• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketika Prabowo Menyerahkan “Leher”-nya ke Donald Trump

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
February 18, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
TRUMPISME, PRABOWOISME DAN GERHANA GLOBALISME
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Inggris kita linggis. Amerika kita seterika. (Bung Karno)

Kini, kondisi kontras justru diperlihatkan Prabowo Subianto yang pidato-pidatonya kerap menggelegar. Bahkan ada yang menjuluki Presiden RI itu sebagai “the litle Soekarno” (Soekarno kecil). Ironisnya, Prabowo justru menyerah kepada Amerika dan ibarat menyerahkan lehernya kepada Donald Trump.

Ya, sejak Senin (16/2/2026) lalu, Prabowo Subianto bertolak ke Amerika Serikat (AS). Kamis (19/2/2026) esok, Presiden RI itu dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump.

Ada dua agenda resmi Prabowo di negeri Paman Sam itu. Pertama, menandatangani Agreement on Reciprocal Trade. Kedua, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Board of Peace atau Dewan Perdamaian.

Board of Peace adalah lembaga bentukan pribadi Donald Trump untuk pembangunan kembali Kota Gaza, Palestina, akibat gempuran tentara Israel.

Adapun Agreement on Resiprocal Trade atau lebih dikenal dengan istilah tarif Trump adalah persetujuan perdagangan timbal-balik yang diterapkan Trump kepada negara-negara lain, terutama yang tidak kooperatif terhadap AS.

Indonesia semula dikenakan tarif 32 persen atas barang-barang yang diekspor ke AS. Setelah dilakukan negosiasi alot, akhirnya diturunkan menjadi 19 persen. Sebaliknya, barang-barang AS yang diimpor Indonesia dikenakan tarif 0 persen.

Kesepakatan yang tidak adil inilah yang akan ditandatangani Prabowo di hadapan Trump. Dengan kata lain, terhadap dua agenda resmi tersebut, sesungguhnya Prabowo sedang menyerahkan “leher”-nya kepada Trump untuk ditebas.

Prabowo adalah Presiden RI. Artinya, mantan Komandan Jenderal Kopassus ini sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan Indonesia. Ketika “leher” Prabowo sudah diserahkan ke Trump untuk ditebas, maka hilanglah kedaulatan negara bernama Indonesia. Indonesia kini berada di impitan ketiak Trump.

Indonesia adalah negara cinta damai. Tapi lebih cinta kemerdekaan. Sebab itu, Indonesia sejak dulu hingga kini selalu mendukung perjuangan rakyat Palestina merdeka dari penjajahan zionis Israel.

Ikut meciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial juga merupakan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 khususnya alinea ke-4. Dalam kerangka itulah Indonesia menganut prinsip politik luar negeri bebas aktif. Bebas tidak bergabung dengan blok tertentu, aktif memperjuangkan kemerdekaan negara lain dan perdamaian dunia.

Apakah masuknya Indonesia ke Board of Peace sebagai upaya memperjuangkan kemerdekaan Palestina dari pendudukan zionis Israel sesuai amanat konstitusi?

Mungkin benar. Tapi bisa jadi itu sekadar kamuflase belaka. Yang terjadi sesungguhnya adalah Prabowo takut menghadapi ancaman Trump.

“If you can’t beat them, join them”. Mungkin inilah prinsip yang dianut Prabowo. Ketika tidak mampu memukul, Prabowo pun berusaha merangkul Trump. Tujuannya: agar tidak dijatuhi tarif yang lebih besar lagi.

Jadi, sesungguhnya Prabowo mengalami ketakutan sehingga mau masuk menjadi anggota Board of Peace yang di dalamnya ada Israel, tapi tanpa Palestina. Prabowo bahkan rela merogoh kocek negara hingga Rp17 triliun hanya untuk membayar iuran masuk Board of Peace.

Apakah yang dilakukan Prabowo tidak melanggar prinsip politik luar negeri bebas aktif?

Masih debatable (jadi perdebatan). Di satu sisi, Board of Peace adalah inisiatif pribadi Donald Trump. Akan tetapi di sisi lain faktanya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak melarang, bahkan terindikasi merestui.

