Dalam perjalanan pulang dari Tokyo ke Jakarta, saya melihat pemandangan yang membuat hati terenyuh. Pesawat yang saya tumpangi melintas di atas Pulau Kalimantan, pulau yang selama ini dikenal sebagai rumah bagi hutan hujan tropis terbesar dan paling megah di dunia. Seharusnya, dari atas udara, Kalimantan tampak hijau, lebat dengan pepohonan yang menjulang tinggi, penuh kehidupan. Namun, kenyataan yang saya saksikan sangat berbeda. Hamparan luas tanah gersang, kosong tanpa kayu, seolah-olah hutan itu telah dicukur habis. Botak.
Pemandangan ini bukan hanya sebuah kebetulan atau satu titik kecil di pulau itu. Luasnya area yang telah kehilangan hutan menunjukkan bahwa ini adalah masalah besar yang sistematis. Kalimantan, yang dulu begitu kaya akan keanekaragaman hayati, kini menjadi bayangan dari kejayaannya sendiri. Saya pun menarik kesimpulan: Kalimantan is the lost world.
Kesimpulan ini semakin menguat ketika saya dua kali mengunjungi Tanjung Puting, sebuah kawasan konservasi yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi primata seperti orangutan dan berbagai spesies lainnya. Alih-alih menemukan hutan yang masih perawan, saya melihat kehancuran. Pohon-pohon ditebang, tanah terbelah akibat eksploitasi, dan habitat alami primata yang kini tercerai-berai. Hutan yang dulu menjadi rumah bagi berbagai satwa liar kini sekarat, porak-poranda oleh tangan manusia.
Kalimantan mengalami kerusakan ekologis yang mengkhawatirkan akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali. Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit, pertambangan batu bara, dan penebangan liar menjadi faktor utama yang mempercepat hilangnya hutan hujan tropis. Meskipun sering kali pemerintah dan pihak industri berjanji untuk melakukan eksploitasi yang berkelanjutan, kenyataannya lebih sering menunjukkan ketamakan tanpa batas. Hutan yang seharusnya dijaga justru dikorbankan demi keuntungan sesaat, tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi ekosistem dan masyarakat lokal.
Hutan hujan Kalimantan bukan hanya paru-paru dunia, tetapi juga rumah bagi ribuan spesies yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Orangutan, bekantan, dan berbagai satwa unik lainnya kini menghadapi ancaman kepunahan akibat deforestasi besar-besaran. Bukan hanya satwa liar yang menderita, tetapi juga masyarakat adat yang telah lama hidup berdampingan dengan alam. Mereka kehilangan tanah, budaya, dan cara hidup mereka yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Ironisnya, pemerintah justru menggenjot proyek-proyek yang semakin memperparah keadaan, seperti pemindahan ibu kota ke Kalimantan yang akan mengorbankan lebih banyak hutan dan mengundang gelombang eksploitasi baru. Alih-alih menyelamatkan yang tersisa, kebijakan yang diambil seolah menutup mata terhadap kenyataan bahwa Kalimantan sedang sekarat.
Kita harus berhenti sejenak dan bertanya: Apakah kita rela kehilangan salah satu keajaiban alam dunia ini hanya demi kepentingan ekonomi jangka pendek? Kalimantan adalah warisan yang tidak ternilai harganya, bukan hanya bagi Indonesia tetapi bagi dunia. Jika tidak ada tindakan tegas untuk menyelamatkan yang tersisa, maka the lost world bukan sekadar metafora, tetapi kenyataan yang harus kita hadapi.
Saat ini, kita masih memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan. Reforestasi, kebijakan lingkungan yang tegas, dan penghentian eksploitasi tanpa batas adalah langkah awal yang harus dilakukan. Jika kita tidak bertindak sekarang, Kalimantan akan benar-benar hilang, tidak hanya dari peta, tetapi juga dari sejarah peradaban manusia.
Kalimantan tidak boleh menjadi legenda masa lalu. Ia harus tetap hidup, hijau, dan lestari untuk generasi mendatang.
























