Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024
Jakarta – Kontroversi Maman Abdurrahman menyeret nama Fadli Zon. Keduanya punya persamaan dan perbedaan. Apa saja?
Yang sama: menteri di Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Maman Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Fadli Menteri Kebudayaan.
Yang juga sama: meminta fasilitas bagi keluarganya yang pergi keluar negeri. Maman minta fasilitas bagi istrinya, Agustina Hastarini alias Tina Astari yang pergi ke enam negara di Eropa, 30 Juni-14 Juli 2025; sedangkan Fadli minta fasilitas bagi putrinya, Shafa Sabila Fadli yang pergi ke New York, Amerika Serikat (AS), tahun 2016 lalu saat putrinya masih berusia 18 tahun.
Yang sama lagi: mengaku tidak menulis apalagi menyuruh membuat surat kontroversila tersebut.
Yang sama lagi dan lagi: mantan anggota DPR RI. Bahkan Fadli sempat menjabat Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen dan Wakil Ketua DPR RI. 
Yang berbeda: Maman adalah Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Fadli adalah Wakil Ketua Umum Partai Gerindra.
Yang juga berbeda: Maman belum minta maaf, Fadli sudah minta maaf ke publik, bahkan mengganti uang bensin penjemputan anaknya dari bandar udara ke New York.
Diketahui, hari-hari ini masyarakat Indonesia dikejutkan oleh viralnya surat permintaan fasilitasi yang diterbitkan Kementerian UMKM. Surat bertajuk “misi budaya” itu dibuat dan ditandatangani Sekjen Kementerian UMKM Arif Rahman Hakim.
Surat dimaksud awalnya diunggah akun X @MurtadhaOne1 dan memperlihatkan kop resmi Kementerian UMKM RI dengan nomor B-466/SM.UMKM/PR.01/2025 tertanggal 30 Juni 2025.
Surat itu menjelaskan secara rinci bahwa kegiatan misi budaya istri Kang Maman itu akan berlangsung selama 14 hari, sejak 30 Juni 2025 hingga 14 Juli 2025.
Adapun negara-negara yang menjadi tujuan kunjungan istri Kang Maman itu adalah Turki (Istanbul), Bulgaria (Pomorie dan Sofia), Belanda (Amsterdam), Belgia (Brussels), Prancis (Paris), Swiss (Lucerne), dan Italia (Milan).
Dalam surat tersebut, Kementerian UMKM meminta agar pihak-pihak di kedutaan besar dan konsulat jenderal RI, khususnya KBRI Sofia, Brussel, Paris, Bern, Roma, Den Haag, serta KJRI Istanbul memberikan dukungan dan pendampingan penuh selama perjalanan Tina Astari dan rombongan berlangsung.
Belakangan, Maman Abdurrahman, sang suami buru-buru mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (4/7/2025), guna melakukan klarifikasi.
Usai ke KPK, kepada media Maman membantah istrinya menggunakan fasilitas negara. Kepergian istrinya keluar negeri, katanya, untuk mendampingi sang anak yang sedang mengikuti acara budaya.
Semua fasilitas seperti tiket pesawat, hotel dan biaya makan, katanya, dibayar sendiri dari rekening istrinya. Tiket bahkan sudah dibeli sejak Mei lalu. Artinya, klaim Maman, sejak awal istrinya tak ada niat menggunakan fasilitas negara.
Sayangnya, Maman tidak menyinggung surat resmi kementeriannya yang sudah terlanjur beredar itu. Ia tidak membantah atau membenarkan keberadaan dan isi surat kontroversial tersebut.
Hanya saja, ia mengaku tidak menulis atau memerintahkan Sekjen Kementerian UMKM Arif Rahman Hakim untuk membuat surat tersebut. Maman lepas tangan.
Maman sejauh ini juga tidak minta maaf kepada publik atas kegaduhan yang terjadi. Juga tidak minta maaf karena kementeriannya sudah terlanjur mengirimkan surat itu ke sejumlah Kedubes RI di Eropa.
Fadli Zon Minta Maaf
Fadli Zon pun mengaku tidak pernah meminta Sekretariat Jenderal DPR RI untuk membuat surat permohonan penyediaan fasilitas dan pendampingan terkait kegiatan putrinya selama di New York.
Politisi Partai Gerindra itu mengklaim hanya meminta kepada staf sekretariat untuk menyampaikan pemberitahuan kepada KJRI tentang kegiatan Shafa di New York dalam Stagedoor Manor Camp 2016 dari 12 Juni-12 Juli 2016.
Kendati demikian, Fadli menyampaikan permintaan maaf jika ada kesalahan terkait kunjungan Shafa ke AS. Ia pun menganti biaya yang dikeluarkan KJRI di New York untuk mengantar putrinya sebesar Rp1.340.000.
Desakan KPK Periksa Istri Maman
Meski Maman sudah melakukan klarifikasi bahwa istrinya tidak menggunakan fasilitas negara, namun sejumlah pihak mendesak agar KPK memeriksa Tina Astari.
Bisa saja KBRI dan KJRI di enam negara Eropa itu sudah terlanjur melakukan pendampingan bahkan memberikan fasilitas bagi Tina Astari.
Alhasil, kontroversi Fadli Zon langsung tutup buku setelah dia minta maaf ke publik. Sebaliknya, kontroversi Maman Abdurrahman membuka lembaran baru setelah ada desakan agar KPK memeriksa istrinya. Apalagi politikus Golkar itu sejauh ini belum minta maaf.


























