Contoh yang sangat nyata. Di depan mata kita sendiri. Kita menjadi saksi utama.
Inilah ironi terbesar dalam sejarah politik pascareformasi: seorang mantan kepala negara yang dulunya dielu-elukan sebagai simbol perubahan, kini justru dikenang sebagai simbol pengkhianatan terhadap nilai-nilai reformasi itu sendiri. Joko Widodo—mantan presiden yang pernah dipercaya mengubah wajah demokrasi Indonesia—telah menyisakan jejak pahit. Ia telah naik ke puncak kekuasaan, dan kini jatuh dengan suara yang nyaring. Tidak lagi dielu-elukan, tapi dipertanyakan. Tidak lagi dibanggakan, tapi dipertanyakan.
Duit.
Keluarga.
Harga diri.
Tiga pilar yang dulu dijaga sebagai simbol kesederhanaan dan integritas, kini justru menjadi bukti kegagalan. Di akhir masa jabatannya—dan terlebih setelah ia tak lagi berkuasa secara formal—publik menyaksikan dengan mata telanjang bagaimana kebohongan menjadi fondasi utama dari ikhtiarnya selama ini. Kebohongan yang dibungkus dengan program-program populis. Kebohongan yang dijaga oleh pasukan digital. Kebohongan yang dihidupi oleh lingkaran loyalis yang lebih mencintai kekuasaan ketimbang republik.
“Tidak ada musuh abadi dalam politik,” katanya suatu waktu. Tapi tampaknya, ada yang lebih abadi: ambisi. Dan ambisi itulah yang kini menenggelamkan warisan Jokowi sebagai mantan kepala negara. Ia tak melepaskan kekuasaan, justru mewariskannya ke anak dan menantunya. Ia tidak pensiun dari politik, malah membentangkan dinasti.
Inilah contoh yang sangat nyata:
Bagaimana kekuasaan, jika tidak disandarkan pada nilai dan kebenaran, akan melahirkan kehancuran.
Licik.
Jahat.
Bahkan biadab.
Dalam diamnya konstitusi yang dicederai, dalam lemahnya lembaga hukum yang dikendalikan, kita mendengar suara yang lebih keras: suara rakyat yang mulai paham bahwa mereka dibohongi. Suara generasi yang kecewa karena demokrasi telah direduksi menjadi panggung keluarga. Suara nurani yang merasa dikhianati oleh seseorang yang dulu dianggap sebagai “orang baik”.
Benarlah firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Jaa al-haqq wa zahaqal bathil. Innal bathila kana zahuqa.”
Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap. (QS Al-Isra: 81)
Sejarah tidak akan menulis apa yang diklaim kekuasaan. Sejarah menulis apa yang dirasakan rakyat. Dan sejarah tidak pernah menipu. Dalam kesunyian yang penuh luka, rakyat mencatat bahwa Jokowi—mantan kepala negara yang dulu dipuja—meninggalkan warisan kelam tentang bagaimana kebohongan bisa menjadi strategi, dan kekuasaan dijadikan properti pribadi.
Contoh yang sangat nyata.
Ada di depan mata.
Dan kita semua adalah saksi sejarahnya.





















