Oleh: Zackir L Makmur, Wartawan
Jakarta – Tragedi terbesar seorang budayawan adalah ketika menyampaikan kritik justru menanggalkan adab budaya. Dia justru menghina subyek yang dikritik. Maka, publik terheran-heran. Mengapa budayawan yang teramat paham bahwa menyampaikan kritik bagian dari adab, malah begitu serampangan.
Dalam kehidupan berdemokrasi, kita butuh kritik dan beradab dalam menyampaikan kritik. Tanpa mempertimbangkan adab, kritik bisa merosot menjadi sebuah hinaan, hujatan, atau cemoohan. Sesuai dengan kapasitas wawasan dan daya intelektualitas, kritik yang terlontar mencerminkan keababan.
Corrie Ten Boom, penulis Belanda (1892-1983) mengatakan, “Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran.” Para pengawal jiwa itu sudah tentu berwawasan luas, dan orang-orang berwawasan luas senantiasa menyampaikan kritik berlandaskan fakta. Argumen yang dibangun tidak dalam kungkungan menuding kelemahan atau pun kekurangan.
Walau kalimat-kalimat yang disampaikan begitu tajam dan langsung menohok, itu bukanlah ujaran kebencian, cemoohan, apalagi hinaan. Namun sebuah penjelasan yang tandas bersama alasan-alasannya, tidak punya tujuan untuk menyerang pribadi.
Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), belum lama ini menyampaikan kritik terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi), pengusaha Anthony Salim, dan Menteri Luhut B Panjaitan. Sebagaimana yang viral di media sosial dan banyak diberitakan media massa, video ceramah Cak Nun menyebut: “Indonesia dikuasai oleh Firaun yang namanya Jokowi, oleh Qorun yang namanya Anthony Salim dan 10 naga. Terus Haman yang namanya Luhut.”
Publik lalu mempersoalkan kritik yang dilontarkan Cak Nun. Dia kemudian meminta maaf. Hal yang menarik, dalam pernyataan minta maaf yang ditayangkan video kanal YouTube CakNun.com (18/1/2023) berjudul Mbah Nun Kesambet, Cak Nun justru heran dia bisa mengucapkan soal Firaun, Qarun, dan Haman. Dia merasa kesambet.
“Jaga Mulut”
Dalam tradisi lama kebudayaan Indonesia, yang dimaksud kesambet adalah kena gangguan roh jahat atau setan. Maka ada ungkapan yang hidup di kalangan masyarakat bahwa seseorang melakukan penghinaan atau melontarkan kritik yang menghina dikatakan mulut yang bersangkutan “kemasukan setan”.
Petuah dari tradisi-kearifan lokal juga mengajarkan laku bijaksana menjaga mulut. Petatah-petitih maupun peribahasa bangsa ini teramat banyak menggunakan idiomatik mulut. Ungkapan yang terkenal, antara lain adalah “Mulut kamu, harimau kamu”. Ungkatan itu mengajarkan betapa keselamatan dan harga diri manusia bergantung pada perkataannya.
Pada sisi yang bersamaan ada nasihat, “Mulut manis mematahkan tulang”. Hal ini bermakna bahwa perkataan yang lemah lembut dapat menyebabkan orang lain tunduk (menurut). Dengan demikian, menyampaikan kritik yang beradab, adalah cara menyampaikan suatu kekurangan atau kelemahan yang ada agar diterima dan dimengerti, tanpa menyakitkan hati dan perasaan. Karena itu, kritik yang beradab punya semangat untuk memperbaiki.
Walau tak menyertakan solusi, tapi kritik yang demikian telah memberikan arah untuk lebih baik lagi. Kritik yang beradab selain tandas pada persoalan, memberikan solusi, juga tak sungkan-sungkan menyelipkan pujian. Bagaimana pun, ada aspek positif karena perbuatan dan pemikiran manusia tidaklah sama seperti setan yang selalu jahat dan buruk. Maka seberapa buruk pun, masih ada hal positifnya. Ini layak dapat pujian.
Kritik semakin membawa dampak ketika penyampaiannya diketahui banyak orang. Dampak ini menjadi positif atau menambah pengetahuan manakala kritikan yang terjadi beradab. Sebaliknya, berdampak negatif, membuat merosot derajat dan martabat tatkala yang disampaikan adalah kritik serampangan.
