah—yang katanya ada, katanya asli, katanya pernah diuji—entah bagaimana berubah jadi semacam artefak gaib yang tak bisa disentuh, tak bisa difoto, tak bisa diverifikasi. Ijazah itu lebih misterius dari naskah asli Kitab Sutasoma.
Roy Suryo, meski sering dicibir sebagai komentator segala hal, kali ini ia seperti data forensic whisperer—membaca detail yang tak tampak oleh rakyat jelata. Rismon, sang digital crusader, dengan kesabaran monastik, membedah segala kemungkinan data palsu. Sementara Dokter Tifa, dengan retorika tajam bak pisau bedah, mengiris nalar publik agar tetap terjaga.
Apakah mereka musuh Anda?
Tidak, Pak. Mereka hanya tiga orang yang masih percaya bahwa kebenaran akademik bukan barang mainan.
Lalu mengapa harus sekarang? Karena Anda bukan siapa-siapa lagi dalam struktur resmi negara. Tidak ada lagi tameng kekuasaan. Tidak ada lagi pasal penghinaan presiden. Kini Anda adalah warga biasa—dan sebagai warga biasa, Anda berutang klarifikasi kepada republik ini.
Apakah menyakitkan?
Tentu. Tapi itu juga menyembuhkan.
Sebab rakyat lebih mudah memaafkan pengakuan jujur ketimbang terus dicekoki narasi dusta.
Bayangkan, Pak.
Di masa depan, bisa jadi anak cucu Anda akan bertanya:
“Kakek, ijazah kakek waktu jadi presiden itu ke mana?”
Maukah Anda menjawab dengan senyuman?
Atau akan terus bersembunyi di balik evasive narratives yang sudah kedaluwarsa?
Pak Jokowi,
Sejarah telah memberi Anda kesempatan langka: dua periode memimpin negeri terbesar di Asia Tenggara. Tapi sejarah juga memberi Anda satu tantangan terakhir:
Berani jujur, bahkan setelah tidak lagi berkuasa.
Itulah yang membedakan pemimpin besar dari penguasa biasa.
Maka, datangilah mereka.
Roy Suryo, Rismon, Dokter Tifa.
Ajak ngopi. Tarik napas. Lalu ucapkan dengan ringan namun mantap:
“Ya, saya pernah salah. Dan ijazah itu memang tidak pernah ada.”
Tak perlu khawatir.
Kata orang bijak:
“It’s never too late to be honest, even when the curtain has fallen.”





















