• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

MELAWAN NEGARA

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
December 4, 2025
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Selalu ada saat ketika sebuah republik tiba-tiba terasa bukan lagi seperti rumah yang akrab. Ia berubah menjadi lorong yang panjang, remang, penuh pintu tertutup rapat. Di balik pintu-pintu itu, kita mendengar suara berbisik, kunci berputar, dan seseorang menahan napas. Kita mengetuk, sekali-dua kali, tak ada jawaban. Kita mengetuk lebih keras, lalu tiba-tiba pintu itu bukan saja tak dibuka; ia dijaga.

Begitulah kira-kira suasana yang mengitari kisruh sebuah dokumen sederhana bernama ijazah: selembar kertas yang dalam sebuah republik mestinya tak lebih rumit dari akta kelahiran atau kartu vaksin. Tetapi ia telah berubah menjadi relik yang tak boleh disentuh—relic yang dijaga oleh institusi demi institusi, seakan di sana terdapat rahasia negara yang menentukan masa depan dunia.

Yang kita saksikan adalah rangkaian orang biasa—beberapa akademisi, sebagian aktivis, sebagian hanya warga negara yang risau—yang mencoba mengetuk pintu itu. Mereka tak mengetuk dengan palu godam. Mereka hanya meminta: tunjukkanlah kepada kami apa yang diklaim sebagai milik publik. Itu saja. Permintaan yang, dalam sistem demokrasi mana pun, mestinya tidak memerlukan keberanian moral.

Tetapi justru keberanian itulah yang menjadi syarat pertama.


Kisahnya berawal dari kecurigaan—bukan kecurigaan politik, melainkan kecurigaan epistemik. Sebuah gambar digital yang beredar, beberapa angka yang tak sesuai, huruf yang berpindah posisi, dan latar yang tampak asing. Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifa mengambil jalur yang paling rasional dalam dunia yang kian kehilangan rasionalitas: memeriksa. Meneliti. Mengobservasi.

Mereka menemukan kejanggalan. Bukan satu, tapi cukup banyak untuk membuat ruang publik bergetar dengan pertanyaan. Bukankah setiap dokumen akademik memiliki standar grafis tertentu? Bukankah institusi pendidikan tinggi, termasuk UGM, adalah benteng transparansi ilmiah?

Ketika pertanyaan-pertanyaan itu muncul, pintu pertama tertutup.

Muncul pula Dr. Bonatua Silalahi. Ia memilih jalur lain, jalur administratif. Ia meminta KPU menunjukkan ijazah yang pernah diterima lembaga itu ketika calon bernama Joko Widodo mendaftarkan diri sebagai kepala daerah. Permintaan itu wajar. Data itu wajar. Negara bekerja dengan dokumen, bukan dengan misteri.

Tapi lagi-lagi, pintu cuma tersedia untuk mengintip. Sebagian besar informasi ditutup tanpa alasan jelas. Tanpa uji konsekuensi.

Dan ketika pintu-pintu tertutup, kita mendengar langkah-langkah yang menjauh. Ada yang menahan berkas. Ada yang berkelit dengan bahasa yang sopan, sambil menolak memberikan apa yang seharusnya diberikan. Ada pula yang menjadikan keterbukaan informasi sebagai urusan yang bisa ditunda, dinegosiasikan, atau ditiadakan.

Di situ kita mulai melihat sesuatu yang janggal: sebuah negara yang tampaknya begitu takut pada selembar kertas.


Lalu muncullah Lukas Luwarso dan kawan-kawan. Mereka bukan pemburu sensasi. Mereka datang dari tradisi yang menghormati argumen: advokasi informasi publik. Mereka menuju Komisi Informasi Pusat—institusi yang dibentuk negara untuk mengawasi dirinya sendiri. Di sana, prosedur dilalui. Sidang digelar. Pembelaan disusun. Tetapi lagi-lagi, misteri dilindungi oleh tata cara dan alasan yang tak pernah sunyi dari aroma kepentingan.

Pada akhirnya, tak satu pun pintu terbuka. Tak ada ijazah. Tak ada transparansi. Tak ada penyelesaian.

Yang ada justru sesuatu yang lebih menakutkan: warga negara yang mencari kebenaran ditarik ke ruang pemeriksaan, dituduh, dilabeli, dan sebagian akhirnya menjadi tersangka.

Di titik itulah cerita ini menjelma menjadi kisah yang lebih tua daripada republik ini. Kita pernah membacanya dalam novel-novel dystopia: ketika bertanya adalah kejahatan, ketika keraguan dianggap makar, dan ketika negara merasa dirinya terlalu rapuh untuk menjawab pertanyaan.


Apa yang sebenarnya terjadi pada negeri ini?

Pertanyaan itu sederhana namun terasa menggema di ruang yang lebih besar daripada kasus ijazah itu sendiri. Mengapa sebuah republik yang dibangun atas nama transparansi dan kedaulatan rakyat tampak lebih memilih kerahasiaan ketimbang keterbukaan? Mengapa lembaga-lembaga negara—UGM, KPU, KIP, Polri, Kemendikbud—serentak berada di sisi yang sama: sisi ketertutupan?

Pertanyaan ini menyentuh inti yang paling sensitif: untuk siapa institusi-institusi itu bekerja?

