“Harapan saya untuk sepak bola di Indonesia? Cukup. Ini yang terakhir. Tidak ada lagi sepak bola di Indonesia.”
Kisah tragis dan mengharukan dari salah satu korban, yaitu Mohammad Hafis,19 tahun. Ia dan pacarnya, tidak seharusnya berada di stadion Kanjuruhan pada Sabtu malam itu. Mereka tidak punya tiket. Tapi dia dan pacarnya berhasil mendapatkan gelang tanda masuk.
Itu adalah salah satu cara tubuh mereka dapat diidentifikasi oleh orang tua mereka beberapa jam kemudian, setelah menelusuri setiap mayat yang tergeletak di koridor rumah sakit, yang penuh sesak setelah tragedi stadion di Malang tersebut.
Ayah Mohammad Hafis, Alif, saat berjalan melewati koridor rumah sakit beberapa jam kemudian, bertanya-tanya apakah putra satu-satunya masih hidup. Dia mengatakan kepada istrinya untuk menguatkan keteguhan hatinya.
“Ketika saya dibertitahu mayat anak saya, saya mundur. Saya tidak ingin melihatnya. Itu terlalu berlebihan,” katanya kepada BBC.
“Dari lubuk hati yang paling dalam saya menangis. Tapi saya harus melepaskannya”, lirihnya.
“Harapan saya untuk sepak bola di Indonesia? Cukup. Ini yang terakhir. Tidak ada lagi sepak bola di Indonesia.”
Sedikitnya 125 orang – banyak dari mereka remaja seperti Mohammad – tewas terinjak-injak di stadion yang dipicu oleh polisi yang menembakkan gas air mata ke penonton. Petugas telah merespons dengan cara ini untuk meredam fans dari pihak yang kalah Arema FC yang menyerbu ke lapangan setelah peluit akhir.
Tapi tembakan Gas Air Mata yang menyengat itu – juga disemprotkan ke penggemar yang berada di tribun, kata saksi mata. Ini yang menyebabkan tidak bisa melihat dan sesak nafas terengah-engah. Itulah pemicu eksodus massal; penggemar melarikan diri ke pintu keluar stadion di mana banyak dari mereka meninggal, terinjak-injak atau mati lemas.
Semua pertandingan di Liga, kompetisi sepak bola papan atas Indonesia, telah dibatalkan, seperti yang diminta oleh Presiden. Sementara FIFA juga minta laporan rici atas kejadian tersebut.
Kemarahan publik lebih diarahkan kepada polisi karena penggunaan gas air mata, yang berlebihan. Badan sepak bola dunia FIFA mengatakan bahwa “gas pengendali massa” tidak boleh digunakan pada pertandingan – pedoman yang sering diabaikan di Indonesia.
“Mengapa polisi tidak menembakkan gas air mata ke lapangan? Mengapa mereka menembakkannya ke tribun?
“Ada banyak perempuan dan anak-anak dan banyak gerbang terkunci. Mereka tidak bisa keluar,” kata penyintas berusia 22 tahun Aris Umatul. Dia ngeri ketika dia berhasil keluar dari gerbang pada hari Sabtu untuk menemukan mayat di jalan dan orang-orang pingsan di sekitarnya.
Kelompok hak asasi manusia Indonesia dan internasional juga telah menekankan hal ini, seperti halnya para ahli keamanan.
Jacqui Baker, seorang ahli kepolisian dari Universitas Murdoch, menyoroti kekerasan yang ditunjukkan oleh polisi dan militer, yang juga telah diperbantukan dalam pertandingan tersebut. Pihak berwenang telah mengungkapkan sekitar 2.000 petugas – termasuk beberapa unit polisi dan tentara – hadir malam itu.
“Kami [melihat] pasukan polisi yang berbeda ini berlarian di sekitar lapangan, secara brutal menendang orang, memukul orang. Ini benar-benar perilaku yang tidak dapat diterima,” kata Dr Baker kepada BBC.
Polisi nasional telah memecat kepala daerah di Malang. Mereka telah menskors sembilan petugas lainnya dan mengatakan lusinan lainnya sedang diselidiki.
Para pejabat tidak memberikan perincian tentang peran mereka dalam bencana itu, tetapi mengatakan penggunaan gas air mata sedang diselidiki. Polisi setempat sebelumnya mengatakan mereka mengerahkan gas air mata untuk mencegah anarki.
Kekerasan sepakbola telah lama menjadi masalah di Indonesia, di mana persaingan sengit antara tim-tim besar sering terjadi. Namun tragedi Sabtu itu hanya melibatkan suporter Arema FC di kota kelahirannya, setelah sebelumnya pihak penyelenggara melarang suporter dari pihak lawan Persebaya Surabaya untuk menonton.
Pesepakbola Arema pun kembali memberikan penghormatan. Mengenakan ban lengan hitam, beberapa di antaranya menangis, mereka berlutut di lapangan dan berdoa.
Tumpukan sepatu masih berserakan di sekeliling stadion. Tanda-tanda protes dapat dilihat di antara para peserta dan pelayat yang menangis, dan pesan-pesan digoreskan di dinding.
Salah satunya berbunyi: “Saudaraku terbunuh. Kami menuntut penyelidikan menyeluruh.”


