Bayangkan bila kritik tak beradab, yang melorot ke level cemoohan, hinaan, dan ujaran kebencian, ditujukan kepada seseorang dan itu diketahui banyak khalayak. Alangkah nistanya orang yang dikritik itu. Tragisnya lagi jika orang-orang hanya tahu dari media sosial.
Betapa keadaan menjadi genting, orang yang dikritik telah “dihukum mati” secara persona non grata. Walau masa kini situasi dan kondisi sudah sedemikian penuh keterbukaan, memilah antara kritikan dan hinaan masih tetap relevan dilakukan.
Terkait Presiden Joko Widodo (Jokowi), misalnya. Tahun 2012, ketika Jokowi mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta, sejumlah mulut dari kalangan warga seperti “kemasukan setan” dengan melecehkan Jokowi. Mereka menyebutnya “bertampang ndeso”, “bertubuh kurus seperti kekurangan makan”, “tidaklah pas menjadi gubernur”. “Sudah bodi kerempeng, duit nggak gablek (tidak ada), jaringan nggak punya pula”.
Tahun 2014, Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden. Apa yang disebut mulut “kemasukan setan” semakin meluas ke dunia media sosial. Ketika Jokowi jadi presiden tahun 2014, juga jelang Pilpres 2019 “mulut-mulut setan” itu tak jua menyusut.
Bahkan ketika Jokowi menjadi presiden, kritik serampangan tetap bermunculan. Misalnya pada 12 Januari 2023, sebuah akun Twitter bernama Loegie ini menulis kalimat tak pantas untuk Sang Presiden. Berselang beberapa hari, muncul pernyataan yang datangnya dari Cak Nun.
Membangun kepatuhan
Presiden dan wakil presiden dalam demokrasi yang kita anut adalah pucuk pimpinan nasional yang kita pilih berdasarkan konstitusi yang berlaku. Ini berarti kita telah memberi kepercayaan kepada presiden dan wakil presiden yang kita pilih. Seandainya calon yang kita pilih kalah suara, kita tetap wajib memberi apresiasi dan patuh terhadap presiden dan wakil presiden yang bukan pilihan kita, pimpinan bangsa dan negara kita. Lantas mendukung periodenya membangun bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai.
Bagaimanapun presiden dan wakil presiden adalah pemimpin tertinggi bangsa ini. Dari mana asal partainya, sukunya, agamanya, maupun apa jenis kelaminnya tidaklah menghalangi kita untuk menghormatinya. Terlebih kita menganut sistem demokrasi yang memilih presiden dan wakil presiden secara langsung, jelas kita tahu siapa mereka.
Kalaupun di antara kita ada yang tidak sepemahaman, itu hanya sebatas politis, tidak boleh masuk pada sentimen agama dan suku. Maka dengan pertimbangan perbedaan secara politis, kerja sama membangun bangsa tetap kita bisa jalin. Kesusksesan presiden dan wakil presiden adalah kesuksesan bangsa ini, rakyat, dan kita semua, karena bukan hanya presiden dan wakil presiden yang pantas diberi pengahargaan atas keberhasilan bangsa. Semua elemen bangsa yang dibedakan oleh suku, agama, ras, partai politik, maupun jenis kelamin, adalah kita.
Semuanya bertanggung jawab terhadap keamanan, kesejahteraan, kemajuan, dan keadaban bangsa. Kalau kemudian kita perlu melacarkan kritik, tentu saja kritik yang masih dalam semangat menjaga persatuan. Jangankan presiden dan wakil presiden, rakyat biasa pun pada kelazimannya tidak suka dikritik di hadapan khalayak, di depan umum atau di tempat umum, apalagi di media sosial yang jangkuannya luas dan diketahui banyak orang.
Kritikan yang beradab mesti mempertimbangkan hal-hal itu, mempertimbangkan bahwa orang tidak suka dikritik di hadapan khalayak, menyampaikan kritik jangan serampangan. Apalagi sampai levelnya melorot ke tingkat menghina.
Sudah saatnya kita membangun kritik yang beradab. Kritik yang beradab selalu fokus pada persoalan, memberi solusi, juga menyelipkan pujian. Semua ini menjadi masukan yang bisa diperhatikan oleh subyek yang dikritik, tanpa ia jatuh martabatnya dan sakit hatinya. Dari ini bisa diharapkan bakal terjadi perubahan.
Dikutip dari Kompas.com, Jumat 20 Januari 2022.
























