• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

MEMBACA NURANI ORANG PAPUA TERHADAP RI

Ali Syarief by Ali Syarief
October 24, 2024
in Feature
0
MEMBACA NURANI ORANG PAPUA TERHADAP RI

Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

Wacana pemekaran provinsi baru di Papua, tidak akan mulus bisa dilaksanakan. Ada dua paradigma yang berbeda antara Pemerintah Pusat dan Para Pemuka Papua. Bagi Pemerintah Pusat, cara untuk lebih mempercepat proses pembangunan yaitu dengan pemekaran wilayah administratif, sehingga pelayanan masyarakat lebih dapat tergarap. Sementara dari pihak Pemuka masyarakat Papua berpendapat, bahwa rakyat Papua, belum cukup mampu untuk menjadi pengelola pemerintahan daerah, karena kurangnya yang teredukasi. Karena itu, menimbulkan kehawatiran, bahwa untuk mengisi kekosongan jabatan-jabatan itu, dipenuhi oleg aparat yang direkruit dari luar Papua.

Itu masalah!.

Tapi baiklah, saya kutipkan beberapa pengalaman lama, menyerap aspirasi dari tokoh-tokoh papua sendiri, serta pengalaman hidup Bersama mereka, sebagai berikut;

Di belahan Bandung Utara, disuatu siang, saya berjanji bertemu dengan seorang teman baru dari Papua, Pak Sonny namanya. Dari Sorong. Awalnya inisiatif saya untuk menemuinya, tetapi rupanya gayung bersambut, beliau pun ingin bertemu dengan saya. Yang mendorong kami sama sama ingin bertemu adalah, issue papua merdeka. Maka terjadilah pertemuan dari hati ke hati, sangat terbuka dan blak-blakan mengenai berbagai persoalan di Papua dan perilaku pemeritah pusat terhadap Papua.

Sangat mencengankang, ketika beberapa hari sebelumnya, teman Sonny-dari Papua juga, yang baru saja di wisuda S2 di Jakarta, berkata begini :”kalau saja saya terus melanjutkan studi S3 nya, saya rasa sebelum saya di wisuda, Papua sudah merdeka!!!”. Aduuh. Nah alasan ini pula sebenarnya, yang membuat rasa penasaran, sehingga saya ingin menggali informasi lebih lanjut dari Sonny.

Saya mulai bertanya mengenai Free Port. Bagaiamana Pak Sonny bisa menjelaskan? begitu kata saya. Lalu Pak Sonny menguraikan seperti ini; “ Proyek Free Port itu, sudah tinggal beberapa kilometer lagi sampai ke gunung (Puncak Sukarno), yang diselimuti salju abadi. Sekarang saljunya sudah tidak ada Pak, terganggu oleh proyek Free Port. Bukan itu saja, suku-suku yang hidup banyak di sekitar Free Port, sudah tdk bisa hidup lagi disana, karena hutan sudah habis oleh proyek. Sungai-sungai kotor dan beracun pak, buangan limbah proyek. Dan Pemerintah pusat tidak pernah berbicara kepada Pemda setempat dan suku-suku yang hidup disana”, demikian lirihnya.

“Memang ada pembagian beras dari Free Port, kepada mereka. Tetapi beras bukan makanan kami. Kami tidak bisa tanam umbi lagi, tidak bisa tangkap babi lagi, ikan-ikan disungai sudah tidak ada lagi”, lanjutnya

Bagaimana rencana membangun tranportasi Kereta Api di Papua? “wah..itu hutan-hutan bisa habis Pak. Rusak lingkungan kami Pak”, tambahanya. Saya bertanya lagi, mengenai gerakan Papua Merdeka. “ Ada banyak kemajuan, ada beberapa Negara sudah mengakui keberadaan kami, dan perjuangan Papua Merdeka di Luar Negeri, sangat effektif. Di perjuangkan di berbagai Negara maju dan termasuk di PBB”, begitu lanjutnya.

“sebenarnya, kata Pak Sonny, ada juga ke hawatiran kami, kalau Papua Merdeka, yaitu perpecahan diantara kita, karena kita tidak mudah bisa berkomunikasi dengan mereka. Bahasa kami berbeda-beda, itu saja”.

Pembicaraan kami, berlanjut ke masalah-masalah budaya masyarakat Papua, yang di akhir percakapan, Pak Sonny memberikan pinjam buku tulisan Kuntjaraningrat, menganai etnis-etnis Papua, yang akan saya tulis kelak.

Persoalan Papua

(Foto: Istimewa)

Beberapa negara besar, seperti Amerika dan Australia, sudah memberi isyarat, bahwa masalah konflik di Papua saat ini adalah serious!. Amerika melihat dari sisi pelanggaran HAM sedangkan Australia meminta supaya pemerintah pusat lebih intensif dan aktif melakukan dialog lagi. Cara pandang ini memberi kesan kepada dunia, bahwa koflik Papua tanpa ada intervensi asing!.

Pernah berkunjung ke pedalaman Papua, menemui suku Korowai. Perjalanan yang sangat ekslusif dan eksotik itu, karena sangat mahalnya biaya kesana dan jarangnya orang berkunjung tempat tersebut. Untuk sampai ke daerah terdekat dengan suku Korowai, harus charter pesawat hingga 120 juta rupiah pp. 120 juta rupiah tidak cukup untuk bisa bertemu dengan mereka. Perjalanan harus dilanjutkan dengan perahu kanu, selama kurang lebih 1.5 jam lagi, menyusuri dua sungai besar. Nah..usai berkanu, barulah berjalan kaki masuk ke hutan perawan, selama 4 jam. Menerobos hutan lebat, dengan serangan berbagai macam serangga dan lintah, baru akhirnya bisa sampai dengan Suku Korowai.

