Jakarta – Presiden Prabowo Subianto sepertinya “mbudeg” (pura-pura tuli). Terhadap berbagai kritik yang dilontarkan, ia benar-benar menutup telinga. Pekak!
Ketika langkah pongahnya menolak bantuan asing untuk korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dikritik berbagai pihak, misalnya, Prabowo bergeming. Ini soal harga diri, katanya.
Harga diri semacam apa? Apakah para pemimpin dan bangsa ini masih punya harga diri di mata asing?
Banyak korban bencana tidak mendapatkan penanganan semestinya. Akibatnya, tak sedikit yang tewas. Apakah hanya karena harga diri lalu Prabowo membiarkan rakyatnya mati sia-sia?
Saat tsunami menerjang Aceh dan Sumbar tahun 2004 lalu, banyak bantuan asing berdatangan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu oke-oke saja, tak merasa terusik harga dirinya, baik harga diri pribadinya maupun harga diri bangsanya.
Lagi pula, Indonesia juga kerap memberikan bantuan kemanusiaan kepada negara-negara lain yang terkena bencana atau musibah. Bantuan lintas negara adalah urusan kemanusiaan, bukan soal kedaulatan atau harga diri bangsa.
Bagi Prabowo, setinggi apakah harga diri bangsa ini? Kalau korupsi masih merajalela dan angka kemiskinan pun masih melonjak, masihkah bangsa ini punya harga diri?
Kalau utang luar negeri menggunung, dan pemutusan hubungan kerja pun masih terus terjadi, apa bangsa ini masih punya harga diri? Kita miskin tapi sombong!
Prabowo juga menolak menetapkan status bencana Sumatera sebagai bencana nasional. Jangan-jangan hal itu untuk menutup-nutupi fakta apa sesungguhnya penyebab terjadinya bencana. Sebab jika ditetapkan sebagai bencana nasional, maka lembaga-lembaga asing bisa keluar masuk lokasi bencana dengan leluasa. Para pelaku pembalakan liar terancam.
Program MBG
Ketika program makan bergizi gratis (MBG) banyak dikritik gegara banyaknya kasus keracunan, Prabowo pun bergeming. Padahal hasilnya tidak signifikan. Anggaran program MBG yang tahun ini mencapai Rp71 triliun itu bisa dialihkan untuk program yang lebih bermanfaat. Misalnya sekolah gratis dan kesehatan gratis.
Program MBG itu tetap berjalan ketika anak sekolah memasuki masa liburan. Bagaimana mereka yang berlibur ke luar kota harus mengambil menu MBG ke sekolah? Ketika hal ini dikritik, Prabowo tetap bergeming. MBG harus jalan terus, katanya.
Disinyalir program ini terus berjalan di masa libur sekolah demi menguntungkan pengusaha. Tak peduli merepotkan anak sekolah.
Tidak hanya soal bencana Sumatera dan program MBG saja Prabowo “mbudeg”. Dalam hal-hal lainnya pun, mantan Komandan Jenderal Kopassus itu melakukan hal yang sama: mbudeg!

























