Pantes bila PSI adalah partai yang tidak berkembang dan menarik kalangan Milenial. Coba simak pernyataan salah seorang pentolannya, sbb : “Bro Kaesang ini sosok muda dengan potensi yang sangat besar dan terbukti sukses mengelola banyak perusahaan start-up dan mampu menaikkan Klub Sepakbola Persis Solo ke Liga 1. Kami yakin Bro Kaesang dalam posisi apapun nantinya akan bisa membawa kemajuan untuk PSI,” kata Widodo.
Pernyataan yang mudah disangkat dalam beberapa kata. Kalau bukan anak Jokowi, ia tidak punya rekam jejak, kalau anak mudah itu berprestasi. Nothing sepecial.
Silahkan simak lagi pernyataan berikutnya; “Beberapa posisi bisa diisi oleh Kaesang. Dari struktur hingga kepala daerah masih terbuka”. “Bisa masuk di jajaran kepengurusan, maju di Pilkada, atau apapun peluang yang nanti bisa diraih Bro Kaesang di PSI. Semuanya masih terbuka,” katanya.
Jadi pernyataan tersebut menjelaskan, bahwa PSI tidak punya gagasan untuk menaikan daya tarik partai. Ia miskin kader, sehingga semodel Kaesang, dinilai akan menjadi magnit penumbuh Partai yang terpuruk itu.
Saat Anies Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI, hampir setiap hari, semua pasukan PSI kerjaannya hanya membuli sosok Gubernur Anies. Beberapa tokoh-tokoh elit keluar dari PSI, lalu bergaubung dengan partai lain.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi yang pertama mengaku gagal melenggang ke Senayan, setelah perolehan suaranya tak mampu menyentuh angka 4 persen. Kegagalan ini, diibaratkan pengamat seperti klub bola yang keliru memilih lapangan.
Menurut pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bambang Cipto, semua iklan itu menjadi tidak berarti karena beberapa kesalahan mendasar yang dilakukan PSI.
Bambang menilai, sejak awal berdiri, PSI memang sudah hadir untuk mendukung tokoh tertentu, dalam hal ini Jokowi. Masalahnya, tujuan itu tidak didasari oleh ideologi yang kuat. PSI juga dinilai tidak memiliki visi yang jelas, mengenai untuk apa partai itu dibentuk. Bambang mencoba membandingkan kehadiran Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ia mengatakan, Kedua partai itu memiliki akar yang sangat kuat di lingkungan pemilih dan kemudian mampu tumbuh.
“PSI menganggap ada peluang besar suara kalangan milenial, mereka merekrut pengurus anak muda Muhammadiyah, NU dan lainya. Tetapi mereka salah strategi, karena tidak didukung oleh tokoh-tokoh yang memahami persoalan partai di Indonesia,” kata Bambang.
Kelompok milenial yang menjadi sumber suara pun turut digarap oleh partai-partai lain. Sementara isu-isu yang digaungkan PSI, justru kontradiktif dengan keyakinan dan prioritas sebagian pemilih. Akhirnya, tidak ada kelompok pemilih yang benar-benar bisa dibidik oleh PSI. Menurut Bambang, ini adalah upaya bunuh diri partai, dan dia sudah melihat itu sejak awal.
“Saya kira masalahnya, apa yang ada di dalam hati dan pikiran anak-anak muda saat ini masih bercampur dengan kekuatan tradisional yang masih sangat kuat di Indonesia dan belum banyak berubah. Jadi, walaupun mereka memakai jilbab, membawa handphone, naik mobil mewah, jalan-jalan ke Amerika atau Jepang, tetapi mereka punya akar yang sangat kuat. Hanya sedikit yang betul-betul bisa dibilang sekuler,” ujar Bambang.
Karena persoalan ideologi masih kuat, Bambang menyarankan PSI mengambil posisi lebih jelas. Partai tidak bisa ada di kanan dan kiri pada saat bersamaan. Posisi PSI saat ini, dinilai Bambang seperti gado-gado yang tidak jelas rasanya. PSI yang saat ini ada, tambahnya, lebih dekat ke kubu nasionalis. Karena itu, partai ini harus belajar untuk berbicara dengan sudut pandang kaum nasionalis dan tidak sekali-kali mengambil isu-isu keagamaan.
“Mereka ini salah kamar saja, seperti main bola tapi lapangannya keliru. Susun kembali visinya, pelajari apa yang salah dan kurang, barangkali masih bisa diperbaiki. Indonesia itu unik, PSI harus paham betul. Saya kira, perolehan suara kali ini hanya karena mereka belum paham saja,” tambah Bambang.




















