Anwar Husen
Pemerhati Sosial / Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara
Ada hal yang benar-benar mengejutkan dalam pengalaman saya menulis di media. Baik di media-media Maluku Utara, Manado, maupun Jakarta, baru kali ini saya benar-benar merasakan bagaimana efek menulis dengan objek yang “menyenggol” orang besar.
Begini ceritanya.
Pekan lalu saya menulis tentang kinerja Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), dengan judul Ketika Pencitraan Mengalahkan Kinerja: Demokrasi Sedang Dijebak Efek Elektoral Tipu-Tipu. Tulisan tersebut membandingkan hasil survei satu tahun kinerja Gubernur Dedi Mulyadi dan wakilnya dari lembaga survei Indikator milik Burhan Muhtadi dengan pandangan DPRD Provinsi Jawa Barat terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Jawa Barat Tahun Anggaran 2025.
Tulisan itu dimuat di Fusilatnews, media yang dipimpin Ali Syarief, seorang praktisi komunikasi dan strategi politik yang sebelumnya berbasis di Jakarta dan kini menetap di Bandung. Pada 17 Mei, tulisan tersebut diunggah melalui akun X milik pemimpin redaksi itu, @alisyarief, yang memiliki lebih dari 132 ribu pengikut.
Tanpa diduga, tayangannya meledak.
Dalam dunia media sosial, impressions atau tayangan merupakan metrik yang menunjukkan berapa kali sebuah cuitan muncul di layar pengguna lain. Hanya dalam 24 jam pertama, tayangan tulisan itu menembus 161 ribu kali dan diposting ulang sebanyak 159 kali.
Bagi saya, ini benar-benar mengejutkan.
Sebab, dibandingkan puluhan tulisan saya sebelumnya, baru kali ini terjadi lonjakan yang sangat ekstrem. Dari rata-rata tayangan yang bahkan sering tak mencapai seribu, mendadak melompat ke angka di atas 150 ribu. Jika diasumsikan rata-rata sebelumnya sekitar 1.000 tayangan, berarti kenaikannya mencapai lebih dari 15.000 persen.
Meski demikian, saya sengaja membatasi pengamatan hanya pada 24 jam pertama, karena rentang waktu itu saya gunakan sebagai standar untuk mengakhiri pengamatan dalam tulisan ini.
KDM yang kita kenal tampaknya bukan hanya seorang “penguasa konten”, tetapi juga dapat disebut “pengusaha konten”. Hampir seluruh platform media sosialnya memiliki daya magnet yang sangat kuat.
Dari berbagai sumber, pendapatan kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel ditaksir berkisar antara Rp652 juta hingga Rp10,3 miliar per bulan. Dengan estimasi tersebut, penghasilan hariannya dapat berada di kisaran Rp21 juta hingga Rp342 juta. Kanal itu sendiri memiliki sekitar 7,44 juta pelanggan, dengan total penayangan mencapai 2,1 miliar kali sejak dibuat pada 17 November 2017.
Menariknya, persepsi publik terhadap kebiasaan Gubernur Jawa Barat ini dalam menampilkan aktivitasnya di media sosial justru sangat positif. Berdasarkan temuan Indikator, sekitar 92,7 persen responden menganggap aktivitas tersebut sebagai bentuk kerja nyata seorang pemimpin, bukan sekadar pencitraan.
Pesan terpenting dari pengalaman ini adalah bahwa zaman memang telah berubah.
Kesimpulan ini bukan sekadar hasil pengamatan, tetapi sesuatu yang benar-benar terasa karena dialami secara langsung. Di era algoritma, keterhubungan digital dapat bergerak lebih cepat daripada kedipan mata.
Hampir selama sepuluh jam berturut-turut saya memantau perkembangan tayangan tulisan tersebut setiap jam. Kenaikannya berkisar sekitar lima ribu tayangan per jam. Padahal, judul tulisan itu sendiri bahkan tidak secara eksplisit menyebut nama KDM.
Saya sempat berpikir iseng: bagaimana mungkin sebuah tulisan yang menurut saya biasa saja bisa begitu cepat masuk ke beranda ribuan orang?
Padahal fungsi tayangan hanyalah untuk mengukur seberapa luas jangkauan (reach) dan visibilitas suatu konten.
Di Indonesia sendiri, pengguna X didominasi oleh segmen usia muda, terutama rentang usia 16–24 tahun atau Generasi Z, disusul kelompok usia 25–34 tahun atau Milenial, berdasarkan laporan Digital 2024 dari We Are Social. Indonesia juga merupakan negara pengguna X terbesar ketiga di dunia, dengan sekitar 25 juta pengguna, setelah Jepang dan Amerika Serikat.
Di media sosial, efek selebritas kini tampaknya semakin nyata. Rumus untuk menjadi terkenal pun terasa semakin sederhana: menempel pada orang yang telah terkenal.
Senggol mereka, maka efek ekor jasnya akan ikut bekerja.
Jika seseorang telah berkali-kali mencoba menjadi kepala daerah tetapi terus gagal, mungkin strateginya berubah: menjadi calon wakil kepala daerah yang berpasangan dengan tokoh yang sudah populer. Peluang menang menjadi lebih besar. Cara seperti ini tampaknya mulai semakin sering digunakan.
Saya sendiri menikmati sensasi “nebeng tenar” itu, meski rasanya masih terasa semu.
Sebab, frekuensi tayangan yang membuat saya terkejut itu seolah memperlihatkan bahwa ada “pemihakan” sistem yang begitu mencolok. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, meskipun di judulnya secara terang-terangan menyebut nama tokoh besar, bahkan Presiden Prabowo sekalipun.
Wallahu a’lam.

Anwar Husen























