• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Crime

Ketika Mahasiswa Mulai Belajar Korupsi

Ali Syarief by Ali Syarief
June 24, 2026
in Crime, Feature, Komunitas
0
Ketika Mahasiswa Mulai Belajar Korupsi
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Jika benar uang Rp20 juta itu telah diterima, lalu diakui sendiri oleh penerimanya, bahkan dibagikan kepada rekan-rekannya, maka persoalannya sudah bukan lagi dugaan. Persoalannya adalah sebuah potret yang sangat menyedihkan tentang krisis integritas di kalangan generasi muda.

Yang membuat publik marah bukan angka Rp20 juta itu.

Publik marah karena yang menerima bukan preman jalanan, bukan calo terminal, bukan mafia proyek.

Yang menerima adalah mahasiswa.

Lebih ironis lagi, seorang ketua BEM Fakultas Hukum.

Fakultas Hukum.

Tempat orang belajar tentang keadilan, etika, konstitusi, dan supremasi hukum.

Sulit membayangkan ironi yang lebih menyakitkan daripada itu.


Selama ini masyarakat sering bertanya mengapa korupsi tidak pernah habis di Indonesia.

Mengapa setiap generasi melahirkan koruptor baru.

Mengapa penjara penuh dengan mantan pejabat yang dulunya dikenal pintar, cerdas, bahkan aktivis.

Jawabannya mungkin ada di sini.

Korupsi ternyata tidak lahir ketika seseorang menjadi menteri.

Korupsi tidak muncul ketika seseorang menjadi gubernur.

Korupsi tidak dimulai saat seseorang duduk di kursi direksi BUMN.

Korupsi dimulai ketika seseorang pertama kali menerima uang yang bukan haknya, lalu mencari seribu alasan untuk membenarkannya.

Hari ini alasannya mungkin sederhana:

“Saya tidak menikmati sendiri.”

“Uangnya dibagi kepada teman-teman.”

“Untuk kegiatan.”

“Untuk operasional.”

“Semua juga tahu.”

Padahal logika seperti itulah yang selama puluhan tahun dipakai para koruptor untuk membenarkan kejahatannya.

Korupsi tidak menjadi halal hanya karena hasilnya dibagi-bagi.

Kalau seorang maling mencuri motor lalu membagikan hasilnya kepada lima orang temannya, apakah pencurian itu menjadi perbuatan mulia?

Tentu tidak.


Yang lebih mengkhawatirkan adalah mentalitas yang terbentuk.

Jika pada usia dua puluhan seseorang sudah percaya bahwa idealisme bisa ditukar dengan uang, maka apa yang akan terjadi ketika ia memegang anggaran miliaran rupiah?

Jika hari ini aksi mahasiswa bisa dinegosiasikan dengan Rp20 juta, berapa harga yang harus dibayar ketika nanti ia memiliki kewenangan proyek Rp200 miliar?

Di sinilah letak bahayanya.

Bukan pada jumlah uangnya.

Tetapi pada karakter yang sedang dibentuk.

Karena karakter koruptif selalu dimulai dari transaksi kecil yang dianggap sepele.


Dulu mahasiswa dikenal sebagai kelompok yang menakutkan bagi penguasa.

Mereka turun ke jalan tanpa bayaran.

Mereka menentang rezim dengan risiko ditangkap.

Mereka bergerak karena keyakinan.

Kini muncul generasi yang justru harus ditanya terlebih dahulu:

“Berapa tarifnya?”

Jika demonstrasi bisa dibeli, jika kritik bisa dinegosiasikan, jika suara mahasiswa bisa diperdagangkan, maka yang mati bukan hanya idealisme kampus.

Yang mati adalah fungsi moral mahasiswa sebagai penjaga nurani bangsa.


Kasus ini seharusnya menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan tinggi.

Universitas tidak cukup hanya menghasilkan sarjana yang cerdas.

Negeri ini sudah kelebihan orang pintar.

Yang kurang adalah orang berintegritas.

Karena bangsa ini tidak pernah hancur akibat kekurangan gelar akademik.

Bangsa ini hancur ketika orang-orang berpendidikan kehilangan rasa malu.

Dan mungkin itulah pelajaran paling pahit dari peristiwa ini:

Mereka belum menjadi pejabat.

Belum menjadi anggota DPR.

Belum menjadi menteri.

Belum mengelola uang negara.

Tetapi bibit-bibit korupsinya sudah tumbuh.

Jika tunasnya sudah seperti ini, publik tentu berhak khawatir seperti apa pohonnya kelak.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Siswi DAFI School Makassar Raih Juara 3 Duta Baca Pelajar Kota Makassar 2026

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Mengurai Hadis Puasa Asyura: Kritik Historis atas Sebuah Tradisi Keagamaan
Feature

Mengurai Hadis Puasa Asyura: Kritik Historis atas Sebuah Tradisi Keagamaan

June 24, 2026
Militerisasi Koperasi: Salah Alamat, Overdosis Kedisiplinan
Birokrasi

Militerisasi Koperasi: Salah Alamat, Overdosis Kedisiplinan

June 24, 2026
Dari Kubah ke Kesejahteraan: Saatnya Menghidupkan Wakaf Produktif
Feature

Dari Kubah ke Kesejahteraan: Saatnya Menghidupkan Wakaf Produktif

June 24, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok
Law

Mengapa Penangkapan Roy Suryo dan Tifa Seperti Teroris? Ini Kata IPW!

by Karyudi Sutajah Putra
June 22, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Penangkapan Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma yang dilakukan penyidik Polda Metro Jaya, Jumat (19/6/2026), terkesan seperti menangkap teroris....

Read more
Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

June 22, 2026
MBG dan Adu Domba Rakyat

MBG dan Adu Domba Rakyat

June 22, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ketika Mahasiswa Mulai Belajar Korupsi

Ketika Mahasiswa Mulai Belajar Korupsi

June 24, 2026
Siswi DAFI School Makassar Raih Juara 3 Duta Baca Pelajar Kota Makassar 2026

Siswi DAFI School Makassar Raih Juara 3 Duta Baca Pelajar Kota Makassar 2026

June 24, 2026
Mengurai Hadis Puasa Asyura: Kritik Historis atas Sebuah Tradisi Keagamaan

Mengurai Hadis Puasa Asyura: Kritik Historis atas Sebuah Tradisi Keagamaan

June 24, 2026
Militerisasi Koperasi: Salah Alamat, Overdosis Kedisiplinan

Militerisasi Koperasi: Salah Alamat, Overdosis Kedisiplinan

June 24, 2026
Dari Kubah ke Kesejahteraan: Saatnya Menghidupkan Wakaf Produktif

Dari Kubah ke Kesejahteraan: Saatnya Menghidupkan Wakaf Produktif

June 24, 2026
Menanti Saatnya Perang Diametral: Prabowo vs Jokowi

Menanti Saatnya Perang Diametral: Prabowo vs Jokowi

June 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Mahasiswa Mulai Belajar Korupsi

Ketika Mahasiswa Mulai Belajar Korupsi

June 24, 2026
Siswi DAFI School Makassar Raih Juara 3 Duta Baca Pelajar Kota Makassar 2026

Siswi DAFI School Makassar Raih Juara 3 Duta Baca Pelajar Kota Makassar 2026

June 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...