• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Negara Katanya Sehat, Tapi Mengapa Terlihat Sesak Napas?

Ali Syarief by Ali Syarief
April 25, 2026
in Economy, Feature
0
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi
Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah lanskap ekonomi global yang diliputi ketidakpastian—perang, inflasi, dan perlambatan ekonomi dunia—Indonesia menghadirkan dua wajah yang tampak saling bertolak belakang. Di satu sisi, muncul narasi yang menyebut kas negara tinggal Rp120 triliun, seolah negara berada di ujung tanduk fiskal. Namun di sisi lain, pemerintah dengan percaya diri menyatakan APBN tetap sehat, cukup, bahkan mampu menjadi bantalan menghadapi krisis.

Kontradiksi ini bukan sekadar soal angka. Ia adalah persoalan persepsi, transparansi, dan kepercayaan publik.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah keras isu bahwa kas negara hanya tersisa Rp120 triliun. Angka itu, menurutnya, hanyalah sebagian dari Saldo Anggaran Lebih (SAL), bukan keseluruhan kemampuan fiskal negara. Faktanya, total SAL disebut mencapai sekitar Rp420 triliun, dengan sebagian ditempatkan untuk menjaga likuiditas perbankan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Lebih jauh, pemerintah juga mengklaim bahwa kinerja APBN masih solid: pendapatan negara tumbuh, defisit terjaga di bawah 1% terhadap PDB, dan fiskal tetap menjadi “shock absorber” di tengah tekanan global.

Namun di sinilah letak persoalannya.

Jika APBN benar-benar sehat, mengapa narasi “uang tinggal Rp120 triliun” bisa begitu mudah dipercaya publik? Mengapa persepsi krisis justru tumbuh di tengah klaim stabilitas?

Jawabannya mungkin terletak pada jurang antara angka makro dan realitas mikro.


Di atas kertas, angka-angka fiskal memang terlihat rapi. Defisit terkendali, pendapatan naik, dan kas negara masih tersedia. Namun dalam praktik, negara tampak agresif mengalirkan likuiditas ke sektor perbankan—ratusan triliun rupiah ditempatkan sebagai stimulus. Kebijakan ini bisa dibaca sebagai langkah strategis untuk mendorong ekonomi, tetapi juga bisa dimaknai sebagai sinyal bahwa mesin ekonomi tidak bergerak secara alami.

Artinya, negara harus “menyuntikkan napas”.

Di titik ini, APBN tidak lagi sekadar alat stabilisasi, tetapi menjadi penopang utama kehidupan ekonomi. Ketika negara harus terus hadir untuk menjaga likuiditas, muncul pertanyaan mendasar: apakah fundamental ekonomi benar-benar kuat, atau hanya tampak stabil karena ditopang intervensi fiskal?


Kontradiksi ini semakin terasa jika dikaitkan dengan konteks global. Dunia sedang menghadapi tekanan berat: suku bunga tinggi, konflik geopolitik, dan perlambatan perdagangan. Dalam situasi seperti ini, negara dengan fiskal sehat seharusnya memiliki ruang gerak luas tanpa perlu melakukan manuver besar.

Namun ketika negara justru aktif menggelontorkan dana cadangan, publik membaca situasi secara berbeda: bukan sebagai kekuatan, melainkan sebagai tanda kewaspadaan—bahkan mungkin kekhawatiran.

Di sinilah komunikasi fiskal menjadi krusial.

Pemerintah berbicara dalam bahasa teknokratis: SAL, defisit, likuiditas, intermediasi perbankan. Sementara publik membaca realitas dengan bahasa sederhana: harga naik, pekerjaan sulit, dan daya beli tertekan. Ketika dua bahasa ini tidak bertemu, yang lahir adalah mistrust.


Lebih jauh lagi, polemik ini menunjukkan satu hal penting: bahwa kesehatan APBN tidak cukup diukur dari angka, tetapi dari persepsi publik terhadap angka tersebut.

APBN bisa saja “sehat” menurut indikator formal. Namun jika masyarakat merasakan tekanan ekonomi, maka klaim kesehatan itu kehilangan legitimasi sosialnya.

Sebaliknya, isu “uang tinggal Rp120 triliun” mungkin secara teknis keliru, tetapi secara psikologis ia menemukan momentumnya—karena publik sudah lebih dulu merasa bahwa negara sedang tidak baik-baik saja.


Pada akhirnya, kontroversi ini bukan sekadar soal Rp120 triliun atau Rp420 triliun. Ia adalah refleksi dari problem yang lebih dalam: ketidaksinkronan antara narasi resmi dan pengalaman nyata masyarakat.

Negara mengatakan: “uang kita masih banyak.”
Namun rakyat bertanya: “kalau begitu, mengapa hidup terasa semakin sempit?”

Di situlah krisis sesungguhnya bermula—bukan pada angka APBN, melainkan pada kepercayaan.

Dan dalam ekonomi, kepercayaan seringkali lebih mahal daripada triliunan rupiah.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sahroni Desak Hukuman Berat untuk Syekh Ahmad Al Misry jika Terbukti Lecehkan Santri

Next Post

Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Next Post
Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

Rakyat Didenda, Aparat Korupsi Dimanja: Ketika Keadilan Kehilangan Makna

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Mengapa Anak Sulung Lebih Cerdas: Ketika Kuman Mengalahkan Stereotip

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026
Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

Bandung Gelap, Warga Resah: Jalan Minim Penerangan Diduga Memicu Maraknya Aksi Begal

July 28, 2026

Mundurnya Gubernur Bank Indonesia

July 28, 2026
Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

Prestasi Berawal dari Disiplin, UPT SMAS Datuk Ribandang Gembleng Karakter Siswa Baru

July 28, 2026
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

Reaktivasi Bandara Husein Dipercepat, Bandung Bersiap Kembali Jadi Gerbang Penerbangan Domestik dan Internasional

July 29, 2026
Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

Gempa 7,1 Magnitudo Guncang Kumamoto, Jepang: Puluhan Korban Terjebak, Operasi Penyelamatan Berlangsung

July 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...