Jakarta – Fusilatnews – Menyusul tayangan video yang menayangkan momen Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terpeleset saat menjajal jembatan kaca di kawasan wisata Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, viral di media sosial.
Banyak netizen yang mempertanyakan keamanan dan keselamatan jembatan kaca tersebutDalam momen itu, pengunggah mengkritisi konstruksi jembatan kaca di kawasan Bromo yang berkontur menurun.
“Mau komplen tapi ini +62. Apa gak bahaya jembatan kaca tapi bentuknya menurun? Ini baru permulaan aja udah kepleset, gmn klo rame pengunjungnya + ada yg bawa anak. Apa gak Bahaya?” tanya pengunggah
Unggahan ini pun menarik perhatian warganet lain hingga menuai lebih dari 1,8 juta tayangan pada Sabtu (18/2).
Senada dengan pengunggah, beberapa pengguna Twitter menyebut bahwa Jembatan Kaca Seruni Point di Kawasan Bromo-Tengger-Semeru ini tampak licin dan berbahaya.
“Buat prosotan mungkin ini,” tulis salah satu warganet. “Gunung cuaca berkabut sering turun hujan. ini kontraktornya apa gak mikir berkaca klo basah akan licin klo banyak orang tinggal tunggu korban berjatuhan,’ kata warganet lain.
“Jembatan kaca kok menurun konturnya…dan di daerah yg dingin berembun ya licin lah,” tulis pengguna lain.
Menanggapi komentar netizen yang mempertanyakan keamanan dan keselamatan jembatan kaca tersebut Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi, Industri, dan Lingkungan sekaligus Juru Bicara Kementerian PUPR Endra S Atmawidjaja mengatakan, peristiwa dalam video terjadi saat kondisi hujan.
“Sudah disampaikan ke para tamu mengenai prosedur ke jembatan dalam kondisi hujan tidak diperbolehkan,” kata Endra , saat dikonfirmasi Sabtu .
Menurut Endra , sebelum para tamu termasuk Gubernur Jatim memasuki jembatan, sisa-sisa air di atas jembatan kaca sudah dibersihkan. Para tamu juga diimbau untuk berpegangan pada railing atau pagar jembatan.
Namun, salah satu tokoh adat Tengger, Supoyo, tiba-tiba terjatuh dan mengenai kaki Khofifah. Kejadian ini pun menurut Endra tidak menimbulkan cedera.
Oleh karena itu, terkait keamanan, Endra membenarkan bahwa tidak ada masalah dengan konstruksi Jembatan Kaca Seruni Point. “Insyaallah aman,” ucap Endra.
Staf Ahli Menteri PUPR ini memastikan, jembatan akan ditutup sementara saat hujan lebat atau lantai kaca dalam kondisi basah.
Bukan hanya itu, jembatan kaca juga akan dibersihkan dan dikeringkan terlebih dahulu sebelum kembali dibuka. “Jika sudah kering bisa dibuka kembali,” ujarnya.
Jembatan melintang dari barat ke timur, pengunjung jembatan kaca dapat melihat eksotika panorama sekitar, seperti tiga gunung api aktif, yakni Gunung Semeru, Bromo, dan Batok di sisi selatan.
Di sisi utara, pengunjung dapat melihat perbukitan, jurang, dan lahan pertanian warga Suku Tengger.
7
Sarana prasarana lainnya sebagai pelengkap berupa bangunan serba guna, termasuk amphitheater, drop zone, pavement area, shuttle zone, terminal, dan gapura penanda.
Jembatan ini membentang sepanjang 120 meter dan lebar 1,8 meter dengan struktur suspended cable. Jembatan ini memiliki sistem struktur lantai atau deck jembatan gantung berupa kaca pengaman berlapis yang terdiri dari dua lembar kaca atau lebih.
Kaca-kaca tersebut direkatkan satu sama lain hingga beberapa lapisan laminasi atau interlayer dengan total ketebalan 25,55 milimeter.
Lantai kaca ini sudah diuji dan mampu menahan beban mencapai 9 ton. Konstruksi jembatan kaca terpanjang di Indonesia ini juga mampu menampung 100 orang secara bersamaan.
Struktur jembatan dilengkapi double protection steel berupa baja galvanis yang dilapisi cat epoxy agar lebih tahan terhadap karat.

























