Jakarta – Fusilatnews – Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera terus menunjukkan dampak yang kian meluas. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 3,2 juta jiwa tercatat terdampak bencana yang terjadi dalam beberapa hari terakhir itu.
Dari laporan yang dihimpun, 770 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 463 orang masih dinyatakan hilang. Petugas gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI, Polri, serta relawan lokal terus melakukan pencarian di area-area yang aksesnya sulit akibat tertutup material longsor ataupun terisolasi karena luapan banjir.
Selain itu, 2.600 orang mengalami luka-luka, baik akibat tertimpa material longsor, hanyut, maupun insiden selama evakuasi. Tenaga medis dan fasilitas darurat sudah didirikan di sejumlah titik pengungsian, namun kondisi lapangan yang tidak stabil membuat proses penanganan terkadang terhambat.
Jumlah warga yang harus meninggalkan rumahnya juga meningkat tajam. Hingga pagi ini, 570.700 orang terpaksa mengungsi ke lokasi-lokasi yang dianggap aman. Banyak dari mereka kehilangan tempat tinggal, sementara sebagian lainnya memilih mengungsi karena rumah berada di zona rawan susulan longsor dan banjir.
Sejumlah titik bencana terlihat tersebar di berbagai provinsi di Sumatera, baik di wilayah utara, tengah, maupun selatan. Cuaca ekstrem yang dipicu intensitas hujan tinggi menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk situasi.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah telah mengaktifkan status tanggap darurat serta mempercepat penyaluran bantuan logistik, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Presiden juga dijadwalkan meninjau langsung beberapa wilayah terdampak dalam waktu dekat.
Situasi di lapangan masih sangat dinamis. Petugas meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana susulan mengingat curah hujan diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.



















