• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

KONTROVERSI LEGITIMASI

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
December 27, 2024
in Feature, Politik
0
Sekelompok Raja Kecil di Ditjen Pajak Jadi Penghalang Rencana Pembentukan Badan Penerimaan Negara
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro-Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia

Ketika Prabowo Subianto mengusulkan kebijakan pengampunan terhadap koruptor yang bersedia mengembalikan uang hasil korupsinya secara diam-diam, kontroversi tak ayal meruyak. Kebijakan ini, yang di satu sisi dimaksudkan untuk memulihkan keuangan negara, di sisi lain memunculkan pertanyaan mendalam tentang keadilan, moralitas, dan legitimasi pemerintah. Dalam situasi di mana kepercayaan publik terhadap pemerintah sedang merosot, kebijakan semacam ini tidak hanya dipandang sebagai langkah pragmatis, tetapi juga sebagai cerminan dari dilema yang dihadapi pemerintah: memulihkan legitimasi atau mendorong kebijakan yang kontroversial demi pembangunan.

Legitimasi adalah fondasi dari keberlanjutan pemerintahan. Ia tidak hanya memastikan kepatuhan rakyat, tetapi juga menjadi landasan stabilitas politik, sosial, dan ekonomi. Max Weber, dalam kerangka teorinya, menyebut bahwa legitimasi bersandar pada penerimaan rakyat terhadap otoritas yang memerintah, baik berdasarkan tradisi, kharisma pemimpin, maupun legalitas hukum yang berlaku. Dalam konteks modern, legitimasi lebih banyak ditentukan oleh kemampuan pemerintah dalam melayani kepentingan masyarakat secara adil dan efektif. Ketika legitimasi melemah, sebagaimana yang dialami pemerintah saat ini, berbagai tanda-tanda dapat terlihat, mulai dari penurunan kepercayaan publik, meningkatnya kritik sosial, hingga disfungsi lembaga-lembaga negara.

Krisis legitimasi sering kali menjadi medan yang sulit bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan, terutama yang bersifat kontroversial. Pengampunan koruptor, meskipun memiliki potensi untuk mengembalikan uang negara dengan cepat, mudah dilihat sebagai bentuk kompromi moral yang merusak kepercayaan publik lebih jauh. Dalam masyarakat yang telah lama memandang korupsi sebagai musuh utama pembangunan, kebijakan ini dapat dianggap sebagai bentuk toleransi terhadap kejahatan besar, bahkan jika itu dilakukan dengan imbalan pengembalian dana. Apalagi, ketika kepercayaan terhadap lembaga hukum sudah merosot, kebijakan semacam ini lebih cenderung dilihat sebagai pengkhianatan terhadap prinsip keadilan. Selama ini rakyat telah sangat patuh membayar pajaknya, mereka melongo melihat di sisi lain para pengemplang pajak mendapat kemudahan dari Tax Amnesty I dan Tax Amnesty II. Sementara itu, sekarang pemerintah berencana mengampuni para koruptor.

Harus diakui pemerintah saat ini menghadapi krisis legitimasi yang mempersempit ruang geraknya. Krisis ini mempersempit kemampuan pemerintah untuk mengambil kebijakan yang tidak populer walau diperlukan untuk mendorong pembangunan. Pengampunan koruptor, memang, memiliki manfaat pragmatis: mengembalikan uang negara tanpa harus melalui proses hukum yang panjang dan mahal. Dalam situasi di mana kebutuhan fiskal mendesak, kebijakan ini dapat memberikan dana segar untuk pembangunan atau pemulihan ekonomi. Namun, manfaat ini sulit dirasakan sepenuhnya jika kebijakan tersebut menimbulkan resistensi yang besar dari masyarakat.

Sebagai contoh, dalam sejarah kebijakan kontroversial di berbagai negara, langkah-langkah seperti pengampunan pajak atau pengampunan koruptor sering kali dilakukan sebagai bagian dari strategi fiskal. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada sejauh mana pemerintah mampu mempertahankan kepercayaan publik. Tanpa legitimasi, kebijakan tersebut tidak hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga memperburuk persepsi publik terhadap pemerintah. Krisis kepercayaan yang terjadi berpotensi menciptakan siklus ketidakstabilan baru, di mana pemerintah semakin kehilangan kemampuan untuk melaksanakan kebijakan yang esensial.

Dalam konteks ini, dilema antara memulihkan legitimasi dan melanjutkan kebijakan kontroversial menjadi semakin nyata. Di satu sisi, pemerintah yang berusaha memulihkan legitimasi perlu menunjukkan komitmen terhadap nilai-nilai keadilan dan akuntabilitas. Penegakan hukum yang tegas terhadap koruptor, misalnya, dapat menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius dalam membangun tata kelola yang bersih. Di sisi lain, pembangunan sering kali membutuhkan kebijakan-kebijakan pragmatis yang, meskipun tidak populer, dapat memberikan hasil yang nyata dalam jangka pendek.

