Oleh: Aries Musnandar
Aksi demonstrasi mahasiswa pada Juni 2026 membuktikan satu hal: denyut nadi kepedulian muda masih hidup, namun mereka sedang bertempur tanpa kompas ideologi. Seperti catatan aktivis ’98 Agus M. Maksum, mahasiswa kita kini terjebak menyuarakan narasi kapitalisme global yang merugikan jaring pengaman sosial rakyat sendiri, hanya karena mereka melihat pohon masalah tanpa mampu membaca petunjuk hutannya.Mengapa fenomena ini tidak terjadi di Negeri Matahari Terbit?
Mengapa mahasiswa Jepang relatif tenang dan tidak hancur dalam polarisasi aksi?
Jawabannya adalah Public Trust (Kepercayaan Publik) yang lahir dari kejujuran konkret para elite.
Di Jepang, disiplin nasional bukan sekadar kurikulum hafalan di atas kertas kelas. Ia adalah budaya hidup yang dipimpin oleh keteladanan dari atas. Para elite politik dan aparat di sana memiliki budaya malu yang tinggi; mereka mundur saat gagal dan menjaga integritas sebagai kehormatan tertinggi.
Ketika rakyat di akar rumput melihat pemimpinnya menjadi role model yang jujur, hukum tegak tanpa pandang bulu, dan keadilan sosial diselesaikan di meja kerja, mosi tidak percaya tidak perlu tumpah ke aspal jalanan. Sebaliknya, di Indonesia, pendidikan karakter hancur karena hulu kekuasaan menyuguhi rakyat dengan tontonan impunitas dan pelanggaran etika.
Ketika elite sibuk berpidato tentang moralitas tetapi mempraktikkan kebohongan, mahasiswa tumbuh dalam ruang hampa keteladanan. Akibatnya, gerakan moral mereka mudah dibajak oleh kepentingan luar karena kehilangan figur jangkar domestik yang bisa dipercaya.Indonesia tidak akan selamat jika pendidikan hanya melahirkan pabrik ijazah dan demo di jalanan kehilangan arah.
Kita harus merombak orientasi nasional: jadikan integritas elite sebagai kurikulum nyata, agar disiplin tidak lagi dipaksakan lewat rasa takut, melainkan tumbuh menjadi budaya yang menyelamatkan masa depan bangsa.
Oleh: Aries Musnandar





















