Fusilatnews – “Doakan timnas menang,” ujar Menteri Agama di tengah gegap gempita persiapan pertandingan sepak bola. Ucapan itu terdengar manis, patriotik, dan—jika boleh jujur—konyol. Bukan karena mendoakan kemenangan timnas itu salah. Tapi karena ia datang dari pejabat yang mestinya lebih peka terhadap luka bangsa yang jauh lebih parah dari skor akhir di stadion.
Mengapa Menag tidak mendoakan agar korupsi segera mampus dari bumi pertiwi? Apakah mengusir maling berdasi dari kementerian hingga istana itu terlalu mustahil, bahkan bagi Tuhan yang katanya Maha Kuasa? Mengapa tidak mendoakan agar Presiden Joko Widodo segera memperlihatkan ijazah aslinya ke publik, agar bangsa ini tak terus dibelenggu teka-teki yang menjadikan demokrasi sebagai sandiwara?
Atau mungkinkah lebih penting mendoakan agar penyakit kurap di tubuh Presiden segera sembuh—jika memang benar ia mengidapnya? Barangkali kurap itu simbolik, mewakili kerak-kerak kekuasaan yang kotor tapi dibiarkan tumbuh dan menular.
Lebih membingungkan, mengapa tak terbesit dalam benak sang Menag untuk mendoakan para purnawirawan TNI yang melayangkan surat pemakzulan kepada Gibran, si Wakil Presiden muda yang naik ke puncak bukan lewat meritokrasi, tapi lewat jalan tol dinasti? Apa susahnya berdoa agar bangsa ini diselamatkan dari politik warisan dan nepotisme terang-terangan?
Dan tentu, bagaimana bisa seorang Menteri Agama tak tergerak untuk mendoakan agar biaya ibadah haji—yang katanya rukun Islam kelima—lebih murah daripada Malaysia? Negeri jiran itu bisa memberangkatkan jemaah dengan subsidi lebih ringan, pelayanan lebih apik. Indonesia? Biaya terus naik, pelayanan stagnan, transparansi hilang ditelan sistem birokrasi yang rakus.
Bukankah semua tidak ada yang susah bagi Tuhan? Tapi barangkali, bagi pejabat, semua bisa jadi sulit jika menyangkut nyali dan akal sehat. Doa pun akhirnya menjadi alat pemoles pencitraan, bukan alat perlawanan terhadap kemunafikan struktural.
Di tangan Menteri Agama, doa untuk timnas berubah menjadi lelucon nasional. Lelucon yang pahit. Sebab dalam Republik yang sakit ini, doa untuk bola bisa meluncur deras, tapi doa untuk keadilan, kebenaran, dan keberanian malah disimpan rapat-rapat. Barangkali karena Tuhan tak terlibat dalam politik kekuasaan. Tapi Menag jelas sangat terlibat di dalamnya.





















