• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Partai Politik: Benteng Borjuis, Bukan Wakil Rakyat

Ir. Prihandoyo Kuswanto by Ir. Prihandoyo Kuswanto
July 8, 2025
in Feature, Politik
0
Partai Politik: Benteng Borjuis, Bukan Wakil Rakyat
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Pri Handoyo Kuswanto

Pendahuluan: Kudeta Konstitusi dalam Bungkus Reformasi

Indonesia, negeri yang lahir dari perjuangan rakyat dan semangat kebangsaan, kini berjalan pincang di bawah sistem yang diklaim demokrasi, namun sarat dengan kepentingan elit politik. Sejak amandemen UUD 1945 pascareformasi, bangsa ini perlahan tapi pasti menggeser arah—dari negara kebangsaan yang dicita-citakan Bung Karno menjadi negara demokrasi liberal yang dikendalikan partai politik.

Amandemen konstitusi yang dilakukan oleh MPR tidak sekadar revisi teknis, melainkan sebuah kudeta senyap terhadap dasar negara. Ironisnya, hanya sedikit kaum intelektual, guru besar, atau mahasiswa yang menyadari bahwa bangsa ini telah keluar dari rel sejarahnya. Konstitusi sebagai fondasi negara dirampas oleh segelintir elit—dan rakyat hanya menjadi penonton dalam sistem yang katanya milik mereka.


Dikudeta: Kedaulatan Rakyat Digantikan Partai

Pasal 1 ayat 2 UUD 1945 sebelum amandemen menyebutkan dengan terang: “Kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.” Namun, pasca-amandemen, redaksinya berubah menjadi: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.”

Perubahan itu tampak sederhana, tetapi efeknya luar biasa. Ketiadaan penjelasan siapa pelaksana kedaulatan menurut UUD itu memberi ruang abu-abu. Faktanya, pelaksana kedaulatan itu bukan lagi representasi rakyat dalam makna luas, melainkan dikuasai partai politik. Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dulu mencerminkan konfigurasi bangsa—dari berbagai daerah, golongan, profesi, dan adat istiadat—kini hanya menjadi arena kekuasaan para politisi.

Dengan dihapusnya utusan golongan dan daerah, Indonesia tak lagi menampilkan wajah kebangsaan yang Bhineka Tunggal Ika. Sebaliknya, wajah negara ini kini tunggal dalam wujud kepentingan partai politik—dan partai pun tak lain adalah mesin kepentingan borjuis.


Negara ‘Semua untuk Semua’ Telah Dikudeta

Bung Karno pernah berkata: “Apakah kita hendak mendirikan Indonesia merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan bangsawan?” Ia menjawab sendiri: “Sudah tentu tidak! Kita hendak mendirikan negara semua untuk semua.”

Sayangnya, cita-cita itu kini tinggal slogan. Negara “semua untuk semua” telah dikudeta oleh kekuatan politik yang mewakili satu golongan: pemilik modal, para borjuis. Demokrasi pun dijalankan dengan logika transaksional—diukur dengan uang, bukan kapasitas. Maka muncul istilah populer: “NPWP – Nomor Piro Wani Piro.” Siapa punya uang, dia bisa mencalonkan diri. Tak perlu punya gagasan, apalagi rekam jejak—cukup dengan kocek tebal, demokrasi bisa dibeli.

Kita hidup dalam sistem yang memungkinkan orang membeli ijazah, membeli suara, bahkan membeli jabatan. Bukan intelektualitas, melainkan modal finansial yang menjadi tolok ukur. Kuliah bisa beli, ijazah bisa pesan. Presiden bisa jadi tanpa perlu membuktikan ijazah asli.


Demokrasi Palsu, Pancasila Ditinggalkan

Para intelektual saat ini sibuk membahas dampak dari semua ini, tetapi tak pernah menyentuh akar persoalan. Mereka menggugat ijazah presiden, tetapi lupa bertanya: mengapa bisa sistem membiarkan hal seperti ini terjadi? Inilah demokrasi pasca-kebenaran (post-truth democracy)—demokrasi yang menggantikan Pancasila dengan akal-akalan partai.

