• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Membangun Tradisi Penyampaian Kritik yang Beradab

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
January 20, 2023
in Feature
0
Pemerintahan Ambruk Sebelum 2024? Berikut Penjelasan Faisal Basri

Photo : Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Zackir L Makmur, Wartawan

Jakarta – Tragedi terbesar seorang budayawan adalah ketika menyampaikan kritik justru menanggalkan adab budaya. Dia justru menghina subyek yang dikritik. Maka, publik terheran-heran. Mengapa budayawan yang teramat paham bahwa menyampaikan kritik bagian dari adab, malah begitu serampangan.

Dalam kehidupan berdemokrasi, kita butuh kritik dan beradab dalam menyampaikan kritik. Tanpa mempertimbangkan adab, kritik bisa merosot menjadi sebuah hinaan, hujatan, atau cemoohan. Sesuai dengan kapasitas wawasan dan daya intelektualitas, kritik yang terlontar mencerminkan keababan.

Corrie Ten Boom, penulis Belanda (1892-1983) mengatakan, “Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran.” Para pengawal jiwa itu sudah tentu berwawasan luas, dan orang-orang berwawasan luas senantiasa menyampaikan kritik berlandaskan fakta. Argumen yang dibangun tidak dalam kungkungan menuding kelemahan atau pun kekurangan.

Walau kalimat-kalimat yang disampaikan begitu tajam dan langsung menohok, itu bukanlah ujaran kebencian, cemoohan, apalagi hinaan. Namun sebuah penjelasan yang tandas bersama alasan-alasannya, tidak punya tujuan untuk menyerang pribadi.

Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), belum lama ini menyampaikan kritik terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi), pengusaha Anthony Salim, dan Menteri Luhut B Panjaitan. Sebagaimana yang viral di media sosial dan banyak diberitakan media massa, video ceramah Cak Nun menyebut: “Indonesia dikuasai oleh Firaun yang namanya Jokowi, oleh Qorun yang namanya Anthony Salim dan 10 naga. Terus Haman yang namanya Luhut.”

Publik lalu mempersoalkan kritik yang dilontarkan Cak Nun. Dia kemudian meminta maaf. Hal yang menarik, dalam pernyataan minta maaf yang ditayangkan video kanal YouTube CakNun.com (18/1/2023) berjudul Mbah Nun Kesambet, Cak Nun justru heran dia bisa mengucapkan soal Firaun, Qarun, dan Haman. Dia merasa kesambet.

“Jaga Mulut”

Dalam tradisi lama kebudayaan Indonesia, yang dimaksud kesambet adalah kena gangguan roh jahat atau setan. Maka ada ungkapan yang hidup di kalangan masyarakat bahwa seseorang melakukan penghinaan atau melontarkan kritik yang menghina dikatakan mulut yang bersangkutan “kemasukan setan”.

Petuah dari tradisi-kearifan lokal juga mengajarkan laku bijaksana menjaga mulut. Petatah-petitih maupun peribahasa bangsa ini teramat banyak menggunakan idiomatik mulut. Ungkapan yang terkenal, antara lain adalah “Mulut kamu, harimau kamu”. Ungkatan itu mengajarkan betapa keselamatan dan harga diri manusia bergantung pada perkataannya.

Pada sisi yang bersamaan ada nasihat, “Mulut manis mematahkan tulang”. Hal ini  bermakna bahwa perkataan yang lemah lembut dapat menyebabkan orang lain tunduk (menurut). Dengan demikian, menyampaikan kritik yang beradab, adalah cara menyampaikan suatu kekurangan atau kelemahan yang ada agar diterima dan dimengerti, tanpa menyakitkan hati dan perasaan. Karena itu, kritik yang beradab punya semangat untuk memperbaiki.

Walau tak menyertakan solusi, tapi kritik yang demikian telah memberikan arah untuk lebih baik lagi. Kritik yang beradab selain tandas pada persoalan, memberikan solusi, juga tak sungkan-sungkan menyelipkan pujian. Bagaimana pun, ada aspek positif karena perbuatan dan pemikiran manusia tidaklah sama seperti setan yang selalu jahat dan buruk. Maka seberapa buruk pun, masih ada hal positifnya. Ini layak dapat pujian.

Kritik semakin membawa dampak ketika penyampaiannya diketahui banyak orang. Dampak ini menjadi positif atau menambah pengetahuan manakala kritikan yang terjadi beradab. Sebaliknya, berdampak negatif, membuat merosot derajat dan martabat tatkala yang disampaikan adalah kritik serampangan.

Bayangkan bila kritik tak beradab, yang melorot ke level cemoohan, hinaan, dan ujaran kebencian, ditujukan kepada seseorang dan itu diketahui banyak khalayak. Alangkah nistanya orang yang dikritik itu. Tragisnya lagi jika orang-orang hanya tahu dari media sosial.

