Yanggon – Fusilatnews – Pemerintah junta militer di Myanmar menetapkan masa bergabung nasional selama sepekan menyusul melonjaknya korban dalam gempa bumi berkekuatan maghnitudo 7,7 dengan pusat gempa dekat Sagaing Myanmar.
Laporan terakhir korban gempa yang tewas mencapai 2056 jiwa.
Dalam pernyataan resmi, junta militer Myanmar menyebutkan, negara akan mengheningkan cipta selama satu menit pada Selasa (1/4/2025), tepat pukul 12.51 lebih 2 detik waktu setempat atau waktu yang sama ketika gempa magnitudo 7,7 pertama kali terjadi.
“Orang-orang harus berhenti di tempat mereka berada untuk memberi penghormatan kepada para korban,” ujar junta militer dikutip dari kantor berita AFP pada Senin (31/3/2025).
Media massa diminta menghentikan siaran sejenak dan menampilkan simbol-simbol duka. Doa bersama juga akan dilakukan di kuil dan pagoda di seluruh negeri.
Pengumuman tersebut disampaikan ketika upaya penyelamatan mulai melambat, terutama di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar dengan populasi lebih dari 1,7 juta jiwa.
Diketahui, wilayah ini menjadi salah satu yang paling terdampak oleh gempa Myanmar
.”Situasinya sangat buruk sehingga sulit untuk mengungkapkan apa yang sedang terjadi,” kata Aung Myint Hussein, kepala pengurus Masjid Sajja Utara di Mandalay. Sudah empat malam berturut-turut warga Mandalay tidur di jalan.
Banyak dari mereka kehilangan tempat tinggal atau takut kembali ke rumah karena gempa susulan terus terjadi sepanjang akhir pekan.
Sebagian warga membawa tenda, namun tak sedikit yang hanya beralaskan selimut dan beristirahat di tengah jalan, menjauh dari bangunan demi menghindari bahaya reruntuhan.
Dalam pembaruan data per Senin (31/3/2025), junta mengonfirmasi sedikitnya 2.056 korban tewas.
Sementara itu, lebih dari 3.900 orang dilaporkan terluka dan 270 lainnya masih hilang. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah.
Media pemerintah China melaporkan, tiga warganya turut menjadi korban tewas.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Perancis menyatakan dua warganya juga meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Getaran kuat gempa terasa hingga ratusan kilometer dari pusat gempa. Di Bangkok, Thailand, setidaknya 19 korban tewas tercatat setelah sebuah gedung pencakar langit setinggi 30 lantai yang sedang dibangun runtuh akibat guncangan.
























