• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Mereka yang Ketakutan Indonesia Tak Lagi Mengimpor

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
July 8, 2025
in Economy, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastaatmadja – (Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

“Ada yang tidak suka jika bangsa ini meraih swasembada pangan. Siapa lagi kalau bukan para importir! Mereka sudah puluhan tahun membangun gudang, memiliki infrastruktur lengkap, langganan tetap, armada kapal, dan tentu saja ribuan karyawan.
Wajar jika mereka kebakaran jenggot. Coba bayangkan, keuntungan triliunan yang biasa mereka raup dalam sekejap bisa raib begitu saja, jika Indonesia tak perlu impor lagi.”
— Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman

Pernyataan di atas layak menjadi bahan diskusi serius. Bukan hanya karena sejalan dengan tekad pemerintahan Presiden Prabowo yang ingin mewujudkan swasembada pangan dalam waktu sesingkat-singkatnya, tetapi juga karena membuka mata kita bahwa ada pihak-pihak yang secara terang-terangan menentang kedaulatan pangan bangsa sendiri.

Saat ini, swasembada pangan menjadi salah satu program prioritas nasional. Presiden Prabowo bersama Kabinet Merah Putih menempatkan ketahanan dan kemandirian pangan sebagai salah satu fondasi utama kedaulatan negara. Cita-cita ini bukan sekadar ambisi politik, melainkan kehendak sejarah agar Indonesia tidak terus bergantung pada negara lain dalam hal yang paling mendasar: makan.

Jika kita bercermin pada masa lalu, bangsa ini telah mencatatkan prestasi membanggakan: pernah swasembada beras, bahkan jagung. Maka, adalah sesuatu yang sangat mungkin jika swasembada pangan secara menyeluruh menjadi kenyataan—asal ada keseriusan, konsistensi, dan keberanian melawan kepentingan-kepentingan yang menghalangi.

Swasembada: Harga Mati bagi Bangsa yang Mau Bermartabat

Tak berlebihan jika ada yang menyebut bahwa swasembada pangan adalah harga mati. Kenapa? Karena ini menyangkut urusan hidup dan mati bangsa. Bung Karno sendiri pernah mengatakan, “Urusan pangan adalah hidup matinya suatu bangsa.” Ketika suatu bangsa bisa memberi makan rakyatnya sendiri, maka bangsa itu berdiri di atas kakinya sendiri, tidak tunduk pada tekanan asing, dan tidak mudah didikte oleh kekuatan luar.

Pencapaian swasembada pangan adalah jalan menuju ketahanan nasional, mengurangi ketergantungan pada impor, dan meningkatkan kesejahteraan petani serta masyarakat luas. Karena itulah, kebijakan ini tidak bisa ditawar-tawar. Negara harus hadir dan berpihak sepenuhnya pada kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan segelintir elite bisnis yang selama ini menjadikan kelaparan dan ketergantungan sebagai ladang keuntungan.

Siapa yang Takut Indonesia Mampu Swasembada?

Namun, di balik semua semangat dan harapan itu, kita harus jujur melihat kenyataan bahwa ada kelompok yang gelisah dan resah jika Indonesia benar-benar mampu swasembada. Setidaknya ada empat kelompok besar yang patut dicurigai sebagai “penentang dalam selimut”:

  1. Negara-negara pengekspor pangan. Mereka akan kehilangan pasar besar jika Indonesia tidak lagi menjadi konsumen tetap mereka.
  2. Perusahaan multinasional. Korporasi besar yang selama ini menguasai distribusi pangan global akan merasa dirugikan jika pasar strategis seperti Indonesia mulai mandiri.
  3. Kelompok kepentingan domestik. Mereka yang selama ini mendapat rente dari kegiatan impor akan kehilangan sumber keuntungan besar yang biasa mereka nikmati secara rutin.
  4. Kelompok skeptis dalam negeri. Ada pula yang berpandangan sinis, meragukan kapasitas bangsa sendiri, dan bahkan menakut-nakuti publik dengan isu harga mahal atau kualitas rendah jika produksi dalam negeri dijadikan andalan.