Betapa keadaan menjadi genting, orang yang dikritik telah “dihukum mati” secara persona non grata. Walau masa kini situasi dan kondisi sudah sedemikian penuh keterbukaan, memilah antara kritikan dan hinaan masih tetap relevan dilakukan.

Terkait Presiden Joko Widodo (Jokowi), misalnya. Tahun 2012, ketika Jokowi mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta, sejumlah mulut dari kalangan warga seperti “kemasukan setan” dengan melecehkan Jokowi. Mereka menyebutnya “bertampang ndeso”, “bertubuh kurus seperti kekurangan makan”, “tidaklah pas menjadi gubernur”. “Sudah bodi kerempeng, duit nggak gablek (tidak ada), jaringan nggak punya pula”.

Tahun 2014, Jokowi mencalonkan diri menjadi presiden. Apa yang disebut mulut “kemasukan setan” semakin meluas ke dunia media sosial. Ketika Jokowi jadi presiden tahun 2014, juga jelang Pilpres 2019 “mulut-mulut setan” itu tak jua menyusut.

Bahkan ketika Jokowi menjadi presiden, kritik serampangan tetap bermunculan. Misalnya pada 12 Januari 2023, sebuah akun Twitter bernama Loegie ini menulis kalimat tak pantas untuk Sang Presiden. Berselang beberapa hari, muncul pernyataan yang datangnya dari Cak Nun.

Membangun kepatuhan

Presiden dan wakil presiden dalam demokrasi yang kita anut adalah pucuk pimpinan nasional yang kita pilih berdasarkan konstitusi yang berlaku. Ini berarti kita telah memberi kepercayaan kepada presiden dan wakil presiden yang kita pilih. Seandainya calon yang kita pilih kalah suara, kita tetap wajib memberi apresiasi dan patuh terhadap presiden dan wakil presiden yang bukan pilihan kita, pimpinan bangsa dan negara kita. Lantas mendukung periodenya membangun bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai.

Bagaimanapun presiden dan wakil presiden adalah pemimpin tertinggi bangsa ini. Dari mana asal partainya, sukunya, agamanya, maupun apa jenis kelaminnya tidaklah menghalangi kita untuk menghormatinya. Terlebih kita menganut sistem demokrasi yang memilih presiden dan wakil presiden secara langsung, jelas kita tahu siapa mereka.

Kalaupun di antara kita ada yang tidak sepemahaman, itu hanya sebatas politis, tidak boleh masuk pada sentimen agama dan suku. Maka dengan pertimbangan perbedaan secara politis, kerja sama membangun bangsa tetap kita bisa jalin. Kesusksesan presiden dan wakil presiden adalah kesuksesan bangsa ini, rakyat, dan kita semua, karena bukan hanya presiden dan wakil presiden yang pantas diberi pengahargaan atas keberhasilan bangsa. Semua elemen bangsa yang dibedakan oleh suku, agama, ras, partai politik, maupun jenis kelamin, adalah kita.

Semuanya bertanggung jawab terhadap keamanan, kesejahteraan, kemajuan, dan keadaban bangsa. Kalau kemudian kita perlu melacarkan kritik, tentu saja kritik yang masih dalam semangat menjaga persatuan. Jangankan presiden dan wakil presiden, rakyat biasa pun pada kelazimannya tidak suka dikritik di hadapan khalayak, di depan umum atau di tempat umum, apalagi di media sosial yang jangkuannya luas dan diketahui banyak orang.

Kritikan yang beradab mesti mempertimbangkan hal-hal itu, mempertimbangkan bahwa orang tidak suka dikritik di hadapan khalayak, menyampaikan kritik jangan serampangan. Apalagi  sampai levelnya melorot ke tingkat menghina. 

Sudah saatnya kita membangun kritik yang beradab. Kritik yang beradab selalu fokus pada persoalan, memberi solusi, juga menyelipkan pujian. Semua ini menjadi masukan yang bisa diperhatikan oleh subyek yang dikritik, tanpa ia jatuh martabatnya dan sakit hatinya. Dari ini bisa diharapkan bakal terjadi perubahan.

Dikutip dari Kompas.com, Jumat 20 Januari 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pelaku Bunuh diri di Jepang meningkat Tahun 2022; Pria Pelaku Tertinggi Dalam 13 tahun

Next Post

Efek Domino Jabatan Kades 9 Tahun, Magnet Kuat Oligarki

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Apa Bahayanya Jika Jabatan Kades Jadi 9 Tahun Jelang Pemilu 2024?

Efek Domino Jabatan Kades 9 Tahun, Magnet Kuat Oligarki

Arab Saudi Beri Kuota 1 Juta Jemaah Haji Indonesia Tahun Ini, Simak Ketentuannya

Arab Saudi: Biaya Paket Haji 30% Lebih Murah Dari Tahun Lalu – Indonesia: Biaya Haji Naik Rp 29 Juta Tahun Ini

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist