Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Prabowo Subianto ternyata tak kalah jenaka dari komika Pandji Pragiwaksono yang baru-baru ini tampil dalam pertunjukan stand up comedy bertajuk, “Mens Rea” (Niat Jahat) di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta. Bahkan saking jenakanya, tak sadar Presiden RI itu seolah mengolok-olok dirinya sendiri.
Dan itulah akibatnya kalau menjadi seorang pemimpin mencla-mencle, esuk dhele sore tempe (pagi kedelai sore tempe), alias pernyataannya berubah-ubah. Simak saja!
Dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025), Prabowo mengaku telah dihubungi beberapa pemimpin negara lain yang menawarkan bantuan untuk bencana Sumatera, namun dia menolaknya.
“Saya ditelepon banyak pimpinan kepala negara yang ingin kirim bantuan. Saya bilang terima kasih, concern Anda. Kami mampu. Indonesia mampu mengatasi ini,” katanya seperti dikutip banyak media.
Ya, dengan dalih Indonesia mampu, Prabowo menolak uluran tangan negara-negara asing yang hendak memberikan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan ribuan orang.
Dua pekan kemudian, dalam rapat bersama sejumlah menteri di Aceh, Kamis (1/1/2026), Prabowo menyampaikan hal sebaliknya. Prabowo siap menerima bantuan kemanusiaan dari negara-negara asing bagi rakyat di tiga provinsi di Pulau Sumatera yang baru saja dilanda bencana.
“Ini ‘kan masalah kemanusiaan. Kalau siapa pun yang mau bantu, masa kita tolak? Bodoh sekali kalau kita tolak,” katanya seperti dilansir banyak media.
Pada pernyataan pertama, ada kepongahan Prabowo di sana. Sebab bantuan kemanusiaan dari negara asing adalah sesuatu yang lazim bagi sebuah negara yang sedang ditimpa bencana. Tsunami Aceh 26 Desember 2004 misalnya.
Indonesia tak pernah kehilangan harga diri gara-gara bantuan internasional untuk korban tsunami Aceh. Indonesia juga tidak kehilangan kedaulatan gegara bantuan negara-negara asing untuk rakyat bumi Serambi Mekah itu.
Bahkan akibat penolakan bantuan asing itu, terjadi “konflik” antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sebab faktanya, Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem justru mau menerima bantuan dari Malaysia dan China berupa tenaga medis, obat-obatan dan sembako.
Lalu timbullah syakwasangka bahwa ada yang coba disembunyikan Prabowo di Sumatera. Mungkin Prabowo punya hutan di sana. Mungkin bekas Komandan Jenderal Kopassus itu punya kebun kelapa sawit di sana. Mungkin ia akan terusik jika ada orang asing atau lembaga internasional yang terjun langsung ke kawasan bencana. Mungkin!
Sementara dalam pernyataan kedua, ada perasaan getir bahkan keputusasaan Prabowo di sana. Setelah sebulan berlalu, ternyata masih banyak masalah yang belum teratasi di lokasi bencana. Prabowo pun berubah sikap dari sebelumnya menolak menjadi mau menerima bantuan asing.
Dalam pernyataan kedua itu, Prabowo justru seolah mengolok-olok dirinya sendiri. Membodohkan dirinya sendiri. Ia menyatakan, “Bodoh sekali kalau kita tolak.”
Padahal dirinyalah yang pernah menolak bantuan asing. Ketika Prabowo menyatakan bodoh sekali kalau kita tolak, berarti pernyataan itu ditujukan bagi dirinya sendiri, karena sekali lagi, dialah yang menolak bantuan asing itu.
Alhasil, Prabowo tak kalah jenaka dari komika Pandji Pragiwaksono yang pertunjukannya masih menjadi perbincangan hangat saat ini. Ada olok-olok di sana. Dan olok-olok itu Prabowo tujukan bagi dirinya sendiri.
Ada satire di sana. Dan sindiran itu justru Prabowo tujukan bagi dirinya sendiri. Itulah!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)



















