Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Jakarta, Fusilatnews – Masih ingatkah kita akan sosok Khalid bin Walid? Jika tidak, maka tengoklah Kholid (50-an), seorang nelayan miskin asal Desa Kronjo, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Banten, yang keberaniannya menyerupai Khalid bin Walid, panglima perang yang mendapat julukan “Saifullah al-Maslul” atau “Pedang Allah yang Terhunus” dari sahabatnya, Rasulullah Muhammad SAW.
Jika dulu Khalid bin Walid berhasil menaklukkan Persia dan Romawi, bahkan menyatukan seluruh wilayah Arab, maka kini Kholid sang nelayan miskin asal Banten itu bertekad melawan sebuah korporasi.
Apa korporasi itu? Ialah perusahaan yang diduga berada di balik pemasangan pagar bambu ilegal sepanjang 30,16 kilometer di laut utara Kabupaten Tangerang, Banten.
Banyak orang menyebut pelaku pemasangan pagar laut ilegal itu ialah perusahaan pemilik Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dan Sertifikat Hak Milik (SHM) di area yang dipasangi pagar ilegal itu.
Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nusron Wahid mengonfirmasi ada 263 bidang tanah dalam bentuk SHGB yang diterbitkan. Rinciannya, atas nama PT Intan Agung Makmur sebanyak 234 bidang, atas nama PT Cahaya Inti Sentosa sebanyak 20 bidang, dan atas nama perorangan sebanyak 9 bidang. Ada pula SHM sebanyak 17 bidang.
Kedua perusahaan tersebut terafiliasi dengan Agung Sedayu Group milik Sugianto Kusuma alias Aguan, pengembang Proyek Strategis Nasional (PSN) Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 yang jaraknya cuma sepelemparan batu dari pagar laut ilegal itu.
Kholid bahkan terang-terangan menyebut pihak yang berada di balik pemasangan pagar laut ilegal itu adalah korporasi yang kini sedang membangun PIK 2.
Kholid sendiri berasal dari Kabupaten Serang, bukan dari Kabupaten Tangerang, meskipun sama-sama masuk wilayah Provinsi Banten.
Kholid paling getol menolak keberadaan pagar bambu ilegal yang menyusahkan nelayan saat hendak pergi dan pulang melaut itu. “Kalau tidak setertindas ini, saya tak akan melawan,” katanya saat tampil di sebuah acara talkshow salah satu stasiun televisi baru-baru ini.
Kholid mengaku tak percaya pagar bambu sepanjang 30,16 km dan setinggi 6 meter itu dibangun dengan swadaya masyarakat, di mana ada sekitar 5 juta bambu yang dibutuhkan dengan harga paling murah Rp15 ribu per batang. Pasalnya, buat makan sehari-hari saja nelayan sudah kesulitan.
Kholid juga tak percaya kalau dianggap pagar misterius itu begitu rumitnya. Yang bisa melakukan itu, katanya, pastilah orang yang punya banyak duit.
Kholid mengaku sudah pernah melaporkan terkait pagar laut itu ke Dinas Kelautan dan Perikanan setempat, namun tak juga digubris dan ditindaklanjuti. Barulah setelah viral, pagar laut tersebut jadi atensi nasional hingga dibongkar oleh TNI atas perintah Presiden Prabowo Subianto.
Kholid mengaku kecewa karena pemasangan pagar laut ilegal itu merupakan indikasi dari pencaplokan negara oleh korporasi. “Kok ini negara seperti sudah dicaplok korporasi. Takut amat? Indonesia itu Tanah Air. Kalau airnya sudah dicaplok, tanahnya sudah dicaplok, negara akan hilang. Ini akan terjadi di seluruh Indonesia,” paparnya.
“Banten itu tolok ukur Indonesia. Kalau Banten kalah, Indonesia akan kalah. Kalau Banten menang, Indonesia akan menang,” lanjutnya.
Kholid mengaku berani melawan dalang di balik pembangunan pagar laut ilegal itu. “Saya begini marah, emosi, hampura (maaf) ya, saya tidak ingin dikelola oleh korporasi-korporasi. Kalau saya dikelola oleh korporasi, sampai kiamat kita ini akan miskin terus, modelnya ya begini ini, bikin miskin,” cetus Kholid.
“Kalau negara enggak berani melawan korporasi, saya yang akan melawan. Dan saya akan pimpin masyarakat Banten untuk melawan korporasi itu, sudah siap, saya nyatakan dengan jelas. Bukan melawan negara ya, tapi melawan korporasi,” lanjutnya.
Kholid juga mengaku banyak mendapat ancaman, intimidasi dan teror, namun ia tidak takut, bahkan siap mati.
“Semua kejayaan, kekayaan, jabatan dan sebagainya itu hanya kesementaraan. Semua akan musnah. Tapi kalau keabadian, tujuannya hanya kepada Allah, itu akan abadi,” terang Kholid yang namanya memang bermakna kekal abadi.
Kematian, lanjut Kholid, cuma ibarat telur yang menetas, di mana ketika cangkang telur itu merekah pecah, isi telurnya menjadi makhluk yang hidup di tempat yang lebih luas, tidak terkungkung raga. “Apa hidup ini hanya sebatas di dunia ini? Tidak. Kita akan hidup abadi dengan berpindah alam. Jadi, buat apa takut, toh ujungnya sama, mati,” tandasnya.
Kholid bisa saja nanti mati saat melawan Aguan yang dikenal sebagai salah satu dari 9 Naga. Namun, keberaniannya dalam membela kebenaran dan keadilan akan kekal abadi seperti namanya, seperti Khalid bin Walid, “Pedang Allah yang Terhunus” yang tak pernah terkalahkan dalam perang.




















