Tulisan ini terinspirasi oleh pikiran Jokowi yang motto nya, “kerja-kerja-kerja”. Ini telah meracuni banyak orang kita, yang meremehkan arti berkata-kata. Padahal kita memaklumi, hasil kerja Jokowi, nihil besar. Klop dengan omongannya, sedikit tapi penuh dusta.
Selanjutnya, diksi dan semiotika Omon-omon, terlontar dari Prabowo Subianto – saat acara debat kemarin. Ungkapan frustasi, karena tak mampu berargumen seindah dan secerdas lawannya Anies Baswedan, disemburkanlah sebagai tangkisan, “jangan omon-omon saja”.
Sementara Anies Rasyid Baswedan memandang kemampuan berkomunikasi itu, baligh, adalah hal yang teramat penting. Sehingga terucaplah “jangan remehkan kata-kata”.
Pada tingkatan paling rendah, manusia persis seperti yang didefinisikan filsuf Perancis bernama Rene Descartes (1596-1650): Cogito, ergo sum. I think, therefore I am. “Aku berfikir, maka aku ada”. Filsuf muslim juga mengatakan hal serupa: al-insanu hayawanun nathiq (الانسان حيوان ناطق). Manusia adalah “binatang”, yang berakal. Berakal (berpikir) adalah bentuk kesadaran yang membuat kita “ada” (eksis) sebagai manusia.
Kita semua memang binatang. Fungsi-fungsi biologis kita 100 persen seperti umumnya hewan. Hanya karena ada akal, punya kemampuan berpikir, maka kita disebut manusia. Coba kalau hilang akal, kita menjadi binatang murni (yang hanya punya insting alamiah dan nafsu). Seandainya seekor monyet punya daya untuk berpikir, ia juga akan menjadi manusia. Anjing sekalipun, kalau punya nalar, sah kita sebut manusia.
Omon–omon yang saya maksud adalah, seperti yang tersurat dalam Al-quran; tercantum dalam Ar Rahman (55): 3-4 bahwa manusia telah Allah ciptakan dan karuniai kemampuan menyampaikan. “Khalaqal insan, ‘allamahul bayan (Dia menciptakan manusia, mengajarinya pandai berbicara).”
Dalam beberapa tafsir, Al Bayan itu bukan sekedar kata-kata kosong melainkan kemampuan atau kecerdasan berpikir untuk memahami dengan benar serta kemampuan memberikan penjelasan kepada orang lain dengan benar dan baik pula.
Kemampuan berbicara adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Mulai dari belajar, mendapatkan pemahaman, menyampaikan ilmu, mengutarakan isi hati, hingga menumbuhkan dan memelihara suatu hubungan sosial.
Ada banyak tokoh dunia yang terkenal karena kemampuan berbicaranya. Mereka sangat luar biasa dalam kemampuan memengaruhi dan mengubah pikiran manusia.
Kita masih ingat seperti Martin Luther King Jr. Ia adalah seorang Pendeta dan aktivis hak sipil Amerika Serikat. Dikenang dan dikenal karena pidato-pidatonya yang kuat, terutama “I Have a Dream” yang disampaikannya pada 28 Agustus 1963 selama Mars Washington untuk Pekerjaan dan Kebebasan.
Dibelahan bumi Afrika, ada tokoh revolusioner Nelson Mandela. Mantan Presiden Afrika Selatan ini memainkan peran kunci dalam mengakhiri rezim apartheid. Pidatonya yang mendalam dan berpikir kritis telah memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Neslon Mandela, penyuka batik itu, karena omon-omonya, menjadi legenda tokoh dunia.
Dibelahan Eropah, tepatnya di Inggris ada Winston Churchill. Perdana Menteri Britania Raya ini memainkan peran kunci selama Perang Dunia II. Pidatonya yang memotivasi, termasuk “We Shall Fight on the Beaches,” dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah.
Belakang ada Barack Obama, pidatonya yang kita saksikan bersama, telah membawananya kekursi Kepresidenan Amerika selama dua periode. Presiden Amerika Serikat ini dikenal karena kemampuan berbicaranya yang memukau dan inspiratif. Pidato-pidatonya sering kali dianggap sebagai klasik modern, seperti pidatonya saat menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2009.
Bakso..bakso.. ini diksi yang telah memukau rakyat Indonesia, keluar dari omon-omon Obama saat berkunjung ke Jakarta. Itulah kemampuan omon-omon.
Dibelahan Asia ada Mahatma Gandhi, sosok ini jga jago omon-omon yang dikenang sepanjang masa. Pemimpin pergerakan kemerdekaan India ini dikenal karena filosofi ahimsa (ketidakkekerasan) dan pidatonya yang menginspirasi. Keterampilan berbicaranya memainkan peran penting dalam menggalang dukungan untuk perjuangannya.
Ah jangan dilupakan juga Malala Yousafzai. Gadis muda belia, aktivis hak pendidikan perempuan asal Pakistan ini telah menyampaikan pesan penting tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. Pidato-pidatonya menggugah dan memotivasi banyak orang.
Kita juga punya ustadz Abdul Shomad – yang setiap kali berdakwah didalam dan diluar negeri, selalu dijejali oleh ratusan ribu jamaah. Ia melegenda seperti alm KH. Zaenudin MZ.
Mereka semua memiliki kemampuan omon-omon dengan karismatik, memberikan pesan-pesan yang kuat, dan memotivasi perubahan dalam pikiran manusia serta masyarakat.


























