Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah mundur dari jabatan Utusan Khusus Presiden, tetap kena hujatan pula.
Itulah yang dialami Muhammad Miftah Maulana Habiburrahman yang sebelumnya populer dengan sebutan Gus Miftah, Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, DI Yogyakarta.
Kang Miftah, sebutannya kini, juga telah membuktikan kebenaran peribahasa “mulutmu harimaumu mengerkah kepalamu”.
Gegara tak mampu mengendalikan mulut yang ibarat harimau, kini mulut yang bak harimau itu seperti mengerkah kepala Kang Miftah sendiri sampai hancur sehancur-hancurnya. Ia kini jatuh ke titik nadir, dan terus saja dirujak Netizen +62 yang terkenal sadisnya.
Musababnya, dai berambut panjang itu mengolok-olok seorang penjual es teh keliling yang kemudian diketahui bernama Sunhaji (37), warga Grabag, Magelang, Jawa Tengah, dengan diksi atau kata, maaf, “goblok”, saat menjadi penceramah dalam acara Magelang Bersholawat baru-baru ini.
Atau mungkin saja Kang Miftah kualat atau terkena kutukan karena pada saat mengisi pengajian bertajuk “Magelang Bersholawat” yang suci dan sakral, justru ia melontarkan kata-kata kotor. Seperti kain putih terkena noda hitam.
Kang Miftah pun dikuliti. Klaim-klaimnya yang selama ini dibiarkan, kini mulai ramai dibantah.
Klaimnya bahwa ia masih keturunan Kiai Hasan Besari atau Kiai Ageng Muhammad Besari, kiai besar asal Ponorogo, Jawa Timur, sehingga dipanggil Gus, pun dibantah. Bahkan oleh keluarganya sendiri, Nur Syahid yang masih satu buyut dengan ayah Kang Miftah, yakni Murodi alias Turut.
Bantahan senada juga datang dari keluarga Kiai Hasan Besari, yakni Raden Kunto Pramono, generasi ke-8 dari Kiai Hasan Besari yang menyebut nama Miftah tidak ada dalam silsilah Kiai Hasan Besari.
Murodi, ayah Miftah, bahkan disebut hanya seorang petani yang karena alasan ekonomi lalu bertransmigrasi ke Lampung.
Klaim Kang Miftah bahwa dirinya keturunan Brawijaya, Raja Majapahit juga dibantah arkeolog sekaligus peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Ruwat
Ruwat dalam keratabasa Jawa dapat diartikan “kudu bisa luru lan bisa ngrawat” yang bermakna harus bisa mencari dan merawat. Ruwat pun kerap disepadankan dengan rawat. Meruwat berarti merawat
Dikutip dari Wikipedia, Kamis (12/12/2024), ruwat adalah salah satu upacara dalam kebudayaan Jawa yang ditujukan untuk membuang keburukan (kesialan) atau menyelamatkan sesuatu dari sebuah gangguan.
Seseorang atau sesuatu yang telah diruwat diharapkan mendapat keselamatan, kesehatan, dan ketenteraman kembali.
Gangguan dalam hal ini dapat berupa banyak hal, seperti nasib buruk, terkena ilmu hitam (sihir), atau makhluk gaib.
Biasanya yang melakukan ruwat adalah dalang linuwih atau mempunyai kemampuan ilmu tertentu, dan dilaksanakan bersanaan dengan pertunjukan wayang.
Ruwat dalam tradisi Jawa barangkali dapat dianalogikan dengan “ruqyah” dalam tradisi Islam.
Dikutip dari sebuah sumber, ruqyah secara bahasa berasal dari bahasa Arab, dari kata raqiya-yarqā-ruqyān wa ruqyatan, yang bermakna berlindung.
Ibnu al-Aṡir mengatakan ruqyah adalah memohon perlindungan kepada Allah SWT dari segala macam penyakit seperti demam, shara’ dan penyakit-penyakit lainnya.
Ruqyah syar’iyyah merupakan sebuah teknik terapi penyembuhan dengan cara membacakan ayat-ayat Al Quran dan doa-doa yang mutabaroh untuk pasien/orang yang diruqyah, sesuai dengan ketentuan-ketentuan Al Quran dan Hadits, sebagaimana dicontohkan pada masa Rasulullah Muhammad SAW.
Untuk mengembalikan hatkat dan martabatnya ke “maqom” semula, barangkali Kang Miftah perlu diruwat atau diruqyah, terserah pilih yang mana, mau ikut tradisi Jawa ataukah tradisi Islam.
Ruwat bagi Kang Miftah barangkali bisa dilakukan dengan memotong rambutnya yang panjang. Ini seperti ruwat pada bocah “sukerta” yang mengalami nasib buruk seperti sakit-sakitan, sering kena sial dan sebagainya.
Adapun ruwat untuk pondok Kang Miftah barangkali bisa dilakukan dengan mengubah namanya dari Pondok Ora Aji menjadi Pondok Aji. Ini untuk melakukan “rebranding’ atau mengubah citra.
Ora Aji sendiri berarti tidak berharga. Mungkin maksud Kang Miftah memberi nama tersebut untuk ” tawaduk” atau merendahkan diri, dengan semboyan, “merendahkan diri menaikkan nilai”.
Dengan berganti nama menjadi Pondok Aji, barangkali pesantren tersebut akan kembali dihargai pasca-Kang Miftah keseleo lidah.
Lalu, apa arti sebuah nama, kata William Shakespeare, pujangga terbesar Inggris.
Namun bagi kalangan Muslim, nama adalah doa, walaupun tak ada jaminan seseorang yang bernama baik akan baik pula perangai dan perilakunya. Tapi setidaknya orangtua berharap perilaku anaknya akan sesuai dengan nama yang disandangnya.
Apakah ruwat dan ruqyah akan mengangkat kembali harkat dan martabat Kang Miftah? Wallahu a’lam.
Yang penting adalah usaha, meskipun diyakini keterpurukan Kang Miftah akan cukup lama, seperti KH Abdullah Gymnastiar. Gegara poligami, dai yang akrab disapa Aa Gym ini ditinggalkan jemaahnya yang mencapai ribuan. Ceramah-ceramahnya pun kini sepi pengunjung.
Begitu pun Kang Miftah. Dalam waktu cukup panjang, ia diyakini tak akan mudah mendapat job ceramah. Padahal sekali ceramah konon ia mengantongi honor atau bisaroh minimal Rp75 juta.
Akan tetapi, di sisi lain sepinya job ceramah Kang Miftah mestinya dijadikan momentum untuk bermuhasabah, introspeksi atau mawas diri.
Biarkan publik menghujat sampeyan, karena itu akan mengurangi dosa-dosa. Kalau dosa-dosa sampeyan sudah habis di dunia, niscaya di akhirat akan ringan. Siksa sampean di akhirat juga sudah dibayarkan di dunia ini melalui hujatan-hujatan orang lain.
Apalagi sampean sudah minta maaf, baik kepada Sunhaji pribadi maupun secara terbuka kepada publik.
Seperti kotak Pandora, biarkan segala keburukan yang ada di diri sampean berhamburan keluar, sehingga yang tersisa terakhir nanti tinggal harapan.
Dengan branding baru, ayolah bangkit Kang Miftah. Terpuruk boleh, tapi jangan berlama-lama. Karena manusia memang tempatnya salah dan lupa.
Manusia memang makhluk paling sempurna. Tapi tak ada manusia yang sempurna. Itulah!






















