FusilatNews– Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) mengatakan Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit dan CPO gara-gara Ukraina dipertanyakan DPR. Anggota Komisi VI DPR RI Deddy Yevri Sitorus mengkritisi pernyataan Luhut Binsar Panjaitan bahwa kebijakan ekspor Ukraina jadi biang kerok harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit jeblok di bawah Rp1.000 per kg. Deddy menyebut ucapan Luhut yang menyalahkan Ukraina terkesan tidak bertanggung jawab.
“Kalau Pak Luhut bilang itu karena Ukraina buka keran ekspor bunga matahari dan memangkas pajak ekspor, itu namanya buang badan dan tidak bertanggung jawab,” kata Deddy dikutip dari Antara Sabtu (9/7).
Deddy mengungkapkan anjloknya harga TBS sawit petani itu adalah akibat kerusakan rantai pasok terkait dengan moratorium ekspor. Yakni mekanisme perizinan ekspor (PE) yang memakan waktu, kebijakan distribusi minyak goreng yang kacau, tingginya beban pungutan ekspor, dan flushing out.
“Kekacauan itulah yang menyebabkan harga TBS petani hancur di bawah kewajaran,” ungkap Deddy.
Deddy menegaskan bahwa pemerintah jangan mencari kambing hitam anjloknya harga TBS ini. Pasalnya, harga keekonomian TBS itu ambruk karena kapasitas tangki penampung crude palm oil (CPO) yang overload sehingga tidak mampu menampung lagi.
Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Kalimantan Utara itu menjelaskan bahwa pengelolaan CPO dan minyak goreng saat ini gagal total, karena ekspor tertahan dan negara rugi.
Ia mengungkapkan pada saat demand global menurun nyaris 30 persen, harga TBS dan CPO tetap rontok di bawah harga keekonomian. “Kenapa? Karena rantai pasok komoditas tersebut tersendat.”
Deddy mengatakan kondisi ini lah yang kemudian mendorong pasar global mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan mereka terhadap minyak nabati. Itulah yang kemudian memulai mengalirnya minyak nabati selain sawit di dunia, salah satunya minyak bunga matahari dari Ukraina.
“Jadi, masalahnya ada pada pengelolaan industri sawit di Indonesia yang carut-marut, bukan semata-mata karena pengaruh global,” ungkapnya. Karenanya, Solusinya adalah memperbaiki mata rantai produk sawit, yakni jaminan pasokan dalam negeri terjaga, baik volume maupun harganya.
























