FusilatNews – Di era Jokowi, loyalitas politik diukur dari seberapa patuh aktor-aktor di sekitar istana mengamini kebijakan dan narasi besar sang presiden—IKN, hilirisasi, bahkan soal “putra mahkota” Gibran. Dalam ekosistem seperti ini, tokoh seperti Eggi Sudjana dan Syahganda Nainggolan ibarat virus bagi sistem kekuasaan: sulit diberantas, tapi juga tak bisa diabaikan.
Kini mereka tak hanya bergerak di luar lingkar kekuasaan. Mereka mengetuk pintu yang lain—pintu tempat Prabowo, sang presiden terpilih, bersiap menyusun barisan baru.
Pertanyaannya: mengapa Sufmi Dasco membuka pintu itu?
Apakah ini bagian dari taktik rekonsiliasi diam-diam? Atau justru sinyal bahwa Prabowo tengah membangun benteng dari dalam, untuk menghadapi potensi sabotase politik dari loyalis Jokowi yang masih menyusup di kabinet masa transisi?
Sebab tak dapat dipungkiri: Prabowo bukan pewaris kekuasaan murni. Ia presiden terpilih, tapi mewarisi struktur kabinet dan jejaring birokrasi yang masih diwarnai “orang-orang Jokowi”. Maka membaca pertemuan itu bukan hanya membaca pergeseran kekuatan, tapi juga membaca mekanisme pembersihan lembut di tubuh kekuasaan ke depan.
Dasco dan Pola Gerindra: Menyusun Catur Tanpa Suara
Gerindra tidak pernah bermain dengan keramaian. Ia bukan partai yang sibuk konferensi pers setiap minggu. Tapi ketika bergerak, mereka tepat dan dalam. Kehadiran Dasco di pertemuan dengan Eggi Sudjana cs adalah pola khas Gerindra—melakukan lobi dalam senyap, namun efeknya gemuruh.
Dan jangan lupa, Eggi bukan tokoh sembarangan. Ia memiliki akar di kalangan Islam politik, alumni 212, jaringan ulama perlawanan, dan legal standing moral yang tak main-main: pernah memimpin gugatan atas tuduhan ijazah palsu Presiden.
Jika Eggi kini mulai bicara pembangunan desa, industrialisasi, dan narasi pembangunan ala negara, maka boleh jadi ia sedang menjajaki ulang posisi. Dari penentang kekuasaan, menjadi mitra kekuasaan. Dengan syarat: Jokowi ditinggal, dan Gibran tidak dibawa.
Menuju Kabinet Prabowo: Menyaring yang Lama, Memilih yang Baru
Di sinilah sesungguhnya letak getaran politik yang sesungguhnya: siapa yang akan tetap duduk di kabinet setelah Prabowo dilantik? Akankah loyalis Jokowi dibiarkan tetap menguasai kementerian strategis seperti ESDM, Keuangan, dan Pendidikan?
Atau justru, seperti pertemuan ini tunjukkan, Prabowo mulai membentuk blok baru—perpaduan nasionalis dan Islam politik, aktivis dan pengusaha, yang lebih sejalan dengan visi dan gaya Prabowo yang tidak selalu bisa ditebak?
Ini bukan soal siapa duduk di mana. Ini soal arsitektur kekuasaan baru yang sedang dirancang. Dan seperti biasa, sinyal awalnya datang dari tempat tak terduga: pertemuan santai di Menteng, meme yang beredar di WhatsApp, dan peristiwa simbolik yang menjadi nyata.
Penutup Sementara: Tanda-Tanda Retaknya Fondasi Jokowi
Kekuasaan, seperti sejarah, tidak selalu runtuh dengan dentuman. Kadang ia lapuk dari dalam, digerogoti senyap oleh elemen-elemen kecil yang selama ini disepelekan.
Dalam konteks itu, pertemuan Don Dasco dengan Eggi Sudjana cs adalah semacam retakan pertama di fondasi Jokowiisme—sebuah sistem yang terlalu lama menganggap nalar publik sebagai beban dan loyalitas sebagai tiket menuju kekuasaan abadi.
Tapi sejarah selalu punya cara untuk membalas arogansi kekuasaan. Dan jika membaca peta hari ini dengan jernih, tampaknya sejarah sedang menulis bab baru—dengan Prabowo sebagai narasi utama, dan Eggi Sudjana cs sebagai pemain pembuka.






















