Sebuah kertas, seperti manusia, punya riwayat kelahirannya sendiri. Ia lahir dari pabrik, dari serat pohon, dari mesin-mesin yang menderu dalam pabrik kertas yang jauh. Ia menyerap udara, cahaya, bahkan debu zamannya. Ia tumbuh tua, lapuk, atau kadang—karena tangan manusia—disulap agar tampak muda.
Kita kadang mengira kertas itu bisa dibungkam selamanya. Bahwa sebuah foto bisa ditempel di atasnya, sebuah cap ditekan ke sudutnya, sebuah cerita baru ditulis di atas tubuh rapuhnya, lalu semua itu akan diam. Tak ada yang bertanya, tak ada yang menguji. Dunia bergerak cepat, dan kertas hanya tinggal kertas.
Tapi zaman, sebagaimana air yang membasahi tanah, tak bisa sepenuhnya dihalangi. Ada teknologi yang lahir—bukan dari konspirasi, bukan dari rasa curiga, melainkan dari kebutuhan manusia untuk mencari tahu. Radiocarbon dating, misalnya. Nanotechnology Based Assessment, misalnya. Keduanya membuka sesuatu yang tak kasat mata: usia tinta, usia kertas, tanggal dan musim ketika dokumen itu lahir, atau diciptakan.
Dan tiba-tiba kertas itu berbicara. Ia menceritakan tentang musim ketika ia belum ada, tentang nama yang disematkan padanya bertahun-tahun setelah seharusnya. Ia menjadi saksi bisu yang tak bisa diajari berbohong.
Namun, anehnya, ketika kertas itu berbicara, manusia justru menutup telinga. Yang diburu bukanlah pemalsu cerita, melainkan pembawa kabar. Bambang Tri, misalnya, dijebloskan ke dalam ruang pengap. Bukunya dianggap berbahaya, lebih berbahaya daripada kebohongan itu sendiri.
Barangkali manusia memang punya ketakutannya sendiri terhadap kebenaran. Bukan karena kebenaran itu mengancam, melainkan karena kebenaran menghapus rasa nyaman yang sudah lama dipeluk.
Kita lebih memilih wajah-wajah yang kita kenal. Kita lebih memilih cerita-cerita yang sudah kita hafal. Kita lebih memilih bertepuk tangan untuk kebohongan yang manis ketimbang menerima kenyataan yang pahit.
Tapi waktu, seperti kertas itu, tak pernah benar-benar diam. Ia menyerap, mencatat, mengendap. Suatu hari, entah esok atau nanti, sejarah akan memungut potongan-potongan kertas itu dan membaca ulang apa yang telah kita abaikan hari ini.
Mungkin kelak, ketika semua kebesaran itu runtuh, yang tinggal hanya selembar kertas tua dengan suara lirihnya:
“Aku ada. Aku tahu kapan aku dilahirkan. Dan kamu telah memalsukanku.”
Di ujung cerita ini, kita bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang lebih kuat, manusia yang berbohong atau kertas yang jujur?
Dan mungkin jawaban itu, pelan-pelan, sedang bergerak ke arah kita.
Kertas tidak pernah melupakan.
Kitalah yang terlalu sering berpura-pura lupa.




