Jawabannya tidak mudah. Tetapi ia terasa mengendap dalam bisu 10 tahun terakhir. Ketika negara, sedikit demi sedikit, kehilangan jarak dari figur yang mengendalikannya. Ketika institusi berhenti menjadi institusi, dan berubah menjadi sayap dari sebuah kekuasaan personal. Ketika birokrasi mulai bergerak bukan dengan logika hukum, tapi dengan logika loyalitas.

Sosiologi menyebut proses itu captured institutions. Teori politik menyebutnya erosion of horizontal accountability. Tetapi bagi warga negara yang berdiri di luar pagar istana, semua itu hanyalah tanda bahwa negara sedang membalikkan badan: bukan lagi menghadap rakyat, tetapi menghadap kekuasaan.

Apa yang terjadi pada Roy, Rismon, Tifa, Bonatua, dan Lukas bukan sekadar tragedi hukum. Ia adalah gejala. Gejala dari negara yang, alih-alih menjawab pertanyaan, memilih menghukum mereka yang bertanya.


Dalam sejarah republik ini, kita pernah mengenal negara yang melawan rakyatnya. Itu masa yang gelap. Kita juga mengenal rakyat yang melawan negara. Itu masa yang heroik. Tetapi kini kita menyaksikan bentuk yang berbeda: rakyat yang melawan negara bukan untuk menggulingkan kekuasaan, melainkan untuk memintanya kembali menjadi dirinya sendiri.

Ada ironi di sana.

Rakyat meminta negara menjalankan hukum. Negara membalas dengan menjadikan hukum sebagai senjata untuk membungkam rakyat.

Rakyat meminta transparansi. Negara menjawab dengan ketertutupan yang semakin pekat.

Rakyat meminta verifikasi. Negara menjawab dengan kriminalisasi.

Fenomena “melawan negara” di sini bukan perlawanan fisik, bukan pemberontakan. Ia adalah sejenis doa politik: sebuah permohonan agar negara kembali waras.


Sebab pada akhirnya, pertanyaan publik tentang ijazah itu bukan persoalan dokumen. Ia adalah persoalan integritas. Persoalan kejujuran kolektif. Persoalan apakah republik ini masih memiliki ruang untuk kritik tanpa dibalas dengan ancaman.

Dan yang lebih penting: apakah negara masih mampu membedakan antara kritik dan ancaman? Antara pertanyaan dan permusuhan? Antara warga negara dan musuh negara?

Dalam demokrasi yang sehat, pertanyaan tidak pernah dianggap musuh. Ia justru fondasinya.

Tetapi di negeri ini, sesuatu telah patah. Kita menyaksikannya dalam cara institusi-institusi negara bergerak. Dalam cepatnya mereka menanggapi kritik dengan represif. Dalam lambatnya mereka menjawab permintaan informasi.

Kita menyaksikannya dalam cara mereka menjaga sebuah dokumen seolah-olah itu pusaka kerajaan.

Sebagian orang berkata: “Biarkan saja. Tidak penting.” Tetapi demokrasi pernah runtuh hanya karena hal-hal yang tampak tidak penting. Bukan karena kudeta, bukan karena perang, tetapi karena hilangnya rasa percaya. Sekeping dokumen yang dirahasiakan adalah benih dari hilangnya kepercayaan itu.


Pada akhirnya, tulisan ini bukan tentang benar atau salahnya ijazah. Ia tentang sesuatu yang lebih besar: relasi antara negara dan warga negara. Relasi yang kini, pelan-pelan, tampaknya digantikan oleh rasa curiga, ketakutan, dan pembungkaman.

“Melawan negara” adalah metafora dari pertanyaan yang tidak mendapat jawaban. Dari pintu yang tidak dibuka. Dari suara yang tidak didengar.

Tetapi, seperti yang selalu terjadi dalam sejarah republik ini, suara itu tidak mudah padam. Ia akan tetap mengetuk pintu-pintu yang tertutup, karena di balik semua kebisingan politik, warga negara tetap menyimpan harapan sederhana: bahwa negara bekerja bukan untuk seseorang, tetapi untuk rakyat.

Dan bahwa kebenaran, betapapun ditutup-tutupi, selalu menemukan jalannya sendiri.===

Cimahi, 4 Desember 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Update Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera: 3,2 Juta Jiwa Terdampak, 770 Orang Meninggal

Next Post

Lidah Majelis Tak Bertulang: Mengapa TPUA Sudah Tahu Sengketa KIP Akan Ditolak

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Perseteruan Raja Jawa vs Roy Suryo dan Ketidakakuran Kasunanan Surakarta vs Kasultanan Yogyakarta
Crime

Bila Ijazah Asli;Roy CS Terancam Penjara 9 Bulan – Bila Palsu; Jokowi Terancam 10 Tahun

February 13, 2026
Next Post
Lidah Majelis Tak Bertulang: Mengapa TPUA Sudah Tahu Sengketa KIP Akan Ditolak

Lidah Majelis Tak Bertulang: Mengapa TPUA Sudah Tahu Sengketa KIP Akan Ditolak

Sepuluh Tahun Sunyi: Ketika Ratusan Gajah Tumbang dan Hutan Sumatra Kehilangan Penjaganya

Sepuluh Tahun Sunyi: Ketika Ratusan Gajah Tumbang dan Hutan Sumatra Kehilangan Penjaganya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...