Peristiwa menjelang siang di hari jum’at, 9/07/22, tepatnya didepan stasiun Kereta Api disudut kota Nara, Mantan Perdana Menteri Abe, jatuh terkapar ditembak pemuda frustasi , Yamagami Tetsuya 41 tahun, dengan senjata buatan tangan. Sumber Pertahanan mengatakan pelaku pernah bekerja untuk Pasukan Bela Diri Maritim selama tiga tahun hingga sekitar tahun 2005.
Disore harinya, pada pukul 15.05, Rumah Sakti Nara, memberitakan Shinzo Abe, tak dapat ditolong lagi dan dinyatakan telah meninggalkan dunia.
Ada beberapa poin menarik yang dapat kita catat dari kejadian tersebut.
Dua jam, setelah Perisitiwa penembakan Abe, PM Kishida sambil berkaca-kaca menyampaikan pernyataan resmi, antara lain, penyeselan atas kejadian tersebut dan “demokrasi Jepang terancam”. Bergitu juga Ketua Partai Oposisi, menyatakan hal yang senafas dengan Kishida.
Apa yang dimaksud dengan Demokrasi Jepang Terancam?
Bila kita amati seikastu (kehidupan) bangsa Jepang, tidak mengenal diksi dan semiotika demokrasi dalam sejarah budaya dan peradabannya. Layak diduga, sejak Amerika memperkenal system pemerintahan parlementerlah yang pas untuk Jepang, kehidupan berdemokrasi dalam perpolitikan di Jepang, mulai diamalkan secara murni dalam praktek yang baik.
Tetapi tidak banyak terjadi dalam kehidupan kebudayaan bangsa jepang pada kegiatan sehari-hari.
Dinamika politik berdemokrasi di Jepang, telah melahirkan seringkali pergantian Pemerintahan dan Perdana Menterinya, dari mulai yang hitungan Bulan hingga bertahun-tahun seperti selama Abe menjabat sebagai PM. Tapi ujung dari praktek pemerintahan seperti itu, dan persetubuhan dengan system nilai budaya Jepang yang ribuan tahun telah mandarah daging, melahirkan Jepang menjadi suatu Negara yang cemerlang diberbagai kehidupan dimuka bumi ini.
Kita bisa membaca dari video yang beredar luas saat Abe San ditembak terrorist itu. Dalam hitungan detik setelah peristiwa penembakan, Yamagami Tetsuya, dapat dilumpuhkan, dibekuk dan diringkus oleh aparat keamanan tertutup yang bertugas saat ini. Ini menjelaskan, bahwa Jepang sangat siaga dan ketat dalam soal pengamanan orang-orang penting. Walau peristiwa itu adalah suatu kecolongan, tetapi kita bisa memakluminya sebagai beyond their control.
Semangat heroic dan pribadi yag berintegritas Abe, dapat kita baca sebagai berikut ; Menjadi Perdana Menteri terlama sejak Perang Dunia ke 2, mengundurkan diri sebagai PM, karena kondisi fisik dan demi kelangsungan pemerintahan yang lebih baik. Saat kondisi fisiknya pulih, Ia kembali kerena politik. Bukan untuk Kembali menjadi Perdana Menteri, tetapi bagaimana agar partainya tetap mendapat dukungan dari rakyat, demi cita-citanya mewujudkan Abenomic (meningkatkan kesejahteraan Jepang).
Diujung konferensi Pers juga, PM Kishidan menjelaskan, bahwa ia segara akan memanggil para Menteri-menterinya, untuk membicarakan dan memastikan, apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah sebagai respon terhadap peristiwa tersebut. Menegaskan kebijakan baru, agar aparat yang ada, dengan masyarakat Jepang, bagaimana menjunjung tinggi kehidupan berdemokrasi yaitu kebebasan menyuarakan kebenaran dimuka umum.
Harum nama besar Abe, dapat kita baca bagaimana para Kepala Negara dan para Pemimpin Dunia menyampaikan obituarinya diberbagai media social seperti tweeter, dll. Yang luar biasa.
Konflik Rusia Ukraina, membua Putin marah kepada sikap Jepang, tetapi mantan Duta besar Rusia untuk Jepang, mengatakan “Abe telah sangat aktif membangun hungungan baik dengan Rusia. Sangat berteman dengan Putin, bahkan telah bertemu sebanyak 27 kali atau 12 jam one-on-one dialogs.
Sementara Jou Biden, menyatakan; “Saya terkejut, marah, dan sangat sedih mendengar berita bahwa teman saya Abe Shinzo, mantan Perdana Menteri Jepang, ditembak dan dibunuh. Dia adalah juara persahabatan antara orang-orang kami. Amerika Serikat berdiri bersama Jepang di saat duka ini”.
