Lembaga-lembaga tinggi negara kini diisi oleh orang-orang yang bisa membeli kekuasaan. Maka jangan heran jika korupsi tak lagi dalam hitungan miliar, tapi triliun—bahkan kini memasuki kuadran triliun. Kekayaan negara dikapling oleh investor asing dan aseng. Tambang emas, nikel, bahkan hutan—semua jadi komoditas. Rakyat tak kebagian apa-apa.

Prabowo sendiri pernah menyebut bahwa 80 persen tanah di Indonesia dikuasai asing, dan hanya 1 persen rakyat Indonesia yang menguasai sebagian besar kekayaan. Tapi pernyataan itu kini menguap, digantikan kompromi dan koalisi politik demi kursi.


Kemiskinan Struktural: Sistem yang Memiskinkan

Bank Dunia dalam datanya mencatat bahwa dengan standar negara berpendapatan menengah atas (US$ 8,30 per hari, 2021 PPP), sebanyak 68,3 persen rakyat Indonesia masuk kategori miskin. Itu artinya, 194,72 juta jiwa hidup di bawah garis kemiskinan. Padahal Indonesia diklaim sebagai negara berpendapatan menengah atas. Apakah ini kemiskinan? Bukan. Ini pemiskinan—dan sistemlah biang keroknya.

Bung Karno pernah mengingatkan: “Bangsa ini tidak bodoh, dan tidak miskin. Tapi dimiskinkan oleh sistem!” Hari ini, peringatan itu terbukti. Kekuasaan tak lagi memikirkan rakyat. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana merangkap jabatan, menjadi menteri sekaligus komisaris, untuk mengeruk kekayaan negeri.


Kesimpulan: Rakyat Harus Mengambil Alih Kedaulatan

Negara ini tidak akan berubah jika rakyat hanya menjadi penonton. Kita telah membiarkan partai politik menculik konstitusi, menjarah demokrasi, dan menguasai sistem. Maka, satu-satunya jalan adalah merebut kembali kedaulatan itu—dengan kembali ke cita-cita asli bangsa: UUD 1945 yang asli dan Pancasila sebagai dasar bernegara.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Kita hanya kekurangan keberanian untuk melawan sistem yang membajak republik ini. Dan perjuangan itu tidak datang dari partai politik, tapi dari rakyat yang sadar akan hak dan martabatnya.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mereka yang Ketakutan Indonesia Tak Lagi Mengimpor

Next Post

Di Tangan Penyelidik, Nasib Rakyat Bisa Dipermainkan: Ketika Negara Hukum Hanya Ilusi

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Related Posts

Simalakama Teddy Wijaya
Feature

Simalakama Teddy Wijaya

May 3, 2026
Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah
Feature

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026
Feature

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Next Post

Di Tangan Penyelidik, Nasib Rakyat Bisa Dipermainkan: Ketika Negara Hukum Hanya Ilusi

Memohon Panjang Umur Prabowo: Ironi di Tepi Jurang

Memohon Panjang Umur Prabowo: Ironi di Tepi Jurang

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Simalakama Teddy Wijaya
Feature

Simalakama Teddy Wijaya

by Karyudi Sutajah Putra
May 3, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta – Bukan Amien Rais namanya jika memilih diam....

Read more
Vitamin Demokrasi yang Mendadak Dilarang Konsumsi

Teddy, Gay, dan Luth

May 2, 2026
Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

May 2, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Simalakama Teddy Wijaya

Simalakama Teddy Wijaya

May 3, 2026
Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

May 3, 2026
Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

May 3, 2026
Bobby Kertanegara: Simbol Transformasi Prabowo dari Kerasnya Medan Perang ke Kasih Sayang

Prabowo: Kritik Tak Digubris – Penderitaan Bangsa Lain Direduksi

May 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Simalakama Teddy Wijaya

Simalakama Teddy Wijaya

May 3, 2026
Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...