Tapi siapa yang masih percaya dengan Trump dan Israel dalam urusan Palestina? Sudah berkali-kali AS dan Israel ingkar janji terhadap apa yang telah disepakati dengan Palestina. Misalnya tentara Israel tetap melakukan serangan militer di tengah gencatan senjata. Hal ini sudah berulang kali terjadi.

Ada pepatah Tiongkok: jenis mencari jenis. Emas mencari emas. Perak mencari perak.

AS berteman dengan Israel yang merupakan negara penjajah. Dengan bergabung bersama Israel di Board of Peace bentukan pribadi Trump, apakah berarti Indonesia hendak berteman dengan Israel?

Bagaimana bisa membicarakan nasib rakyat Palestina tanpa menyertakan pemimpin Palestina, malah menyertakan pemimpin Israel dan AS?

Ada yang berasumsi, Indonesia akan lebih efektif memperjuangkan nasib rakyat Palestina jika dilakukan dengan cara berteman dengan Israel. Kalau memang demikian, mengapa tidak sekalian saja Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel?

Sejak dulu Indonesia menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Dengan ini justru Indonesia secara moral dan politik hendak membuat garis demarkasi dengan Israel bahwa Indonesia berbeda dengan Israel yang merupakan negara penjajah.

Secara moral dan politik, langkah Indonesia yang tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel telah memberikan kekuatan tesendiri terhadap moral perjuangan rakyat Palestina.

Kini, ketika Indonesia bergabung dengan Board of Peace yang tanpa Palestina, sedikit-banyak moral perjuangan rakyat Palestina menurun, bahkan ada persepsi lain rakyat Palestina terhadap Indonesia.

Dan ironisnya, semua itu terjadi hanya karena Prabowo takut menghadapi Donald Trump. If you can’t them, join them!

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Rp11,92 Triliun Bantuan Pangan: Antara Kemanusiaan, Keadilan, dan Ujian Moral Negara

Next Post

Saat Perut Kosong, Otak Bekerja Lebih Tajam

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Akhlak Dedi Mulyadi: Masih Akhlak Bupati
daerah

Kinerja KDM Dinilai Buruk, DPRD Jabar Sodorkan 83 Catatan Keras untuk Pemprov

May 15, 2026
“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan
Birokrasi

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026
Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan
Feature

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

May 15, 2026
Next Post
Saat Perut Kosong, Otak Bekerja Lebih Tajam

Saat Perut Kosong, Otak Bekerja Lebih Tajam

Guru Honorer dan Martabat Konstitusi: Antara Amanat Negara dan Realitas Pendidikan Indonesia

Karma Politik Indonesia: Bangsa yang Sedang Menuai Tindakannya Sendiri

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Akhlak Dedi Mulyadi: Masih Akhlak Bupati

Kinerja KDM Dinilai Buruk, DPRD Jabar Sodorkan 83 Catatan Keras untuk Pemprov

May 15, 2026
Trump Temui Xi di Beijing, China Tegaskan Peringatan Keras Soal Taiwan

Trump Temui Xi di Beijing, China Tegaskan Peringatan Keras Soal Taiwan

May 15, 2026
KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

KAHMI Dukung Iran, Singgung Dukungan Prabowo terhadap BoP

May 15, 2026
“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

“Bacot” KSAD dan Akrobat Regulasi di Balik Pangkat Sang Ajudan

May 15, 2026
Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

Dulu Negara Menontonkan Mimpi, Kini Rakyat Menonton Kegagalan

May 15, 2026
Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi

Dari Jalanan ke Kursi Kekuasaan: Ketika Aktivis Menjadi Peredam Demokrasi

May 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Akhlak Dedi Mulyadi: Masih Akhlak Bupati

Kinerja KDM Dinilai Buruk, DPRD Jabar Sodorkan 83 Catatan Keras untuk Pemprov

May 15, 2026
Trump Temui Xi di Beijing, China Tegaskan Peringatan Keras Soal Taiwan

Trump Temui Xi di Beijing, China Tegaskan Peringatan Keras Soal Taiwan

May 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...