Berangkat dari sebuah twit Adhi Massardi di X, saya kembali teringat pada malam kelam 1 Oktober 2022 di Stadion Kanjuruhan, Malang. Dalam twitnya, Adhi menulis singkat, tapi menohok: “Kanjuruhan itu killing fields. Gas air mata jadi peluru. Suporter Arema jadi korban. Lebih 100 nyawa melayang. Tak ada yang bertanggung jawab.”
Kalimat itu sederhana, tapi mengandung ironi sejarah. Stadion yang seharusnya jadi panggung kegembiraan, berubah jadi ladang kematian. Aparat yang seharusnya melindungi, justru menjadi algojo dengan gas air mata sebagai senjata. FIFA sudah jelas melarang, tapi malam itu hukum internasional pun diinjak-injak.
Akibatnya, ratusan orang meregang nyawa. Bukan karena bom teroris, bukan pula karena kerusuhan massal, melainkan karena kebodohan, kesewenang-wenangan, dan ketakutan yang dibalas dengan kekerasan.
Dunia pun terhenyak. Dari Jerman, suporter Bayern Munich membentangkan spanduk raksasa: “MORE THAN 100 PEOPLE KILLED BY THE POLICE.” Pesan itu adalah dakwaan moral yang tak bisa dibantah. Indonesia dipermalukan di hadapan dunia, karena tragedi yang mestinya bisa dihindari, tapi justru dibiarkan terjadi.
Sayangnya, setelah semua jerit dan ratap itu, yang tersisa hanya sunyi. Proses hukum dijalankan setengah hati, pelaku utama menghilang di balik labirin kekuasaan. Negara sibuk menjaga citra, tapi abai pada keadilan. Hingga kini, keluarga korban masih menyalakan lilin di makam, menanti jawaban yang tak kunjung datang.
Kanjuruhan adalah cermin buram bangsa ini: kita cepat melupakan, pandai membuat janji, tapi lemah menegakkan keadilan. Kita lebih suka menutup luka dengan seremoni, ketimbang mengobatinya dengan kebenaran.
Dan ironi terbesar adalah: tak ada satu pun yang sungguh-sungguh bertanggung jawab.
Seolah-olah ratusan nyawa yang melayang hanyalah angka statistik. Padahal, di balik angka itu ada wajah, ada nama, ada mimpi yang direnggut paksa.
Twit Adhi Massardi itu mengingatkan kita: tragedi ini bukan sekadar catatan hitam sepak bola, tapi luka kemanusiaan yang akan terus menghantui, sampai bangsa ini berani jujur dan berani adil.






















