Kekuasaan yang diraih dengan pemaksaan sejak awal hampir selalu menyisakan kegelisahan di akhir. Ketika seseorang terlalu berambisi menjadi pejabat tertinggi, maka yang pertama kali dipersiapkan bukanlah kapasitas moral atau kejujuran intelektual, melainkan atribut-atribut artifisial: ijazah harus diadakan, tim harus disiapkan, konsep pencitraan diri harus dirancang, dan buzzer harus bekerja tanpa henti.
Jadilah seperti Jokowi—demikian kira-kira narasi yang diproduksi dan direproduksi. Seorang figur yang dibangun bukan dari rekam jejak gagasan, tetapi dari citra kesederhanaan yang terus dipoles. Politik kemudian bergeser dari arena adu argumen menjadi panggung sandiwara. Yang penting bukan benar atau salah, melainkan viral atau tidak. Bukan substansi, tetapi persepsi.
Dalam proses itu, kebenaran menjadi fleksibel. Kebohongan tidak lagi dipandang sebagai dosa publik, melainkan strategi. Ijazah bukan lagi simbol pencapaian intelektual, melainkan alat legitimasi kekuasaan. Tim sukses bukan sekadar pendukung, tetapi pasukan yang bertugas menutup celah logika dan menenggelamkan kritik. Sementara buzzer menjadi mesin kebisingan yang mengaburkan akal sehat publik.
Namun kekuasaan selalu memiliki masa kedaluwarsa. Ketika jabatan berakhir, panggung dibongkar, lampu sorot dimatikan, dan buzzer kehilangan upahnya, yang tersisa hanyalah satu hal: tuntutan rakyat. Di titik itulah kebohongan yang dulu dianggap tak berbahaya berubah menjadi beban sejarah. Setiap pernyataan lama ditarik kembali, setiap jejak digital dibongkar, setiap kebijakan dipertanyakan motif dan manfaatnya.
Jadilah seperti Jokowi saat ini—seorang mantan pejabat yang tak lagi dilindungi kekuasaan formal. Tidur tak lagi nyenyak, tubuh melemah, dan pikiran dihantui pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan pencitraan. Ketakutan terbesar bukan sekadar kehilangan kehormatan, melainkan kemungkinan dimintai pertanggungjawaban secara hukum dan moral. Penjara, dalam konteks ini, bukan hanya ruang fisik, tetapi juga penjara batin: rasa bersalah, kecemasan, dan bayang-bayang masa lalu.
Esai ini bukan sekadar kritik terhadap satu figur, melainkan peringatan bagi siapa pun yang bercita-cita memimpin. Kekuasaan yang dibangun di atas rekayasa akan runtuh oleh kebenaran. Jabatan tertinggi bukan hadiah bagi mereka yang paling lihai berbohong, tetapi amanah bagi mereka yang berani jujur sejak awal. Sebab pada akhirnya, tidak ada tim, buzzer, atau pencitraan yang mampu menyelamatkan seseorang dari pengadilan sejarah.


























