Jakarta-FusilatNews – Suasana Ramadan tahun ini terasa berbeda di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta. Jika tahun-tahun sebelumnya mal dan pasar modern dipadati pengunjung yang berburu kebutuhan puasa dan lebaran, kini situasinya berbanding terbalik. Banyak tenant mengeluhkan minimnya pelanggan, sementara pengelola pusat perbelanjaan mencoba bertahan dengan berbagai strategi promosi. Apakah ini pertanda melemahnya daya beli masyarakat, atau ada faktor lain yang menyebabkan perubahan ini?
Laporan Investigasi:
Hasil investigasi di beberapa pusat perbelanjaan besar di Jakarta, seperti Grand Indonesia, Senayan City, dan Kota Kasablanka, menunjukkan tren penurunan jumlah pengunjung yang cukup signifikan dibanding Ramadan tahun lalu. Beberapa pegawai tenant mengakui bahwa omzet mereka turun hingga 30–50 persen sejak awal puasa.
“Biasanya kalau masuk Ramadan, apalagi menjelang berbuka, pengunjung ramai. Sekarang jauh berkurang. Bahkan, di akhir pekan pun sepi,” ujar seorang karyawan ritel pakaian di Grand Indonesia yang enggan disebut namanya.
Di ITC Cempaka Mas, yang dikenal sebagai pusat grosir tekstil dan pakaian, suasana tak jauh berbeda. Beberapa pedagang mengaku penjualan tak seramai tahun-tahun sebelumnya. “Biasanya kalau Ramadan, sudah banyak yang pesan baju seragam keluarga untuk Lebaran. Sekarang baru sedikit,” kata Amir, salah satu pedagang di ITC Cempaka Mas.
Daya Beli Melemah?
Sejumlah pengamat ekonomi menilai bahwa turunnya jumlah pengunjung di pusat perbelanjaan berhubungan dengan pelemahan daya beli masyarakat akibat tekanan ekonomi. Kenaikan harga pangan, inflasi yang meningkat, serta kebijakan fiskal yang tidak berpihak kepada masyarakat kelas menengah ke bawah dituding sebagai penyebab utama.
“Di tengah harga kebutuhan pokok yang naik, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka. Prioritas utama adalah makanan, bukan belanja barang tersier seperti pakaian atau barang elektronik,” kata Bhima Yudhistira, Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies).
Selain itu, beberapa konsumen kini lebih memilih belanja online karena lebih praktis dan sering kali menawarkan harga yang lebih murah. “Banyak yang bandingkan harga dulu di e-commerce sebelum beli di mal. Kalau lebih murah online, ya mereka pilih beli di sana,” ujar Sari, seorang pengunjung di Senayan City.
Dampak ke Sektor Kuliner
Restoran dan tenant makanan di food court pun mengalami hal serupa. Salah satu manajer restoran cepat saji di Mal Kota Kasablanka mengungkapkan bahwa jumlah pelanggan saat berbuka puasa berkurang drastis.
“Biasanya, antrean panjang menjelang buka puasa. Sekarang masih ada pelanggan, tapi tidak seperti tahun lalu,” katanya.
Tren ini juga terlihat di kafe dan restoran yang biasa menjadi tempat berbuka puasa bersama (bukber). Beberapa restoran bahkan menawarkan diskon besar untuk menarik pelanggan.
Faktor Perubahan Perilaku Konsumen?
Selain faktor ekonomi, ada dugaan bahwa perubahan pola konsumsi juga mempengaruhi sepinya pusat perbelanjaan. Pandemi COVID-19 yang telah berlalu mungkin masih meninggalkan kebiasaan baru dalam gaya hidup masyarakat, seperti lebih memilih belanja online dan menghindari keramaian.
“Sekarang orang lebih suka kumpul di rumah atau tempat yang lebih privat. Bukber di restoran sudah tidak seramai dulu, mungkin karena orang mulai merasa lebih nyaman berbuka bersama keluarga saja,” kata Putri, seorang pengunjung di Plaza Indonesia.
Kesimpulan:
Fenomena sepinya pusat perbelanjaan selama Ramadan tahun ini menjadi indikasi yang patut dicermati. Apakah ini hanya siklus sementara atau tanda perubahan jangka panjang dalam kebiasaan konsumsi masyarakat? Yang jelas, sektor ritel harus beradaptasi dengan strategi baru agar tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

























