Bulan syaban adalah bulan kedelapan dalam kalender hijriyah yang berbasis pada qomariah. Bulan Syaban merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam, bulan yang didalamnya ada malam yang peling istimewa yaitu malam nisfu syaban yaitu . Laylatul Bara’ah atau Laylatun Nisfe min Syakban artinya “malam pengampunan dosa”, “malam berdoa” dan “malam pembebasan dari api neraka”,
Fusilatnews – Nisfu Syaban adalah peringatan pada tanggal 15 bulan kedelapan (syaban) dari kalender Islam. Pada Nisfu Syaban bisa disebut dalam berbagai nama seperti Laylatul Bara’ah atau Laylatun Nisfe min Syakban di dunia Arab dan sebagai Shab-e-barat di Afghanistan, Bangladesh, Pakistan, Iran, dan India.
Malam Nisfu Syaban adalah malam pada pertengahan bulan Syaban atau malam tanggal 15 Syaban.
Pada tahun ini malam Nisfu Syaban jatuh pada Selasa, 7 Maret 2023 hingga Rabu, 8 Maret 2023.
Banyak sekali amalan yang dapat dilakukan umat Islam pada Syaban. Beribadah pada Syaban dapat pula kita jadikan sebagai latihan dan persiapan diri menyambut Ramadhan.
Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani menjelaskan bahwa Syaban adalah bulan di mana kita dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Di beberapa daerah, perayaan Nisfu Syaban biasanya secara turun temurun sekaligus dijadikan momentum untuk mengenang leluhur.
Peneliti di Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangerang menjelaskan, Nisfu Syaban tahun 2023 jatuh pada mulai Selasa, 7 Maret 2023 malam hingga Rabu, 8 Maret 2023.
Berdasarkan pengamatan di beberapa titik di Balai Rukyat Nahdlatul Ulama (NU) pada 20 Februari 2023 silam.
“Dapat disimpulkan bahwa hilal tidak terlihat, sehingga bulan Rajab 1444 H digenapkan menjadi 30 hari, dan 1 Syaban 1444 H jatuh pada Rabu, 22 Februari 2023,” ujarnya, Jumat (3/3).
Pergantian hari pada kalender Hijriah berbeda dengan kalender Masehi, yakni setelah Matahari terbenam atau waktu maghrib.
Oleh karena itu, Nisfu Syaban akan jatuh sejak Rabu (7/3) setelah waktu maghrib hingga Kamis (8/3) sebelum maghrib. “Sehingga sejak Selasa malam itu sudah masuk malam Nisfu Syaban,” katanya.
Berdasarkan kitab Qut al-Qulub karya Al-Imam Abu Thalib al-Makki, bahwa para sahabat Nabi memberikan perhatian lebih saat malam Nisfu Sya’ban, dengan mengisi pelbagai amal ibadah, dan memperbuat kebajikan.
Malam Nisfu Sya’ban, termasuk malam yang sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Malam tersebut adalah malam yang sangat istimewa yang dalamnya terkandung pelbagai kebaikan.
Sebab pada malam tersebut mengandung pelbagai keistimewaan di banding malam-malam lain. Dalam sebuah hadits Rasulullah menjelaskan kemuliaan dari malam Nisfu Sya’ban yang dimanfaatkan oleh kalangan sahabat untuk berdoa dan meminta ampunan pada Allah.
kesucian malam nisfu Sya’ban karena padalam itu Allah menurunkan rahmatnya pada orang yang memohon ampunan pada-Nya.
Malam penuh ampunan Malam nisfu Sya’ban adalah malam penuh ampunan [malam lailu ghufran]. Untuk itu, seyogianya pada malam tersebut orang-orang yang merasa dirinya penuh dengan noda dosa dan keburukan, bertaubat kepada Allah.
Sebab pada malam penuh ampunan itu, Allah akan mengampuni seluruh dosa hamba-Nya. Semua amalan dan permintaan dikabulkan
Malam Nisfu Sya’ban adalah malam diterima segala permintaan (lailatu al ijabah). Sudah tak menjadi rahasia lagi, bahwa malam Nisfu Sya’ban termasuk dalam malam yang penuh dengan kucuran kebaikan dari Allah.
Selain mendapatkan ampunan, seseorang yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban juga akan mendapatkan kemuliaan, berupa dikabulkan permintaannya.
Berdasarkan hal tersebut, sudah sepatutnya pada malam tersebut, seorang muslim meminta kepada Tuhannya. Puasa jelang malam Nisfu Syaban Pada malam Nisfu Syaban, umat Islam dianjurkan untuk menunaikan puasa Aiyyamul Bidh dan memperbanyak syahadat serta memanjatkan doa-doa.
Puasa Aiyyamul Bidh atau puasa hari-hari putih adalah puasa yang dilakukan umat Muslim pada pertengahan bulan Qmariyah (tahun Hijriyah). Umumnya puasa ini dilaksanakan pada setiap tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulannya.
Menurut Sayyid Muhammad, di antara keistimewaan Syaban adalah bulan turunnya ayat ke-56 surat Al Ahzab di mana Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Lihat Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, Syahr Sya’ban Madza fih, hlm 9)
Selain memperbanyak membaca shalawat, Sayyid Muhammad bin ‘Alawi juga menganjurkan agar kita umat Islam sesering mungkin membaca Alquran.
Memang, membaca Alquran dianjurkan setiap waktu tanpa batasan, akan tetapi, menurut Sayyid Muhammad anjuran membaca Alquran lebih ditekankan lagi pada bulan dan tempat yang mengandung keberkahan. Seperti Ramadhan dan Syaban, Kota Makkah, Raudlah, dan lain sebagainya. (Syahr Sya’ban Madza fih, hlm 10)
Dengan mengutip hadits dlaif (lemah) yang masih bisa dijadikan sandaran untuk meraih fadilah laku amal, Sayyid Muhammad menghadirkan riwayat Anas bin Malik:
“Ketika memasuki bulan Syaban, orang-orang Muslim sibuk membaktikan diri di depan mushaf dan mereka membacanya, mereka juga mengeluarkan zakat yang diberikan kepada orang-orang lemah dan miskin agar mereka mampu menjalani puasa di bulan Ramadhan.” (Syahr Sya’ban Madza fih, hlm 10)
Mudah-mudahan Allah SWT mempermudah kita dengan memberi hidayah taufik, serta pertolongan supaya kita dapat sebanyak mungkin bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan banyak membaca Alquran.
Dikutip dari beberapa sumber.
