Jika ditinjau lebih jauh, kebijakan pengampunan koruptor yang diusulkan Prabowo sebenarnya mencerminkan dilema ini dengan jelas. Kebijakan tersebut berpotensi mempercepat pemulihan keuangan negara, tetapi juga dapat merusak legitimasi pemerintah jika tidak dikelola dengan hati-hati. Sebuah kebijakan yang seharusnya menjadi solusi pragmatis dapat berubah menjadi bumerang jika dilihat oleh publik sebagai tanda kelemahan atau kompromi moral.

Dalam situasi ini, pemerintah perlu mengadopsi pendekatan yang lebih transparan dan akuntabel. Kebijakan pengampunan koruptor, jika memang harus dilakukan, tidak boleh dilakukan secara diam-diam. Sebaliknya, pemerintah harus menjelaskan tujuan, mekanisme, dan batasan kebijakan tersebut secara terbuka kepada publik. Komunikasi yang efektif adalah kunci untuk mengurangi resistensi dan memastikan bahwa kebijakan ini dipahami sebagai bagian dari strategi yang lebih besar untuk memperbaiki tata kelola negara.

Selain itu, kebijakan semacam ini harus disertai dengan langkah-langkah penguatan penegakan hukum. Pengampunan koruptor tidak boleh dilihat sebagai akhir dari upaya pemberantasan korupsi, melainkan sebagai strategi jangka pendek yang didukung oleh komitmen jangka panjang terhadap transparansi dan akuntabilitas. Pemerintah harus menunjukkan bahwa kebijakan ini bukan bentuk toleransi terhadap korupsi, tetapi langkah pragmatis untuk memulihkan kerugian negara sambil terus memperkuat institusi hukum.

Lebih jauh lagi, kebijakan ini juga perlu dipadukan dengan reformasi yang memastikan bahwa korupsi tidak lagi menjadi masalah sistemik. Tanpa reformasi, pengampunan koruptor hanya akan menciptakan insentif bagi pelaku kejahatan untuk mengulangi perbuatannya. Reformasi ini mencakup peningkatan transparansi anggaran, pengawasan yang lebih ketat terhadap pejabat publik, dan pendidikan antikorupsi yang lebih luas di masyarakat.

Namun, pada akhirnya, pertanyaan besar tetap ada: mana yang harus diprioritaskan, memulihkan legitimasi atau mengambil kebijakan pragmatis seperti pengampunan koruptor? Dalam jangka pendek, kebutuhan fiskal dan pembangunan mungkin tampak lebih mendesak. Tetapi, legitimasi adalah aset yang jauh lebih penting dalam jangka panjang. Pemerintah dengan legitimasi tinggi memiliki ruang lebih besar untuk mengambil kebijakan yang sulit tanpa menghadapi resistensi yang berlebihan. Sebaliknya, pemerintah dengan legitimasi rendah akan kesulitan melaksanakan bahkan kebijakan yang paling sederhana sekalipun.

Sebagaimana dikatakan oleh Joseph Nye, “Kekuatan lunak sebuah pemerintahan tidak hanya terletak pada otoritas hukum atau kekuatan militer, tetapi pada kepercayaan yang diberikan oleh rakyatnya.” Dalam konteks ini, pemulihan legitimasi harus menjadi prioritas utama. Hanya dengan legitimasi yang kuat, pemerintah dapat membangun fondasi yang kokoh untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi kemajuan bangsa.

Legitimasi bukanlah sesuatu yang bisa dibangun secara instan. Ia memerlukan konsistensi dalam tindakan, transparansi dalam kebijakan, dan keberanian untuk mengutamakan keadilan meskipun itu berarti menghadapi tantangan jangka pendek. Dengan cara ini, pemerintah dapat menunjukkan bahwa mereka tidak hanya berkuasa, tetapi juga memiliki mandat moral untuk memimpin. Dan ketika mandat itu ada, kebijakan apa pun, bahkan yang kontroversial sekalipun, dapat dijalankan dengan dukungan yang lebih besar dari rakyat.=

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mas Hasto Ingat ini : Bangga Ditahan Karena Perjuangan Politik dan Hina Ditahan Karena Kasus Kriminal

Next Post

Vietnam, Sukses Amankan Kemenangan di kandang lawan, setelah Kalahkan Singapura dengan skor 2-0

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Next Post
Vietnam, Sukses Amankan Kemenangan di kandang lawan, setelah Kalahkan Singapura dengan skor 2-0

Vietnam, Sukses Amankan Kemenangan di kandang lawan, setelah Kalahkan Singapura dengan skor 2-0

PDAM Bandung Siap Pasok Air Bersih Untuk Layani Ribuan Warga Terdampak Kebocoran  Pipa Air Minum 

PDAM Bandung Siap Pasok Air Bersih Untuk Layani Ribuan Warga Terdampak Kebocoran  Pipa Air Minum 

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...