Suku Korowai hidup di atas pohon-pohon besar, makan sagu, babi dan ikan serta tumbuh2an lainnya, yang ada terpelihara diwilayah sekitar lokasi mereka tinggal. Suku Korowai tdk memelukan Rumah Sakit, karena bila sakit bisa mencari obat sendiri dialam sekitarnya. Tidak perlu pasar untuk membeli apapun, karena alam menyediakan dengan lengkap, banyak dan mudah untuk keperluan mereka. Tidak perlu rumah berdinding beton daan beratap seng, karena air hujan yang membasahi badan menyegarkan tubuhnya.

Rumah-rumah yang dibangun oleh Depsos, tidak diperlukan oleh mereka, karena tidak sesuai dengan kebutuhan dan malah tidak membuat mereka comfort, karena atap seng membuatnya gerah dan tidak nyaman.

Sepanjang rencana-rencana pembangunan di Papua datang dari pemikiran dan idea orang Jakarta, maka sepanjang itu pula tidak akan pernah menyentuh kepada kebutuhan mereka. Jadi harusnya bagaimana? Biarkan mereka menentukan cara hidupnya sendiri. Mereka sebenarnya sudah hidup modern di alam primitive, karena sadar akan pentingnya memelihara lingkungan, untuk kelangsungan hidupnya sendiri.

Ketika saya tanya mau oleh-oleh apa yang harus saya bawa dan mereka sukai?. Jawabnya sederhana “bawakan kami cermin”.

Sikap Pemuka Papua Terhadap Kebijakan Jakarta

Gubernur Lukas Enembe dari provinsi Papua mengatakan kepada Reuters bahwa tidak ada cukup sumber daya untuk menjalankan provinsi baru dan bahwa orang Papua tidak dikonsultasikan secara memadai tentang rencana tersebut.

“Hanya sedikit orang kami di sini untuk membuat provinsi baru,” katanya, seraya menambahkan bahwa blok administratif baru dapat menyebabkan masuknya orang dari luar Papua.

Rencana Indonesia untuk membentuk provinsi baru di wilayah timur Papua yang miskin belum dibicarakan secara memadai dengan penduduk setempat dan tidak layak, kata gubernurnya.

Sementara anggota DPR RI teah  menyampaikan pada bulan April bahwa parlemen akan mempertimbangkan untuk menambahkan tiga provinsi baru di wilayah tersebut, sehingga totalnya menjadi lima. Pengumuman itu memicu protes dari orang Papua dibeberapa kota atas apa yang mereka lihat sebagai perambahan pemerintah pusat ke wilayah yang kaya sumber daya itu.

Papua dan Papua Barat sebagian barat dari New Guinea, dengan luas daratan  sebanding dengan Swedia dan populasi 5,4 juta.

Wilayah tersebut telah mengalami perjuangan kemerdekaan selama beberapa dekade sejak referendum 1969 melihatnya dimasukkan ke dalam Indonesia. Para kritikus mengatakan pemerintah pusat telah gagal mengembangkan wilayah tersebut, yang dibagi menjadi dua provinsi pada tahun 2003 dan memberikan dana kesejahteraan khusus.

Provinsi Papua dan Papua Barat secara konsisten menempati peringkat terendah di negara ini dalam beberapa indikator ekonomi seperti indeks pembangunan manusia.

Made Supriatma, seorang peneliti keamanan di ISEAS – Yusof Ishak Institute di Singapura, menyuarakan keprihatinan Enembe, mengatakan bahwa pendidikan yang buruk berarti tidak cukup personel yang memenuhi syarat untuk menjalankan provinsi baru.

Perwakilan penduduk asli Papua menentang rencana pembentukan provinsi baru, dengan mengatakan itu “tidak akan membantu orang Papua.”

“Ini adalah bentuk kekerasan negara yang berusaha menghapus kehidupan orang Papua,” kata pemimpin perwakilan Timotius Murib kepada Reuters bulan lalu.

Seorang juru bicara kementerian dalam negeri,  tidak menanggapi permintaan komentar.  Menterikopulhukam, Mahfud MD, hanya mengatakan 82% orang Papua menginginkan pemisahan administratif, tetapi angka ini telah dipertanyakan oleh perwakilan adat.

Update Artikel Lainnya Ikuti Kami Di Google News

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PEMBENTUKAN PROVINSI BARU DI PAPUA DITOLAK GUBERNUR LUKAS

Next Post

Resmi, Jepang Izinkan Turis Asing Masuk

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi
Feature

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?
Feature

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026
Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain
Feature

Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

April 19, 2026
Next Post
Resmi, Jepang Izinkan Turis Asing Masuk

Resmi, Jepang Izinkan Turis Asing Masuk

“Hijabophobia” dan Diskriminasi Tenaga Kerja

"Hijabophobia" dan Diskriminasi Tenaga Kerja

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi
Feature

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Tak pernah kita menyaksikan Jusuf Kalla seemosional...

Read more
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026
Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

April 19, 2026

​Pembuktian Mens Rea: Abu-Abu, Pelik, tapi Pangkal Keadilan

April 19, 2026
Negeri Para Jongos

Seberapa Pentingkah Teddy Wijaya Bagi Bangsa Ini?

April 19, 2026
JK dan Keris Mpu Gandring

JK dan Keris Mpu Gandring

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...