Mereka Tak Selalu Musuh, Tapi Bisa Menghalangi

Meski demikian, tak semua pihak yang berbeda pandangan otomatis bisa dicap sebagai “musuh bangsa.” Ada yang mungkin hanya memiliki pendekatan berbeda, ada pula yang benar-benar punya kekhawatiran jujur. Untuk itu, kita bisa membagi mereka dalam beberapa kategori:

  • Pihak yang punya kepentingan berbeda. Bukan berarti mereka ingin merusak negara, tetapi bisa jadi mereka menempatkan keuntungan di atas kepentingan bangsa.
  • Kelompok dengan pandangan berbeda. Mereka bisa jadi menawarkan pendekatan alternatif yang juga layak diuji secara rasional.
  • Pihak yang punya keberatan teknis. Mereka mungkin khawatir soal kualitas produksi atau efisiensi harga—dan itu bisa menjadi masukan, selama tidak dijadikan dalih untuk menolak kemandirian.
  • Stakeholder yang tidak setuju. Mereka memiliki posisi yang sah, tetapi tetap perlu diajak berdialog dengan semangat kebangsaan, bukan dengan ego sektoral.

Penutup: Saatnya Kita Bersatu

Kini saatnya seluruh elemen bangsa bergandeng tangan. Petani, pengusaha lokal, akademisi, birokrasi, hingga masyarakat umum harus menyadari bahwa kemandirian pangan adalah proyek kebangsaan, bukan semata proyek pemerintahan. Ini tentang masa depan anak cucu kita. Tentang harga diri bangsa.

Dan jika ada yang resah karena Indonesia tak lagi mengimpor, maka sejatinya merekalah yang patut dipertanyakan: apakah mereka masih merasa bagian dari bangsa ini?

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Beras Jadi Senjata, Rakyat Jadi Korban: Saatnya Negara Sikat Mafia!

Next Post

Partai Politik: Benteng Borjuis, Bukan Wakil Rakyat

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Sri Lanka: Mengapa Negara ini Dalam Krisis Ekonomi?
Feature

Pelanggaran HAM: Ketika Negara Mengurangi Martabat Manusia

January 25, 2026
Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam
Crime

Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

January 25, 2026
Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah
Economy

Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah

January 25, 2026
Next Post
Partai Politik: Benteng Borjuis, Bukan Wakil Rakyat

Partai Politik: Benteng Borjuis, Bukan Wakil Rakyat

Di Tangan Penyelidik, Nasib Rakyat Bisa Dipermainkan: Ketika Negara Hukum Hanya Ilusi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Stigma NGO oleh Wamenham Bukti Negara Gagal Melindungi, Justru Lakukan Persekusi
News

Stigma NGO oleh Wamenham Bukti Negara Gagal Melindungi, Justru Lakukan Persekusi

by Karyudi Sutajah Putra
January 24, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews -  - Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamenham) Mugiyanto Sipin menyampaikan inisiasi pendanaan untuk Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) atau...

Read more
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

January 21, 2026
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sri Lanka: Mengapa Negara ini Dalam Krisis Ekonomi?

Pelanggaran HAM: Ketika Negara Mengurangi Martabat Manusia

January 25, 2026
Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

January 25, 2026
Termul-Termul Baru: Rusdi Masse, PSI, dan Peta Migrasi Loyalitas Politik

Termul-Termul Baru: Rusdi Masse, PSI, dan Peta Migrasi Loyalitas Politik

January 25, 2026
DESTINASI TRAGIS DI CISARUA: 11 JENAZAH KORBAN LONGSOR DITEMUKAN, 79 WARGA MASIH HILANG

DESTINASI TRAGIS DI CISARUA: 11 JENAZAH KORBAN LONGSOR DITEMUKAN, 79 WARGA MASIH HILANG

January 25, 2026
Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah

Default Growth – Ekonomi Tumbuh 5% – Artinya Tidak Ada Peran Pemerintah

January 25, 2026
PDIP DAN MEGAWATI MENYERET BANGSA INDONESIA KE FREE FIGHT LIBERALISM MELALUI DEMOKRASI PEMILIHAN LANGSUNG

PDIP DAN MEGAWATI MENYERET BANGSA INDONESIA KE FREE FIGHT LIBERALISM MELALUI DEMOKRASI PEMILIHAN LANGSUNG

January 25, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sri Lanka: Mengapa Negara ini Dalam Krisis Ekonomi?

Pelanggaran HAM: Ketika Negara Mengurangi Martabat Manusia

January 25, 2026
Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

Korupsi Moral di Era Keuangan Berlabel Syariah: Ketika Kepercayaan Dijarah dari Dalam

January 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...